JAKARTA, FOKUSRIAU.COM-Pemerintah mulai mempercepat program peremajaan perkebunan kelapa nasional, setelah menemukan sekitar 377 ribu hektare tanaman kelapa di Indonesia masuk kategori tua dan rusak. Kondisi ini dinilai menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas kelapa nasional, sekaligus menghambat daya saing Indonesia di pasar global.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp427 miliar tahun 2026, untuk mendukung pengembangan dan peremajaan kawasan kelapa seluas 151.554 hektare.
Program ini menjadi salah satu langkah terbesar dalam beberapa tahun terakhir untuk membangkitkan kembali sektor kelapa nasional.
Langkah tersebut bukan sekadar mengganti tanaman yang sudah tidak produktif. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi, memperkuat industri hilir, memperbesar peluang ekspor, hingga meningkatkan pendapatan jutaan petani kelapa yang selama ini menghadapi produktivitas rendah akibat usia tanaman yang semakin tua.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Agus Rosyid Wasingun mengatakan, produktivitas kelapa Indonesia saat ini masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya.
Saat ini, produksi rata-rata nasional hanya sekitar 1,1 ton per hektare, padahal dengan penggunaan benih unggul, teknik budidaya yang baik, dan peremajaan tanaman, produktivitas dapat meningkat hingga 3,5-5 ton per hektare.
“Memang produktivitasnya belum optimal, masih di sekitar 1,1 ton yang seharusnya bisa mencapai 3,5 sampai 5 ton. Ini kerja keras kita semuanya untuk bisa mengangkat produktivitas tersebut,” kata Rosyid dalam Webinar Hilirisasi Kelapa, Rabu (22/7/2026).
Dijelaskan, luas perkebunan kelapa nasional mencapai sekitar 3,2 juta hektare, namun hampir sepertiganya telah masuk kategori tanaman tua dan rusak.
“Kemudian tingginya persentase tanaman tua rusak yang saat ini mencapai 377 ribuan hektare. Dari sekitar 3,2 juta hektare, hampir 30-40 persen merupakan tanaman tua dan rusak,” ujarnya.
Menurut Rosyid, kondisi tersebut membuat produktivitas nasional sulit meningkat apabila tidak diikuti program peremajaan secara masif.
Peremajaan Jadi Kunci Meningkatkan Produksi
Program peremajaan menjadi fokus utama pemerintah karena sebagian besar pohon kelapa yang telah berusia tua tidak lagi mampu menghasilkan buah secara optimal.
Selain mengganti tanaman yang sudah tidak produktif, pemerintah juga menyiapkan penyediaan benih unggul, pendampingan teknis kepada petani, serta pengembangan kawasan berbasis hilirisasi agar hasil panen tidak hanya dijual dalam bentuk kelapa bulat, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap produktivitas kebun meningkat sekaligus memperkuat industri pengolahan kelapa nasional yang selama ini dinilai belum terintegrasi.
Rosyid menilai, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan besar sebagai produsen kelapa dunia. Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena rendahnya produktivitas kebun dan masih terbatasnya industri hilir.
“Produktivitas yang rendah serta industri yang belum terintegrasi menjadi tantangan besar bagi daya saing kelapa Indonesia,” katanya.
Anggaran Naik Tajam, Target Peremajaan Melonjak
Keseriusan pemerintah terlihat dari lonjakan anggaran yang dialokasikan untuk program pengembangan kawasan kelapa.
Tahun 2025, program hilirisasi kelapa berhasil direalisasikan di lahan seluas 1.975 hektare di luar program reguler dengan tingkat realisasi mencapai 92 persen. Jika digabungkan dengan program reguler, total pengembangan mencapai sekitar 3.500 hektare dengan anggaran sekitar Rp10,9 miliar.
Tahun ini, pemerintah meningkatkan target secara drastis. Kementan menargetkan pengembangan kawasan kelapa mencapai 151.554 hektare dengan dukungan anggaran sekitar Rp427 miliar. Nilai tersebut hampir sepuluh kali lipat dibandingkan program reguler pada tahun-tahun sebelumnya.
“Target kami tahun ini mencapai 151.554 hektare dengan anggaran kurang lebih Rp427 miliar. Ini di luar penyediaan benih,” ujar Rosyid.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan rencana lanjutan pada 2027 dengan pagu indikatif pengembangan seluas 51.721 hektare dan anggaran sekitar Rp154 miliar.
Program tersebut akan dijalankan di 28 provinsi sebagai bagian dari strategi nasional mempercepat hilirisasi kelapa.
Permintaan Dunia Terus Meningkat
Di tengah berbagai tantangan, pemerintah melihat prospek bisnis kelapa masih sangat menjanjikan. Permintaan global terhadap berbagai produk turunan kelapa terus meningkat, mulai dari minyak kelapa, santan, virgin coconut oil (VCO), air kelapa, hingga produk pangan dan kosmetik berbasis kelapa.
Rosyid mengungkap, Malaysia masih sangat bergantung pada pasokan kelapa dari Indonesia.
Bahkan, sekitar 89 persen kebutuhan kelapa Malaysia dipenuhi dari Indonesia. Ketergantungan tersebut sempat memicu kekhawatiran ketika pasokan kelapa Indonesia mengalami penurunan beberapa tahun lalu.
“Malaysia pernah datang ke kementerian untuk meminta agar tidak dilakukan penghentian ekspor kelapa karena kebutuhan mereka sangat bergantung kepada Indonesia,” ungkapnya.
Fakta tersebut menunjukkan posisi Indonesia masih menjadi pemain penting dalam rantai pasok kelapa dunia. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila produksi nasional mampu ditingkatkan melalui peremajaan tanaman dan peningkatan produktivitas.
Peluang Besar bagi Sentra Kelapa di Riau
Program peremajaan kelapa diperkirakan akan memberikan dampak signifikan bagi daerah-daerah sentra produksi, termasuk Provinsi Riau yang memiliki kawasan perkebunan kelapa cukup luas, terutama di Kabupaten Indragiri Hilir yang dikenal sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia.
Apabila program peremajaan berjalan sesuai target, petani berpeluang memperoleh tanaman yang lebih produktif, hasil panen meningkat, serta akses yang lebih luas terhadap industri pengolahan. Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas juga berpotensi memperkuat ekspor, menciptakan lapangan kerja di sektor hilir, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah penghasil kelapa.
Dengan besarnya jumlah tanaman tua yang harus diganti, keberhasilan program ini akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia sekaligus memanfaatkan tingginya permintaan pasar internasional. (cnbc)






