Konflik Harimau Sumatera di Riau Kian Ganas, Empat Serangan Sebulan, Dua Orang Tewas

Korban serangan harimau, Harianto (31), sedang dievakuasi ke rumah sakit dengan luka-luka yang cukup serius. (Foto: Istimewa)

SIAK, FOKUSRIAU.COM-Konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di Riau semakin mengganas. Dalam waktu sekitar satu bulan terakhir, sedikitnya empat serangan terhadap manusia terjadi di dua kabupaten, yakni Siak dan Pelalawan. Dua di antaranya berakhir dengan kematian, sementara dua korban lainnya selamat meski mengalami luka serius dan trauma.

Serangan terbaru terjadi di Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Selasa (21/7/2026) malam. Seorang pekerja bernama Harianto (31) nyaris kehilangan nyawa, setelah diterkam dan diseret seekor Harimau Sumatera saat keluar dari camp pekerja menuju tepian kanal.

Rangkaian insiden yang terjadi secara beruntun dalam waktu singkat itu menunjukkan konflik manusia dan satwa liar dilindungi tersebut belum mereda. Kondisi ini menjadi peringatan serius karena sebagian besar serangan terjadi di kawasan hutan produksi, perkebunan, hingga area kerja yang berbatasan langsung dengan habitat Harimau Sumatera.

Korban Harianto diketahui bekerja sebagai helper alat berat pada kegiatan pembersihan lahan dan pembuatan kanal di kawasan Teluk Lanus. Sekitar pukul 19.30 WIB, ia keluar dari camp untuk buang air besar di tepian kanal.

Namun sekitar 10 menit kemudian, suasana camp mendadak panik setelah terdengar teriakan minta tolong dari arah hutan.

Dua rekannya, Rakha dan Herman langsung berlari menuju sumber suara. Karena kondisi gelap, keduanya sempat kesulitan menemukan lokasi korban.

Kapolsek Sungai Apit, Iptu Adifian Ikhsan menjelaskan, salah seorang pekerja kemudian menyalakan alat berat beserta seluruh lampu penerangan yang ada di lokasi.

Sorotan lampu diarahkan ke sumber suara dan akhirnya terlihat Harianto sedang diseret seekor Harimau Sumatera.

BACA JUGA :  Utang Pusat Rp4 Triliun Tekan Fiskal Riau, Banyak Daerah Belum Bayar TPP ASN

“Saat itulah korban terlihat sedang diseret seekor harimau. Diduga karena silau terkena sorotan lampu, harimau akhirnya melepaskan gigitannya dan kabur masuk ke kawasan hutan,” kata Adifian.

Momen tersebut diduga menjadi faktor yang menyelamatkan nyawa korban. Setelah harimau melepaskan gigitannya, Harianto segera dievakuasi menggunakan speed boat menuju Pustu Kampung Teluk Lanus.

Setelah mendapatkan penanganan medis awal, korban kemudian dirujuk menggunakan ambulans ke RSUD Tengku Rafian Siak untuk menjalani perawatan lebih lanjut akibat luka gigitan yang cukup serius.

Camat Sungai Apit, Tengku Muhtasar, membenarkan kejadian tersebut. Ia memastikan kondisi korban selamat meski mengalami luka akibat serangan satwa buas tersebut.

Serangan Kedua di Teluk Lanus dalam Sepekan
Peristiwa yang menimpa Harianto bukan kejadian pertama di wilayah Teluk Lanus. Hanya berselang sepekan, tepatnya pada 14 Juli 2026, seorang pekerja kebun sawit bernama Agus juga nyaris menjadi korban Harimau Sumatera.

Saat melintas menggunakan sepeda motor di kawasan perkebunan, seekor harimau tiba-tiba melompat ke bagian belakang kendaraannya.

Beruntung, korban berhasil memacu sepeda motornya hingga lolos dari serangan lanjutan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono sebelumnya juga membenarkan kejadian tersebut dan menyebut korban berhasil menyelamatkan diri sebelum harimau kembali menyerang.

