PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Bupati Siak, Afni Zulkifli menegaskan, PT Bumi Siak Pusako (BSP) bukan sekadar badan usaha milik daerah (BUMD), melainkan pilar penting dalam memperkuat kedaulatan energi nasional melalui pengelolaan sumber daya minyak dan gas yang dilakukan mandiri oleh daerah.
Menurut Afni, keberadaan BSP memiliki nilai strategis, karena seluruh produksi minyak perusahaan saat ini disalurkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri melalui Pertamina. Karena itu, keberlangsungan operasional BSP tidak hanya berdampak terhadap perekonomian Kabupaten Siak, tetapi juga mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Penegasan tersebut disampaikan Afni dalam Sarasehan Pasis Seskoau A-65 bertema Meneguhkan Nilai-Nilai Kejuangan dalam Mewujudkan Pertahanan Energi Guna Mewujudkan Pertahanan Negara yang Tangguh di Hotel Jatra Pekanbaru, Rabu (29/7/2026).
Pada kesempatan itu, Afni juga memperkenalkan Direktur Utama BSP, Robi Junipa dan jajaran direksi serta komisaris baru yang akan memimpin perusahaan menghadapi tantangan pengelolaan migas ke depan.
BSP Jadi Simbol Kemandirian Daerah Mengelola Migas
Afni mengatakan, BSP merupakan simbol perjuangan Kabupaten Siak dalam mengelola kekayaan alamnya secara profesional setelah menjadi operator penuh wilayah kerja migas pada 2022.
Menurutnya, pengelolaan migas oleh daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor energi, terutama ketika kebutuhan energi nasional terus meningkat.
“PT BSP adalah marwah daerah. BSP bukan sekadar perusahaan, tetapi simbol perjuangan Kabupaten Siak dalam mengelola sumber daya alam secara mandiri dan profesional untuk mendukung kedaulatan energi nasional,” kata Afni.
Ia menilai keberhasilan BSP tidak hanya diukur dari keuntungan perusahaan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga produksi migas nasional, meningkatkan pendapatan daerah, sekaligus membuka ruang bagi sumber daya manusia lokal untuk berperan dalam industri strategis.
Infrastruktur Migas Tua Jadi Tantangan Utama
Di balik peran strategis tersebut, BSP masih menghadapi tantangan besar, terutama kondisi infrastruktur migas yang telah berusia puluhan tahun.
Dijelaskan, perusahaan mewarisi jaringan pipa sepanjang sekitar 80 kilometer yang menghubungkan sumur-sumur minyak di Sungai Apit hingga Minas. Infrastruktur tersebut merupakan peninggalan pengelolaan sejak era perusahaan Amerika dan kini membutuhkan investasi besar untuk pemulihan.
“Tantangan kami adalah bagaimana menjaga sekitar 80 kilometer jaringan pipa dari sumur-sumur agar minyak bisa mengalir hingga ke Minas. Kami mewarisi pipa-pipa yang rusak dan sumur-sumur tua yang membutuhkan teknologi mahal,” ujarnya.
Selain jaringan pipa yang menua, BSP juga menghadapi persoalan sumur-sumur tua dengan tingkat produksi yang terus menurun serta kebutuhan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasi.
Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengalokasikan investasi besar agar produksi minyak tetap berjalan secara optimal.
Produksi Migas Diarahkan Dukung Ketahanan Energi
Menurut Afni, seluruh minyak yang diproduksi BSP saat ini dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui Pertamina.
Kebijakan tersebut sejalan dengan strategi pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional melalui optimalisasi produksi minyak domestik.
Karena itu, BSP membutuhkan dukungan investasi, pengembangan teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.
Ia menilai, peningkatan produksi minyak domestik akan memberikan manfaat ganda, yakni memperkuat pasokan energi nasional sekaligus meningkatkan kontribusi sektor migas terhadap perekonomian daerah.
BSP Mulai Bangkit Setelah Hadapi Berbagai Kendala
Afni mengungkapkan sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Siak, BSP sempat mengalami tekanan akibat berbagai persoalan teknis yang memengaruhi kinerja perusahaan.
Namun dalam satu tahun terakhir, perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Menurutnya, BSP telah mampu membukukan kinerja yang lebih baik hingga memberikan dividen murni kepada Pemerintah Kabupaten Siak.
Meski demikian, ia mengingatkan, capaian tersebut belum dapat dianggap sebagai keberhasilan akhir.
Perusahaan masih harus menyelesaikan pekerjaan besar, terutama memulihkan jaringan pipa agar distribusi minyak kembali dilakukan melalui sistem perpipaan, bukan menggunakan angkutan truk.
Pemanfaatan jaringan pipa dinilai lebih efisien, lebih aman, dan mampu menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
“Pemulihan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah utama kami agar distribusi minyak dapat berjalan lebih efisien dan mendukung peningkatan produksi,” katanya.
Dividen BSP Dukung Pembangunan Daerah
Di sisi lain, Afni mengatakan, keberadaan BSP telah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui kontribusi dividen kepada Pemerintah Kabupaten Siak.
Pendapatan tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan daerah, termasuk untuk mendukung penyediaan infrastruktur dan pelayanan publik.
Ia berharap, penguatan kinerja BSP akan meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperbesar peran Siak dalam mendukung kebutuhan energi nasional.
Warisan Sejarah Menuju Masa Depan Energi Indonesia
Afni juga mengulas perjalanan panjang pengelolaan migas di Kabupaten Siak yang telah berlangsung sejak era Kesultanan Siak, berlanjut pada masa kolonial Belanda, kemudian dikelola Caltex dari Amerika Serikat, hingga akhirnya BSP menjadi operator penuh pada 2022.
Menurutnya, perubahan tersebut menjadi tonggak penting karena pengelolaan migas kini didominasi sumber daya manusia asal Riau yang memiliki tanggung jawab menjaga aset energi nasional.
Ia mengibaratkan perjuangan BSP sebagai kelanjutan semangat para pendahulu dalam menjaga kepentingan bangsa.
“Jika dahulu Sultan Siak berjuang mempertahankan bangsa melalui pengorbanan hartanya, maka hari ini BSP hadir untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui pengelolaan sumber daya yang profesional,” ujarnya.
Afni berharap BSP terus meningkatkan produksi, memperkuat tata kelola perusahaan, serta menjadi BUMD migas yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkokoh ketahanan energi Indonesia.
“Menjaga BSP berarti menjaga sejarah, menjaga kedaulatan energi daerah, dan menjaga masa depan masyarakat Siak serta Indonesia,” tukasnya. (bsh)





