Puasa Zulhijah Tak Harus 9 Hari Penuh, Ini Penjelasan dan Keutamaan Bagi Umat Islam

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Memasuki awal bulan Zulhijah, suasana religius mulai terasa di berbagai daerah, termasuk di Pekanbaru. Masjid dan musala ramai membahas amalan sunnah menjelang Idul Adha. Salah satu yang paling banyak ditanyakan umat Islam ialah soal puasa Zulhijah, terutama apakah puasa tersebut wajib dilakukan sembilan hari penuh secara berurutan.

Pertanyaan itu muncul karena tidak semua orang mampu menjalankan puasa sejak 1 Zulhijah hingga 9 Zulhijah. Ada yang terkendala pekerjaan, kondisi kesehatan, maupun aktivitas harian. Namun, para ulama menegaskan bahwa puasa Zulhijah merupakan ibadah sunnah yang fleksibel dan tetap bernilai pahala meski dilakukan tidak penuh.

Dalam sejumlah kajian keislaman, puasa Zulhijah disebut sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Momentum ini bahkan disebut Rasulullah SAW sebagai hari-hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh.

Puasa sunnah ini dilaksanakan sejak 1 hingga 9 Zulhijah. Sementara pada 10 Zulhijah, umat Islam dilarang berpuasa karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Dalam buku Rahasia dan Keutamaan Puasa Sunah karya Abdul Wahid dijelaskan, puasa Zulhijah tidak memiliki kewajiban mutlak untuk dijalankan penuh selama sembilan hari. Umat Islam diperbolehkan memilih hari tertentu sesuai kemampuan masing-masing.

Artinya, seseorang tetap bisa memperoleh keutamaan puasa sunnah meski hanya menjalankan Puasa Arafah pada 9 Zulhijah atau Puasa Tarwiyah pada 8 Zulhijah. Hal itu karena inti dari ibadah sunnah adalah mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuan.

Di Pekanbaru sendiri, tradisi menjalankan puasa Zulhijah cukup kuat. Banyak masyarakat memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan ibadah sebelum Idul Adha tiba. Tidak sedikit pula yang mulai mengurangi aktivitas konsumtif dan memperbanyak sedekah selama awal Zulhijah.

Fenomena tersebut terlihat di sejumlah masjid besar yang mulai dipenuhi jamaah kajian usai salat Magrib. Pembahasan mengenai keutamaan puasa sunnah hingga persiapan kurban menjadi topik yang paling banyak diminati masyarakat.

Selain memiliki nilai spiritual tinggi, puasa Zulhijah juga menjadi momentum memperkuat kedisiplinan dan pengendalian diri. Dalam konteks sosial, amalan ini dinilai mampu menumbuhkan empati kepada sesama, terutama menjelang hari raya kurban.

Untuk tata caranya, puasa Zulhijah dilakukan sebagaimana puasa sunnah pada umumnya. Umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.

Hal-hal yang membatalkan puasa Zulhijah juga sama seperti puasa wajib Ramadan. Namun, karena statusnya sunnah, seseorang yang batal berpuasa tidak memiliki kewajiban mengganti di hari lain.

Salah satu puasa yang paling utama pada bulan Zulhijah ialah Puasa Arafah pada 9 Zulhijah. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut puasa tersebut memiliki keutamaan besar, yakni menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku berharap kepada Allah agar puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR Muslim).

Sementara itu, keutamaan amal pada sepuluh hari pertama Zulhijah juga dijelaskan dalam hadis lain. Rasulullah SAW menyebut tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk melakukan amal saleh dibanding hari-hari awal Zulhijah.

Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Bahkan, para sahabat sempat bertanya apakah amalan tersebut lebih utama dibanding jihad di jalan Allah. Rasulullah SAW menjawab bahwa amal pada hari-hari itu sangat istimewa, kecuali jihad seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali.

Keutamaan tersebut membuat banyak umat Islam berlomba meningkatkan ibadah selama awal Zulhijah. Tidak hanya puasa, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperkuat hubungan sosial.

Berikut bacaan niat puasa sunnah Zulhijah yang umum diamalkan umat Islam:

Niat Puasa Zulhijah 1-7 Zulhijah
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُوالْحِجَّةٌ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi ta’aala.

Artinya: “Aku berniat puasa bulan Zulhijah, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Tarwiyah (8 Zulhijah)
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyatin sunnatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku berniat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Arafah (9 Zulhijah)
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aala.

Artinya: “Aku berniat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Di tengah rutinitas modern yang semakin padat, puasa Zulhijah menjadi pengingat penting bahwa ibadah tidak selalu diukur dari banyaknya amalan, tetapi dari kesungguhan hati menjalaninya. Karena itu, meski tidak mampu berpuasa sembilan hari penuh, umat Islam tetap dianjurkan mengambil bagian dalam kemuliaan awal Zulhijah sesuai kemampuan masing-masing. (dtc)

Tinggalkan Balasan