PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jalan kaki selama ini dianggap sebagai olahraga paling aman, murah dan mudah dilakukan siapa saja. Namun di balik kesederhanaannya, banyak orang ternyata masih melakukan kesalahan kecil yang berdampak besar bagi kesehatan tubuh.
Di Pekanbaru, tren jalan kaki semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Jalur Car Free Day dipenuhi warga setiap akhir pekgu. Banyak juga yang mulai rutin berjalan pagi atau sore demi menjaga kebugaran dan menurunkan berat badan. Sayangnya, tidak semua melakukannya dengan cara yang tepat.
Alih-alih memperoleh tubuh lebih sehat, kebiasaan yang salah justru bisa memicu nyeri otot, cedera sendi hingga membuat pembakaran kalori tidak maksimal.
Dokter spesialis terapi fisik sekaligus penulis buku Walk, Dr Milica McDowell mengingatkan, jalan kaki bukan sekadar menggerakkan kaki dari satu titik ke titik lain. Ada teknik dan kebiasaan yang perlu diperhatikan agar manfaatnya benar-benar terasa bagi tubuh.
“Berjalan kaki memiliki manfaat luar biasa untuk kesehatan tubuh dan kualitas hidup jangka panjang,” ujar McDowell.
Menurutnya, jalan kaki membantu meningkatkan fungsi tubuh secara menyeluruh. Mulai dari kesehatan mental, hormon, otot, hingga sistem pencernaan. Aktivitas ini juga dikenal efektif mengurangi stres dan meningkatkan kreativitas.
Namun, sejumlah kebiasaan berikut justru sering dilakukan banyak orang tanpa sadar.
1. Jalan Kaki Sambil Main Handphone
Kebiasaan berjalan sambil menatap layar ponsel menjadi kesalahan paling umum saat ini. Banyak orang tetap sibuk scrolling media sosial atau membalas pesan ketika berjalan kaki. Padahal, kondisi tersebut membuat fokus tubuh terpecah dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Orang yang berjalan sambil bermain handphone menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Risiko tersandung, terjatuh, bahkan tertabrak kendaraan menjadi lebih tinggi.
Tak hanya itu, posisi kepala yang terus menunduk juga memberi tekanan besar pada leher dan bahu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu nyeri otot dan gangguan postur tubuh.
Fenomena ini mulai banyak terjadi di kota-kota besar, termasuk Pekanbaru. Trotoar dan jalur pedestrian yang ramai sering membuat pejalan kaki harus lebih waspada terhadap kendaraan maupun pengguna jalan lain.
McDowell bahkan menyebut kebiasaan berjalan sambil bermain media sosial sebagai masalah kesehatan modern yang serius.
2. Menggunakan Sepatu yang Tidak Tepat
Banyak orang menganggap semua jenis sepatu cocok digunakan untuk berjalan kaki. Padahal, pemilihan alas kaki sangat menentukan kenyamanan dan kesehatan sendi.
Sepatu yang terlalu sempit dapat membuat jari kaki sulit bergerak bebas. Akibatnya, otot kaki tidak bekerja optimal dan keseimbangan tubuh terganggu.
McDowell menyarankan penggunaan sepatu khusus berjalan kaki dengan bagian depan yang lebih lebar. Model seperti ini membantu jari-jari kaki bergerak alami dan mengurangi tekanan pada telapak kaki.
Selain itu, sol sepatu yang terlalu keras juga dapat memicu rasa nyeri pada lutut dan tumit. Karena itu, memilih sepatu dengan bantalan nyaman menjadi hal penting bagi pejalan rutin.
Di iklim tropis seperti Pekanbaru, sepatu dengan sirkulasi udara baik juga membantu menjaga kenyamanan saat berjalan dalam cuaca panas.
3. Menganggap Jalan Kaki Satu-satunya Olahraga
Jalan kaki memang menyehatkan. Namun aktivitas ini bukan satu-satunya olahraga yang dibutuhkan tubuh. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah hanya mengandalkan jalan kaki tanpa menyeimbangkannya dengan latihan lain.
Tubuh tetap membutuhkan latihan kekuatan untuk menjaga massa otot dan stabilitas sendi. Selain itu, peregangan dan olahraga ringan lain membantu meningkatkan fleksibilitas tubuh.
Jika hanya berjalan kaki tanpa latihan tambahan, risiko cedera tetap bisa muncul, terutama pada usia lanjut.
McDowell menekankan pentingnya pola hidup sehat secara menyeluruh. Jalan kaki harus dibarengi konsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan asupan cairan yang baik.
“Jalan kaki sebaiknya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan berdiri sendiri,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat disarankan tetap melakukan aktivitas fisik lain seperti latihan peregangan, yoga, atau olahraga kekuatan ringan beberapa kali dalam seminggu.
4. Kecepatan Jalan Terlalu Lambat
Banyak orang berjalan santai tanpa memperhatikan ritme langkah. Padahal, kecepatan berjalan juga menjadi indikator penting kondisi kesehatan seseorang.
Menurut McDowell, penurunan kecepatan berjalan bisa menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan dalam tubuh. Rata-rata orang berjalan sekitar 90 hingga 100 langkah per menit. Namun untuk mendapatkan manfaat lebih besar, kecepatan ideal disarankan mencapai 120 hingga 130 langkah per menit.
Berjalan lebih cepat membantu meningkatkan detak jantung dan pembakaran kalori. Metode ini dinilai efektif bagi orang yang ingin menjaga berat badan tetap stabil.
Meski demikian, kecepatan berjalan tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Jangan memaksakan diri hingga tubuh terasa terlalu lelah. Di Pekanbaru, waktu pagi dan sore menjadi momen ideal untuk berjalan cepat karena cuaca relatif lebih sejuk dibanding siang hari.
5. Tidak Konsisten Melakukannya
Kesalahan terakhir yang paling sering terjadi adalah tidak konsisten. Banyak orang semangat berjalan kaki hanya pada awal program hidup sehat. Setelah beberapa hari, rutinitas tersebut mulai ditinggalkan.
Padahal, manfaat terbesar dari jalan kaki justru muncul saat dilakukan secara rutin. McDowell menyebut tidak perlu memaksakan target 10 ribu langkah setiap hari. Menurutnya, angka tersebut lebih banyak lahir dari strategi pemasaran lama dibanding standar medis mutlak.
Ia menyarankan masyarakat mencari jumlah langkah yang realistis sesuai kemampuan tubuh. Kisaran 5.500 hingga 7.500 langkah per hari sudah cukup memberi dampak positif bagi kesehatan.
Konsistensi jauh lebih penting dibanding memaksakan target tinggi dalam waktu singkat. Jalan kaki juga tidak harus dilakukan sekaligus. Aktivitas ini bisa dibagi dalam beberapa sesi pendek sepanjang hari agar lebih ringan dan mudah dijalani.
Pada akhirnya, jalan kaki tetap menjadi olahraga sederhana dengan manfaat besar bagi tubuh. Namun manfaat itu hanya akan maksimal jika dilakukan dengan cara yang benar, konsisten, dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. (dtc)









