PELALAWAN, FOKUSRIAU.COM-Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau terus dilakukan secara intensif. Pemerintah Provinsi Riau menambah kekuatan dengan mengerahkan alat berat, untuk membuat parit gajah sekaligus memperkuat pemadaman melalui jalur darat dan udara.
Enam unit alat berat saat ini telah berada di lokasi kebakaran. Dalam waktu dekat, sebanyak 15 unit tambahan direncanakan dikerahkan sehingga total dukungan alat berat mencapai 21 unit.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edy Afrizal mengatakan, alat berat digunakan untuk membuat parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar. “Untuk memblokir api,” kata Edy, Minggu (23/8/2026).
Dikatakan, pembangunan parit gajah menjadi salah satu langkah penting untuk menghambat pergerakan api. Parit tersebut juga diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air di tengah sulitnya menemukan titik air di kawasan kebakaran.
“Tujuanya untuk mempercepat pembuatan parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar,” ujar Edy.
Kondisi di lapangan membuat penanganan karhutla Kerumutan tidak mudah. Angin kencang menyebabkan kobaran api cepat menyebar, sementara vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan yang masih rapat membuat api lebih sulit dikendalikan.
Persoalan lain adalah keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran. Titik api berada sekitar 500 meter dari akses yang masih dapat dilalui kendaraan, sehingga petugas harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” ujar Edy.
Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak hanya mengandalkan personel. Penambahan alat berat dibutuhkan agar petugas dapat membangun sekat untuk menghambat rambatan api, terutama di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan.
Karhutla di kawasan Kerumutan juga menghadapi persoalan karakteristik lahan gambut yang mengering. Dalam kondisi seperti ini, api dapat menjalar tidak hanya di permukaan, tetapi juga masuk ke lapisan bawah gambut.
Kondisi itu membuat titik yang terlihat padam dari udara belum tentu sepenuhnya aman. Bara api masih dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.
“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” urainya.
Karena itu, operasi udara melalui water bombing lebih diarahkan untuk menekan kobaran dan memblokir bagian kepala api. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemadaman dari darat yang dilakukan tim gabungan.
Hari ini, empat helikopter water bombing dikerahkan ke kawasan Kerumutan. Pesawat tersebut digunakan untuk menjatuhkan air ke sejumlah titik kebakaran yang dinilai membutuhkan penanganan dari udara.
Namun, operasi udara tetap menghadapi tantangan. Angin kencang dapat memengaruhi efektivitas jatuhan air, sementara api yang berada di bawah permukaan gambut tidak selalu dapat dipastikan padam hanya dengan penyiraman dari udara.
“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkap Edy.
Tambah Jumlah Personel
Penguatan penanganan karhutla Kerumutan sebelumnya juga dilakukan melalui penambahan personel gabungan. BPBD dan Damkar Riau telah mengirimkan personel untuk memperkuat tim yang lebih dahulu berada di lokasi.
Manggala Agni turut mengerahkan beberapa regu dari Daerah Operasi Rengat dan Daerah Operasi Siak. Dukungan juga datang dari Polda Riau dan Kodam untuk memperkuat operasi pemadaman di lapangan.
Seluruh personel tersebut bergabung dengan tim yang sebelumnya sudah melakukan pemadaman. Unsur yang terlibat meliputi TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya.
Penambahan kekuatan tersebut menjadi penting karena pemadaman karhutla di kawasan gambut membutuhkan penanganan berlapis. Api harus ditekan dari permukaan, pergerakannya diblokir, sekaligus dipastikan tidak kembali menyala dari bawah permukaan tanah.
Kondisi karhutla Kerumutan juga menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada di wilayah dengan akses yang tidak mudah. Ketika kendaraan tidak dapat mencapai titik api, mobilisasi personel, peralatan dan kebutuhan pemadaman menjadi lebih sulit.
Dengan tambahan alat berat, personel gabungan dan dukungan empat helikopter water bombing, operasi pemadaman kini diarahkan untuk mempercepat pengendalian api. Pembuatan parit gajah diharapkan dapat mempersempit ruang gerak kobaran sekaligus membantu mengatasi keterbatasan sumber air di lapangan. (mcr)






