Hujan Guyur Riau Karhutla Padam, BPBD Sementara Hentikan Operasi Modifikasi Cuaca

Pelaksanaan modifikasi cuaca di Riau sementara dihentikan. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Intensitas hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Riau sejakbeberapa hari terakhir mulai membawa dampak positif terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sejumlah titik api yang sebelumnya muncul kini telah padam.

Kondisi itu sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk menghentikan sementara Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sebelumnya digencarkan, guna menekan potensi kebakaran selama musim kemarau.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal mengatakan, situasi karhutla di daerah tersebut saat ini relatif terkendali.

Beberapa wilayah yang sempat menjadi perhatian, seperti Kabupaten Rokan Hilir dan Pelalawan, sudah tidak lagi ditemukan kebakaran aktif.

“Untuk karhutla kini sudah nihil. Beberapa daerah yang sebelumnya sempat terbakar kini sudah padam. Faktor hujan cukup membantu proses pemadaman,” kata Edy kepada wartawan di Pekanbaru, Rabu siang.

Menurutnya, pemadaman sebelumnya dilakukan secara terpadu melalui jalur darat dan dukungan udara. Namun, turunnya hujan dengan intensitas cukup merata menjadi faktor penting yang mempercepat pendinginan lahan terbakar.

Situasi ini dinilai cukup melegakan. Sebab dalam beberapa pekan terakhir, ancaman Karhutla sempat memicu kekhawatiran masyarakat, terutama di wilayah rawan gambut yang mudah terbakar saat cuaca panas berlangsung lama.

Di sisi lain, hujan yang terus turun juga membuat pemerintah mengambil langkah antisipatif baru. BPBD bersama pihak terkait memutuskan menghentikan sementara pelaksanaan OMC agar curah hujan tidak berlebihan dan memicu risiko bencana lain.

“OMC dihentikan sementara karena curah hujan sudah cukup tinggi. Kalau terus dilakukan, ada kekhawatiran justru memicu banjir di sejumlah daerah,” ujarnya.

BPBD mencatat, selama pelaksanaan OMC di Riau, total sekitar 64 ton garam telah disemai ke awan untuk merangsang hujan buatan. Langkah itu sebelumnya dilakukan sebagai strategi percepatan penanganan Karhutla dan menjaga kelembapan lahan.

Meski begitu, penghentian OMC belum bersifat permanen. Pemerintah pusat masih melakukan evaluasi terhadap perkembangan cuaca di Riau dalam beberapa hari ke depan.

Edy menjelaskan, pesawat yang digunakan untuk operasi tersebut masih disiagakan di Riau sambil menunggu keputusan lanjutan dari pemerintah pusat.

“Pesawat OMC masih standby di Riau. Selain untuk operasi modifikasi cuaca, armada itu juga bisa digunakan untuk patroli pemantauan Karhutla,” ulasnya.

Keberadaan armada udara tersebut dianggap penting mengingat kondisi cuaca di Riau masih dinamis. Dalam pengalaman beberapa tahun terakhir, Karhutla dapat kembali muncul ketika intensitas hujan menurun drastis dan suhu udara meningkat.

Riau sendiri termasuk salah satu provinsi yang kerap menghadapi ancaman kebakaran lahan setiap musim kemarau. Selain merusak lingkungan, Karhutla juga berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi akibat kabut asap.

Karena itu, pemerintah daerah tetap meminta seluruh BPBD kabupaten dan kota untuk tidak lengah meski kondisi terkini dinilai lebih aman.

Sementara itu, hujan yang turun hampir merata juga mulai meningkatkan debit air di sejumlah sungai. Namun hingga kini, BPBD Riau mengaku belum menerima laporan adanya wilayah yang terdampak banjir.

“Belum ada laporan banjir. Memang ada beberapa sungai yang debit airnya naik, tetapi masih dalam kondisi aman,” kata Edy.

Meski demikian, pemerintah daerah meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di daerah yang selama ini rawan genangan dan banjir musiman.

BPBD kabupaten/kota juga diminta terus memantau perkembangan kondisi lapangan dan segera melaporkan apabila ditemukan potensi kedaruratan.

“Kami minta daerah tetap siaga. Jika ada kondisi yang membutuhkan bantuan penanganan, segera laporkan ke BPBD Riau,” imbaunya.

Perubahan cuaca yang terjadi di Riau belakangan ini menjadi pengingat bahwa ancaman bencana dapat bergeser dengan cepat. Ketika Karhutla mulai mereda, risiko hidrometeorologi seperti banjir justru perlu diantisipasi sejak dini.

Pemerintah berharap koordinasi lintas instansi dan kesiapsiagaan masyarakat tetap berjalan agar Riau dapat melewati masa transisi cuaca tanpa menimbulkan bencana baru. (mcr)

Tinggalkan Balasan