PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan, Rabu (22/7/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah di pasar spot dan melanjutkan tren depresiasi yang menjadikannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka turun 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat (AS). Hingga pukul 02.06 GMT. Berdasarkan data Reuters, pelemahan semakin dalam menjadi Rp17.920 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.880 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih belum mereda di tengah dinamika pasar keuangan global. Kondisi ini menjadi perhatian karena nilai tukar memiliki pengaruh langsung terhadap biaya impor, harga barang, dunia usaha hingga inflasi domestik.
Di kawasan Asia, tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami Indonesia. Baht Thailand tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar kedua setelah turun 0,19 persen ke level 33,76 per dolar AS.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak negatif. Won Korea Selatan justru menguat 0,14 persen terhadap dolar AS. Dolar Taiwan juga mencatat kenaikan sebesar 0,09 persen, sementara yen Jepang relatif stabil di kisaran 163,16 per dolar AS.
Di sisi lain, dolar Singapura mengalami pelemahan tipis sebesar 0,02 persen. Mata uang Asia lainnya juga bergerak di zona merah. Ringgit Malaysia turun 0,15 persen, yuan China melemah 0,06 persen pada perdagangan hari ini, sedangkan peso Filipina terkoreksi 0,03 persen. Sementara itu, rupee India diperdagangkan relatif stabil di level 96,235 per dolar AS.
Rupiah Masih Menjadi yang Terlemah di Asia
Jika melihat kinerja sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), tekanan terhadap rupiah terlihat jauh lebih signifikan dibandingkan sebagian besar mata uang regional.
Sejak akhir 2025, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,98 persen terhadap dolar AS. Angka tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia selama 2026.
Pelemahan rupiah bahkan lebih besar dibandingkan baht Thailand yang turun sekitar 6,84 persen dan rupee India yang melemah 6,61 persen pada periode yang sama.
Sementara itu, yen Jepang tercatat mengalami depresiasi sekitar 3,99 persen sepanjang tahun berjalan. Won Korea Selatan turun 2,73 persen, sedangkan dolar Taiwan melemah 2,71 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Data tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang di Asia masih berlangsung seiring menguatnya dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.
Yuan China Tampil Berbeda
Di tengah tekanan yang melanda sebagian besar mata uang Asia, yuan China justru mencatat kinerja yang berlawanan.
Sejak awal 2026, yuan menguat sekitar 3,21 persen terhadap dolar AS. Capaian tersebut menjadikan mata uang Negeri Tirai Bambu sebagai salah satu yang memiliki performa terbaik di kawasan Asia sepanjang tahun ini.
Perbedaan arah pergerakan yuan dibandingkan mayoritas mata uang Asia menunjukkan adanya dinamika ekonomi dan kebijakan moneter yang berbeda di masing-masing negara.
Dampak Pelemahan Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor perekonomian nasional.
Nilai tukar yang lebih lemah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, barang modal maupun produk konsumsi yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menambah beban pelaku usaha yang memiliki transaksi menggunakan dolar AS.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi biaya pembayaran utang luar negeri, terutama bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.
Bagi masyarakat, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi berdampak pada kenaikan harga sejumlah barang impor maupun produk yang bahan bakunya berasal dari luar negeri apabila pelemahan berlangsung dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor yang berorientasi ekspor karena nilai penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada struktur biaya produksi masing-masing industri.
Pasar Masih Mencermati Pergerakan Dolar AS
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi sentimen global, terutama arah penguatan dolar AS serta dinamika pasar keuangan internasional.
Fluktuasi nilai tukar juga menjadi indikator yang terus dipantau pelaku pasar karena berpengaruh terhadap keputusan investasi, perdagangan internasional, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Dengan depresiasi hampir 7 persen sepanjang tahun berjalan, posisi rupiah saat ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih menjadi salah satu tantangan utama yang perlu dicermati oleh pelaku usaha, investor, maupun pembuat kebijakan.
Meski sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan, data perdagangan terbaru menunjukkan rupiah masih berada di kelompok mata uang dengan penurunan paling dalam sepanjang 2026. Kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar untuk terus mencermati perkembangan ekonomi global serta arah pergerakan dolar AS dalam beberapa waktu mendatang. (kpc)






