Harimau Sumatera Masih Mengintai Camp HTI Pelalawan, BBKSDA Duga Lebih dari Satu Ekor

Harimau Sumatera masih terdeteksi di sekitar camp HTI Pelalawan usai dua korban tewas. BBKSDA Riau memasang perangkap. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman serangan harimau sumatera di kawasan hutan tanaman industri (HTI) Kabupaten Pelalawan belum berakhir. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan aktivitas satwa dilindungi itu masih terdeteksi di sekitar camp pekerja, meski dua insiden maut dalam sepekan telah merenggut dua nyawa.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa tingkat risiko bagi pekerja maupun keluarga yang masih tinggal di kawasan tersebut masih sangat tinggi. Bahkan, hasil analisis BBKSDA mengindikasikan kemungkinan terdapat lebih dari satu individu harimau yang beraktivitas di sekitar lokasi camp.

Kondisi itu mendorong BBKSDA Riau memperketat langkah mitigasi sekaligus meminta perusahaan HTI menerapkan prosedur keselamatan secara maksimal. Sebab, sebagian pekerja memang telah dievakuasi, namun masih terdapat karyawan yang tetap menjalankan aktivitas di sejumlah camp yang berada di sekitar kawasan habitat harimau sumatera.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBKSDA Riau, Laskar Jaya Permana, mengatakan pemantauan intensif terus dilakukan sejak serangan pertama hingga insiden kedua yang menewaskan pekerja HTI.

“Hasil analisis tim kami di lapangan menunjukkan aktivitas harimau masih ada di lokasi. Sejak kejadian pertama sampai kejadian kedua, keberadaan satwa tersebut masih terus terdeteksi,” kata Laskar di Pekanbaru, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, pemantauan dilakukan menggunakan drone thermal yang mampu membaca pancaran suhu tubuh satwa liar, sehingga memberikan gambaran lebih akurat mengenai keberadaan harimau di sekitar kawasan camp pekerja.

“Dari hasil drone thermal, suhu tubuh yang terdeteksi memang mengarah pada keberadaan satwa harimau,” ujarnya.

Diduga Lebih dari Satu Harimau
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah dugaan adanya lebih dari satu individu harimau sumatera yang berkeliaran di sekitar lokasi.

Meski demikian, BBKSDA belum dapat memastikan apakah dua korban yang meninggal dalam dua peristiwa berbeda diserang oleh harimau yang sama atau individu yang berbeda.

“Belum bisa dipastikan apakah pelakunya harimau yang sama atau bukan. Yang jelas, berdasarkan analisis, kemungkinan ada lebih dari satu individu harimau di kawasan tersebut,” jelas Laskar.

Analisis tersebut penting karena akan menentukan strategi penanganan di lapangan. Jika terdapat lebih dari satu individu, maka potensi konflik manusia dan satwa liar menjadi jauh lebih tinggi dibanding hanya satu ekor harimau yang berkeliaran.

Baca juga:  Jadi Tersangka Pemerasan Proyek Kapal Gratis, Polres Siak Tahan Kadishub

Selain itu, keberadaan beberapa harimau di sekitar camp menunjukkan kawasan tersebut masih menjadi bagian dari wilayah jelajah satwa liar yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Diduga Tertarik Hewan Peliharaan di Camp
BBKSDA juga mengungkap dugaan penyebab harimau mendekati kawasan permukiman pekerja. Menurut Laskar, keberadaan hewan ternak maupun hewan peliharaan seperti ayam dan anjing di sekitar camp diduga menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian predator tersebut.

“Kemungkinan harimau datang ke camp karena di situ ada yang memelihara ayam dan anjing,” katanya.

Fenomena ini kerap ditemukan pada konflik satwa liar di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia. Hewan peliharaan dapat menjadi pemicu harimau mendekat, sehingga meningkatkan peluang terjadinya interaksi berbahaya dengan manusia.

Karena itu, BBKSDA meminta perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kawasan camp, termasuk pengelolaan limbah makanan, pemeliharaan hewan, hingga pengamanan lingkungan sekitar.