Dua insiden dalam waktu hanya satu pekan di lokasi yang relatif berdekatan memperlihatkan aktivitas Harimau Sumatera di kawasan Teluk Lanus semakin tinggi.

Pelalawan Jadi Lokasi Serangan Paling Mematikan
Konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau sebenarnya telah memuncak sejak awal Juli 2026. Peristiwa paling tragis terjadi di Kabupaten Pelalawan.

BACA JUGA :  Jalan Mahato-Simpang Manggala Rusak, SF Hariyanto Ajak Perusahaan Turun Tangan

Pada 7 Juli 2026, seorang anak bernama Jerlin Zalukhu (12) tewas diterkam Harimau Sumatera di kawasan camp perusahaan kehutanan di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan.

Korban diserang saat menjelang subuh ketika menemani kakaknya mencuci peralatan makan. Hanya tiga hari berselang, tepatnya 10 Juli 2026, serangan kembali terjadi di lokasi yang sama.

Seorang pekerja kontraktor, Eko Prastio (29), ditemukan meninggal dunia setelah diterkam Harimau Sumatera saat bekerja di kawasan perusahaan.

Dua kematian dalam waktu tiga hari menjadi salah satu rangkaian konflik satwa liar paling serius yang pernah terjadi di Riau dalam beberapa tahun terakhir.

Empat Serangan dalam Sebulan Jadi Alarm Bahaya
Jika dihitung sejak awal Juli sampai pekan ketiga bulan ini, telah terjadi empat serangan Harimau Sumatera terhadap manusia di Riau, yakni:
7 Juli 2026 – Jerlin Zalukhu (12) tewas diterkam di Pelalawan.
10 Juli 2026 – Eko Prastio (29) meninggal akibat serangan harimau di Pelalawan.
14 Juli 2026 – Agus lolos dari serangan harimau di Teluk Lanus, Siak.
21 Juli 2026 – Harianto (31) diterkam dan sempat diseret harimau di Teluk Lanus, Siak sebelum berhasil diselamatkan.

Frekuensi serangan yang meningkat dalam waktu singkat memperlihatkan konflik antara manusia dan Harimau Sumatera tidak lagi bersifat insidental, tetapi telah menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan lintas sektor.

Habitat Terdesak, Konflik Diperkirakan Meningkat
Riau merupakan salah satu habitat penting Harimau Sumatera, satwa endemik yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) berdasarkan Daftar Merah IUCN dan dilindungi penuh oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia.

BACA JUGA :  Basarnas Evakuasi Kru MT Pancaran Agility yang Meninggal di Selat Rupat

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bentang alam yang menjadi habitat satwa ini terus bersinggungan dengan aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan, perkebunan, pembangunan kanal, hingga aktivitas perusahaan kehutanan.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi perjumpaan langsung antara manusia dan harimau, terutama di kawasan yang berbatasan dengan hutan.

Di sisi lain, pekerja lapangan yang beraktivitas hingga malam hari menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi ancaman serangan.

Mitigasi Tak Bisa Lagi Ditunda
Rentetan empat serangan hanya dalam satu bulan menjadi alarm keras bahwa mitigasi konflik manusia dan Harimau Sumatera harus segera diperkuat.

Upaya yang selama ini dilakukan dinilai belum mampu menekan frekuensi perjumpaan antara manusia dan satwa liar tersebut.

Pemerintah daerah, BBKSDA Riau, perusahaan kehutanan, perkebunan, aparat keamanan, hingga masyarakat di sekitar kawasan hutan dituntut memperkuat sistem peringatan dini, patroli kawasan rawan, edukasi keselamatan bagi pekerja, serta langkah mitigasi berbasis habitat.

Tanpa langkah yang lebih cepat dan terkoordinasi, konflik manusia dan Harimau Sumatera dikhawatirkan akan terus berulang, mengancam keselamatan warga sekaligus memperbesar risiko terhadap kelestarian salah satu satwa paling langka yang masih tersisa di Pulau Sumatera. (ria)