Karhutla di Riau Nihil, BPBD Minta Daerah Tetap Siaga Hadapi Potensi Banjir

Kebakaran hutan dan lahan di Riau telah berhasil dipadamkan. (Foto: Dok Pemdes Pulau Muda)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Intensitas hujan yang kembali meningkat sejak beberapa hari terakhir, membawa kabar baik bagi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau. Titik api yang sebelumnya muncul di sejumlah wilayah, kini dilaporkan padam.

Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, tetap meminta seluruh daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan kenaikan debit sungai.

Kepala BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal mengatakan, pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk memantau perkembangan cuaca serta kondisi kebencanaan di lapangan. Langkah itu dinilai penting, karena cuaca di Riau mulai berubah cukup cepat dalam sepekan terakhir.

Menurut Edy, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi hampir merata di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut turut membantu proses pemadaman lahan yang sebelumnya terbakar di Kabupaten Rokan Hilir dan Pelalawan.

“Untuk Karhutla saat ini nihil. Beberapa wilayah yang sebelumnya sempat ada kebakaran sudah padam. Curah hujan belakangan cukup merata di Riau,” ujar Edy, Minggu (17/5/2026).

Sebelumnya, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni hingga masyarakat peduli api sempat berjibaku memadamkan kebakaran lahan di sejumlah titik. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan dukungan udara untuk mempercepat pendinginan area terbakar.

Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor penting yang membantu proses pemadaman. Selain menekan potensi meluasnya api, kondisi tersebut juga membuat kualitas udara di sejumlah daerah kembali membaik.

Meski situasi Karhutla mulai terkendali, BPBD Riau tidak ingin lengah. Perubahan cuaca ekstrem disebut tetap berpotensi memicu bencana lain, terutama di wilayah yang memiliki daerah aliran sungai besar.

Edy menyebut, sejauh ini belum ada laporan banjir yang masuk ke BPBD Riau. Namun, pihaknya menerima informasi adanya kenaikan permukaan air sungai di beberapa daerah, meski masih dalam batas aman.

“Belum ada laporan banjir. Namun kemungkinan ada kenaikan debit air sungai akibat hujan. Karena itu kami meminta seluruh daerah tetap waspada,” katanya.

Salah satu wilayah yang sempat mengalami kenaikan debit air adalah Kabupaten Kuantan Singingi. Sungai Kuantan dilaporkan sempat naik akibat hujan deras yang mengguyur kawasan hulu. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan kini mulai normal kembali.

“Sungai Kuantan sempat naik permukaan airnya, tapi sekarang sudah kembali normal,” jelas Edy.

Situasi ini menjadi perhatian karena pola cuaca di Riau dalam beberapa tahun terakhir cenderung tidak menentu. Pada satu sisi, hujan membantu mengurangi ancaman Karhutla. Namun di sisi lain, curah hujan tinggi juga bisa memicu genangan hingga banjir di daerah rawan.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga memperkirakan sebagian wilayah Riau masih berpotensi diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi itu dipengaruhi aktivitas pertumbuhan awan hujan yang meningkat di wilayah Sumatera bagian tengah.

Karena itu, BPBD Riau meminta pemerintah daerah tidak menurunkan kesiapsiagaan meski titik api sudah menurun. Koordinasi lintas instansi disebut menjadi kunci untuk mempercepat penanganan apabila terjadi bencana mendadak.

Selain pemerintah, masyarakat juga diminta ikut berperan aktif dengan melaporkan kondisi darurat di lingkungan masing-masing. Langkah cepat dinilai penting agar penanganan bisa dilakukan sebelum dampak meluas.

“Kami minta kabupaten dan kota tetap siaga. Jika ada kondisi yang membutuhkan bantuan segera, bisa langsung berkoordinasi dengan BPBD Riau,” tegasnya.

Perubahan cuaca yang terjadi saat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Riau masih berada dalam wilayah rawan bencana ekologis. Karhutla dan banjir kerap muncul bergantian ketika terjadi perubahan musim ekstrem.

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan kebakaran lahan di Riau menjadi perhatian nasional karena dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Asap akibat Karhutla bahkan kerap mengganggu aktivitas penerbangan dan pendidikan ketika memasuki musim kemarau panjang.

Karena itu, turunnya hujan kali ini dianggap memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi sebelum memasuki puncak musim kering berikutnya.

Di tengah kondisi cuaca yang masih dinamis, BPBD Riau menegaskan bahwa kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah diminta tidak hanya fokus pada Karhutla, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan banjir, longsor dan pohon tumbang akibat hujan serta angin kencang.

Dengan situasi Karhutla yang kini nihil, perhatian pemerintah bergeser pada upaya menjaga stabilitas kondisi wilayah agar masyarakat tetap aman menghadapi perubahan cuaca di Riau. (mcr)

Tinggalkan Balasan