Dua Nyawa Melayang dalam Tiga Hari
Konflik antara manusia dan harimau di Pelalawan menjadi sorotan setelah dua serangan mematikan terjadi hanya dalam rentang tiga hari.

Korban pertama adalah Jerlin Zalukhu (12), anak seorang pekerja HTI. Bocah itu tewas setelah diterkam harimau saat menemani kakaknya mencuci piring di kamar mandi belakang camp pada Selasa (7/7/2026) dini hari.

Peristiwa tersebut mengejutkan karena korban merupakan anak yang tinggal bersama orang tua dan dua saudaranya di lingkungan camp perusahaan.

Belum reda duka akibat insiden pertama, harimau kembali menyerang pada Jumat (10/7/2026) malam. Kali ini korban adalah Eko Prasetyo (29), seorang karyawan HTI yang meninggal dunia akibat serangan satwa tersebut.

BBKSDA menyebut kedua kejadian berlangsung di dua camp berbeda dengan jarak sekitar 6,5 kilometer. Meski lokasi berbeda, keduanya masih berada di kawasan yang merupakan habitat alami harimau sumatera.

Fakta itu menunjukkan bahwa ancaman tidak hanya berada di satu titik, melainkan mencakup wilayah yang lebih luas di sekitar kawasan operasional perusahaan.

Pekerja Masih Beraktivitas
Meski sebagian penghuni camp telah dievakuasi, aktivitas perusahaan belum sepenuhnya dihentikan.

Masih terdapat sejumlah pekerja yang menjalankan tugas di beberapa camp lain, sehingga potensi risiko tetap ada apabila langkah mitigasi tidak dijalankan secara disiplin.

Baca juga:  KPK Dalami Motif Amplop Bupati Kuansing ke Menhut, Kaitkan dengan Dugaan Gratifikasi HPT

Karena itu, BBKSDA meminta perusahaan memastikan seluruh standar operasional prosedur (SOP) keselamatan diterapkan tanpa kompromi.

“Kami menekankan kepada perusahaan agar SOP benar-benar dijalankan secara ketat. Sebagian pekerja memang sudah dievakuasi, tetapi masih ada yang berada di camp lainnya,” ujar Laskar.

Penerapan SOP dinilai menjadi faktor penting untuk meminimalkan kemungkinan munculnya korban baru selama proses penanganan berlangsung.

Dua Kandang Perangkap Dipasang
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BBKSDA Riau telah memasang dua kandang perangkap di sekitar lokasi konflik.

Perangkap tersebut dipersiapkan untuk mengevakuasi harimau apabila masuk ke dalam kandang, sehingga dapat dipindahkan dari kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.

Selain pemasangan perangkap, petugas juga masih disiagakan di lapangan guna memantau pergerakan satwa sekaligus memberikan rasa aman kepada pekerja yang masih berada di kawasan tersebut.

Pemantauan dilakukan secara terus-menerus karena aktivitas harimau masih terdeteksi berdasarkan hasil analisis lapangan.

Konflik Satwa dan Aktivitas Industri
Kasus di Pelalawan kembali menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan harimau sumatera masih menjadi tantangan besar di Riau, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Aktivitas industri kehutanan yang berada di sekitar habitat alami satwa dilindungi membutuhkan sistem mitigasi yang lebih kuat, mulai dari penataan kawasan camp, pengaturan aktivitas pekerja, hingga deteksi dini keberadaan satwa liar.

Dengan dua korban jiwa dalam waktu singkat dan indikasi masih adanya harimau yang berkeliaran di sekitar camp, fokus penanganan kini tidak hanya tertuju pada evakuasi satwa, tetapi juga memastikan keselamatan pekerja dan keluarganya.

Selama harimau belum berhasil dievakuasi dan aktivitasnya masih terpantau di sekitar kawasan permukiman pekerja, potensi konflik dinilai masih terbuka. Karena itu, BBKSDA menegaskan seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (kps)