Impor Riau Melonjak 140 Persen, Simak Dampaknya bagi Ekonomi dan Investasi?

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi menjelaskan kondisi ketenagakerjaan di Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Lonjakan nilai impor Riau medio Januari – Mei 2026 menjadi salah satu indikator paling mencolok dalam perekonomian daerah tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat, nilai impor mencapai US$1,63 miliar.

Nilainya meningkat 140,76 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Namun demikian, kenaikan tajam tersebut bukan dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat, melainkan masuknya barang modal bernilai sangat besar yang diyakini berkaitan dengan investasi.

Perubahan struktur impor tersebut menjadi sinyal penting bagi arah pertumbuhan ekonomi Riau. Di satu sisi, masuknya aset produksi bernilai tinggi berpotensi memperkuat kapasitas industri, menciptakan lapangan kerja dan mendorong investasi jangka panjang.

Namun di sisi lain, tingginya ketergantungan pada barang modal impor juga menunjukkan bahwa sebagian kebutuhan teknologi dan peralatan strategis masih bergantung pada luar negeri.

Data BPS memperlihatkan hampir seluruh lonjakan impor tahun ini berasal dari kelompok barang modal, terutama kapal terbang dan bagiannya yang didatangkan dari luar negeri. Nilai impor kelompok tersebut melonjak hingga puluhan ribu persen dibandingkan tahun sebelumnya, mengubah peta perdagangan luar negeri Riau secara signifikan.

Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi mengatakan, nilai impor Riau selama Januari – Mei 2026 mencapai US$1,63 miliar, atau meningkat 140,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Menurutnya, kenaikan tersebut terutama disebabkan meningkatnya impor barang modal yang nilainya melonjak lebih dari 20 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

“Impor Riau selama Januari – Mei 2026 mencapai US$1,63 miliar atau naik 140,76 persen. Peningkatan terbesar berasal dari barang modal, khususnya kelompok kapal terbang dan bagiannya, sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap total impor,” kata Asep.

Struktur Ekonomi Berubah
BPS mencatat, impor barang modal mencapai US$862,97 juta, atau melonjak 2.011,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kini, kelompok barang modal menjadi penyumbang terbesar impor Riau dengan kontribusi 53,01 persen terhadap total impor.

Sebaliknya, impor bahan baku dan barang penolong tercatat sebesar US$761,97 juta atau berkontribusi 46,81 persen, sedangkan barang konsumsi hanya menyumbang 0,18 persen dari keseluruhan impor.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan impor bukan disebabkan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap produk luar negeri, melainkan lebih banyak dipengaruhi kebutuhan investasi dan pengembangan kapasitas usaha.

Baca juga:  Pemprov Riau Kembali Gelar Pasar Murah di Kampar dan Pekanbaru, Harga Beras SPHP Rp60 Ribu

Bagi dunia usaha, pola seperti ini umumnya menjadi indikator adanya ekspansi industri, pembelian aset produktif, maupun pengembangan sektor transportasi dan logistik yang membutuhkan peralatan bernilai tinggi.

Komoditas yang paling berpengaruh terhadap lonjakan impor adalah kapal terbang dan bagiannya. Nilai impornya mencapai US$780,83 juta, atau sekitar 50,12 persen dari total impor nonmigas Riau. Dibandingkan Januari-Mei 2025, nilainya melonjak hingga 54.918,49 persen.

Besarnya nilai impor kelompok ini menjadikan struktur perdagangan luar negeri Riau berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak didominasi bahan baku industri.

Selain pesawat dan komponennya, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan signifikan. Impor pupuk mencapai US$159,39 juta, meningkat 18,31 persen. Kemudian kayu dan barang dari kayu naik menjadi US$139,38 juta atau meningkat 75,82 persen.

Sementara itu, impor mesin dan pesawat mekanik mencapai US$74,97 juta, naik 19,75 persen, sedangkan bahan kimia organik meningkat 35,56 persen menjadi US$63,49 juta.

