Tim Gabungan Bakar Belasan Rakit PETI di Sungai Kuantan, Air Keruh dan Ancam Lingkungan

Operasi penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Pulau Busuk, Kecamatan Inuman, Kuansing, Selasa (2/6/2026) siang. (Foto: Istimewa)

KUANSING, FOKUSRIAU.COM-Tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Satpol PP, BPBD dan pihak kecamatan membakar belasan rakit Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di aliran Sungai Kuantan, Selasa (2/6/2026). Penertiban dilakukan menjelang festival pacu jalur, sekaligus untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang semakin mengancam kualitas air sungai.

Razia dipimpin Kapolres Kuantan Singingi, AKBP Hidayat Perdana dan menyasar sejumlah titik aktivitas PETI di Desa Pulau Busuk, Kecamatan Inuman. Aparat menyusuri Sungai Kuantan menggunakan empat unit boat untuk menjangkau lokasi tambang emas ilegal yang masih beroperasi.

Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan penindakan terhadap rakit-rakit PETI yang ditemukan. Mesin dompeng dirusak menggunakan palu godam, sementara rakit berbahan kayu dibakar agar tidak dapat digunakan kembali.

Menurut AKBP Hidayat Perdana, langkah tersebut merupakan upaya nyata membersihkan Sungai Kuantan dari aktivitas penambangan ilegal yang selama ini menjadi sumber pencemaran.

“Penertiban rakit PETI ini dilakukan untuk membersihkan Sungai Kuantan dari aktivitas yang merusak lingkungan. Terlebih tidak lama lagi akan digelar Festival Pacu Jalur, sementara air Sungai Kuantan saat ini sangat keruh,” ujarnya.

Aktivitas PETI di sepanjang Sungai Kuantan tidak hanya merusak ekosistem sungai, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Baca Juga:  Alarm Karhutla di Riau! Hotspot Melonjak Jadi 35 Titik, Rokan Hilir Paling Rawan

Pada musim kemarau, sebagian warga masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Kekeruhan air akibat aktivitas tambang emas ilegal membuat kualitas air menurun dan meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.

Selain merusak habitat perairan, aktivitas pengerukan sungai secara terus-menerus berpotensi mempercepat sedimentasi dan mengganggu keseimbangan aliran sungai. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Pacu Jalur dan Citra Pariwisata Kuansing
Penertiban PETI menjadi semakin penting karena Sungai Kuantan merupakan arena utama pelaksanaan Festival Pacu Jalur, agenda budaya terbesar di Kabupaten Kuantan Singingi yang setiap tahun menarik perhatian wisatawan dan masyarakat dari berbagai daerah.

Kondisi sungai yang keruh berpotensi mengganggu pelaksanaan festival sekaligus menurunkan citra daerah. Karena itu, pemerintah dan aparat penegak hukum berupaya memastikan sungai dalam kondisi lebih baik sebelum pelaksanaan event budaya tersebut.

“Jelang festival, Sungai Kuantan sudah harus bebas dari aktivitas PETI,” kata Hidayat.

Persoalan PETI bukan hanya menjadi masalah lingkungan di Kuansing, tetapi juga tantangan tata kelola sumber daya alam di Riau. Aktivitas tambang ilegal menyebabkan negara kehilangan potensi penerimaan, merusak lingkungan, dan memicu biaya pemulihan yang tidak sedikit.

Bagi Riau yang tengah mendorong investasi berkelanjutan dan pembangunan berbasis lingkungan, maraknya aktivitas ilegal seperti PETI dapat menjadi catatan negatif dalam upaya meningkatkan kepercayaan investor. Penegakan hukum yang konsisten menjadi faktor penting untuk menunjukkan komitmen daerah terhadap pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Baca Juga:  BMKG Minta Riau Waspada Karhutla: Meski Diguyur Hujan, 13 Hotspot Muncul di Rokan Hilir

Selain itu, keberhasilan menjaga kualitas Sungai Kuantan juga memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata daerah. Festival Pacu Jalur telah berkembang menjadi salah satu identitas budaya Riau yang memiliki potensi ekonomi bagi pelaku UMKM, sektor jasa, dan masyarakat setempat.

Operasi Berlanjut
Sampai Selasa sore, tim gabungan telah membakar belasan rakit PETI yang ditemukan beroperasi di aliran Sungai Kuantan. Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah karena operasi penertiban terus dilakukan di sejumlah titik lainnya.

Kapolres Kuansing memastikan operasi tidak berhenti di Kecamatan Inuman. Penertiban akan diperluas ke wilayah lain yang masih terindikasi menjadi lokasi aktivitas tambang emas ilegal.

Langkah berikutnya yang perlu dipantau publik adalah konsistensi pengawasan pasca-penertiban. Tanpa pengawasan berkelanjutan dan penindakan terhadap pelaku utama, aktivitas PETI berpotensi kembali muncul. Keberhasilan operasi ini akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan aparat menjaga Sungai Kuantan tetap bersih sekaligus memberikan efek jera kepada para pelaku tambang ilegal. (trp)

Tinggalkan Balasan