IHSG Bangkit ke Level 5.902 Ketika Rupiah Tertekan ke Rp18.068 per Dolar AS

IHSG menguat 0,5 persen ke level 5.902 meski rupiah melemah menjadi Rp18.068 per dolar AS dan menjadi mata uang terlemah di Asia. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik menguat pada awal perdagangan Kamis (9/7/2026), meski pada saat yang sama nilai tukar rupiah mengalami tekanan dan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.

IHSG naik 29,39 poin atau sekitar 0,50 persen ke posisi 5.902,763 setelah sempat bergerak di zona merah pada pembukaan perdagangan.

Sepanjang sesi pagi, indeks bergerak dalam kisaran 5.839,669 hingga 5.903,480. IHSG dibuka di level 5.865,768 sebelum terus menguat dan menyentuh posisi tertinggi pada level 5.903,480.

Penguatan indeks didorong oleh lebih banyak saham yang mengalami kenaikan dibandingkan yang melemah. Sebanyak 293 saham berada di zona hijau, sementara 223 saham terkoreksi dan 189 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Aktivitas perdagangan juga berlangsung cukup ramai. Volume transaksi mencapai 4,044 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,813 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 513.205 kali transaksi.

Di tengah penguatan pasar saham, nilai tukar rupiah justru bergerak berlawanan. Pada perdagangan pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.068 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut melemah sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.014 per dolar AS.

Baca juga:  Syamsuar Minta Direktur BSP Berani Copot Pejabat Tak Berkinerja Baik

Pelemahan tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan penurunan terdalam di kawasan Asia pada awal perdagangan Kamis pagi.

Di bawah rupiah, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar kedua setelah turun 0,19 persen terhadap dolar AS.

Baht Thailand juga melemah sebesar 0,16 persen, diikuti peso Filipina yang turun 0,12 persen dan won Korea Selatan yang terkoreksi 0,06 persen.

Ringgit Malaysia ikut berada di zona merah meski pelemahannya relatif terbatas terhadap dolar AS. Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat. Yuan China memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 0,12 persen.

Yen Jepang naik 0,09 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,05 persen. Dolar Hong Kong bergerak relatif stabil dengan pelemahan yang sangat tipis sekitar 0,005 persen terhadap dolar AS.

Baca juga:  Harga Emas Pegadaian Hari Ini Turun, Antam, UBS dan Galeri 24 Kompak Melemah

Pergerakan yang kontras antara pasar saham dan pasar valuta asing menunjukkan respons yang berbeda dari pelaku pasar pada awal perdagangan hari itu.

Di satu sisi, tekanan terhadap rupiah mencerminkan pelemahan nilai tukar dibandingkan dolar AS. Namun di sisi lain, penguatan IHSG menunjukkan masih adanya minat investor terhadap saham-saham domestik yang menopang pergerakan indeks ke zona positif.

Data perdagangan awal ini menjadi perhatian pelaku pasar karena pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG merupakan dua indikator penting yang kerap digunakan untuk melihat arah sentimen pasar keuangan Indonesia pada setiap awal perdagangan. (kpc)