Di tengah kenaikan hampir seluruh kelompok barang utama, hanya impor bahan bubur kayu (pulp) yang mengalami penurunan. Nilainya tercatat US$57,29 juta, turun 27,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Sebagian besar kelompok barang utama mengalami peningkatan. Hanya impor bahan bubur kayu atau pulp yang masih mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu,” ujar Asep.

Geser Negara Mitra Lain
Lonjakan impor juga mengubah peta negara asal barang yang masuk ke Riau. Jika sebelumnya impor banyak berasal dari negara-negara Asia, kini Prancis menjadi pemasok terbesar.

Nilai impor nonmigas dari negara tersebut mencapai US$781,91 juta, atau menguasai 50,19 persen total impor nonmigas Riau. Nilai itu melonjak hingga 36.518,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dominasi tersebut terutama berasal dari masuknya barang modal berupa kapal terbang dan komponennya. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok dengan nilai impor US$170,99 juta atau 10,98 persen, disusul Vietnam sebesar US$102,94 juta atau 6,61 persen.

Menurut Asep, perubahan ini menunjukkan adanya transaksi investasi bernilai besar yang melibatkan pemasok dari Eropa.

“Dominasi Prancis tahun ini berkaitan dengan masuknya barang modal bernilai besar, terutama kelompok kapal terbang dan bagiannya. Hal itu membuat struktur impor Riau berubah cukup signifikan dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.

Baca juga:  Hotspot di Riau Berkurang Jadi 5 Titik, BMKG Minta Warga Tetap Waspada Karhutla

Tak hanya itu, kawasan Uni Eropa kini menjadi pemasok terbesar impor nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$839,84 juta, atau menguasai 53,91 persen total impor nonmigas. Sementara impor dari kawasan ASEAN mencapai US$257,59 juta, atau sekitar 16,53 persen.

Dampaknya bagi Ekonomi Riau?
Secara ekonomi, lonjakan impor barang modal memiliki makna yang berbeda dibandingkan lonjakan impor barang konsumsi.Dampaknya bagi Ekonomi Riau?

Masuknya barang modal umumnya berkaitan dengan pembangunan fasilitas produksi baru, perluasan investasi, modernisasi peralatan, maupun peningkatan kapasitas operasional perusahaan.

Artinya, kenaikan impor kali ini berpotensi menjadi sinyal bahwa aktivitas investasi di Riau sedang meningkat.

Jika investasi tersebut diikuti dengan pembangunan industri, pembukaan lapangan kerja, peningkatan produksi, serta bertambahnya ekspor di masa mendatang, maka dampaknya dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, besarnya impor barang modal juga mengingatkan bahwa industri di Riau masih bergantung pada teknologi dan peralatan dari luar negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi tersebut mampu menciptakan nilai tambah di dalam daerah melalui peningkatan produksi, penyerapan tenaga kerja, dan berkembangnya rantai pasok lokal.

Pada Mei 2026 saja, nilai impor Riau mencapai US$550,41 juta, melonjak 298,69 persen dibandingkan Mei tahun lalu. Kenaikan tersebut didorong impor nonmigas sebesar US$544,32 juta yang naik 344,50 persen, sementara impor migas justru turun 60,95 persen menjadi US$6,09 juta.

Asep menegaskan bahwa peningkatan impor barang modal tidak selalu harus dipandang sebagai meningkatnya ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Menurutnya, dalam banyak kasus, lonjakan tersebut justru menjadi indikator adanya investasi baru yang berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi di masa depan.

“Lonjakan impor barang modal pada umumnya menunjukkan adanya aktivitas investasi atau pengembangan kapasitas produksi. Karena itu, angka impor yang meningkat tidak selalu mencerminkan kenaikan konsumsi, tetapi juga dapat menjadi indikasi adanya investasi baru,” tukasnya. (mcr)