Jebakan Trauma Berulang, Perjuangan Psikologis Warga Sumbar di Zona Merah

Oleh : Muthia Salmi*)

Hidup di Atas Lempeng Resiko

Sumatera Barat (Sumbar) merupakan mozaik keindahan alam yang memukau, namun di bawahnya tersimpan potensi bencana geologis dan hidrometeorologi yang sangat besar. Lokasinya menjadikannya daerah rawan terhadap gempa bumi, longsor, dan banjir bandang.

Realitas ini menempatkan sebagian besar warganya dalam kategori “Zona Merah”, sebuah wilayah di mana ancaman bencana bukanlah sejarah, melainkan keniscayaan yang berulang.

Bagi penduduk yang tinggal di zona ini, perjuangan yang dihadapi melampaui upaya pemulihan infrastruktur atau ekonomi semata. Ada peperangan batin yang jauh lebih senyap dan destruktif: jebakan trauma berulang (recurrent trauma), sebuah beban psikologis yang terus membayangi kehidupan sehari-hari mereka.

Geografi Penderitaan dan Trauma yang Berulang

Data-data mutakhir menegaskan betapa tingginya frekuensi dan dampak dari bencana di Sumbar. Banjir dan longsor bukanlah peristiwa tunggal, melainkan siklus yang terus berulang.

Misalnya, catatan bencana menunjukkan adanya ribuan warga yang terpaksa mengungsi di berbagai kecamatan di Agam akibat banjir dan longsor yang terjadi.

Agam, sebuah kabupaten di Sumbar, bahkan menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak akibat bencana, menunjukkan betapa parahnya dampak yang ditimbulkan. Ketika sebuah bencana kembali melanda, dan bahkan menyebabkan puluhan korban belum ditemukan, siklus kepedihan dan ketidakpastian itu kembali menjerat.

Kondisi ini menciptakan fondasi bagi trauma berulang. Ketika seseorang terpapar serangkaian peristiwa traumatis bukan hanya satu kali, tetapi berulang kali sistem psikologis mereka tidak sempat untuk pulih sepenuhnya.

Hipervigilans dan Kehilangan Rasa Aman

Paparan ancaman yang konsisten, seperti suara gemuruh air atau getaran tanah, menyebabkan individu menjadi hipervigilans waspada secara berlebihan. Sistem saraf simpatik (respons fight-or-flight) selalu aktif, menganggap lingkungan rumah yang seharusnya aman sebagai zona berbahaya.

Kehilangan Kendali: Bencana alam merenggut rasa kendali atas hidup. Ketika bencana terjadi berulang kali, korban mungkin mengembangkan pemikiran bahwa tidak peduli upaya apa pun yang mereka lakukan, nasib buruk tidak dapat dihindari.

Stres Kronis: Stres yang berkelanjutan ini mengubah kimia otak. Produksi kortisol yang berlebihan dapat memengaruhi fungsi kognitif, membuat sulit berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan bahkan mengganggu kualitas tidur.

Emosi yang Terputus: Beberapa korban mengembangkan mekanisme pertahanan diri berupa disosiasi atau memutus diri dari emosi. Ini adalah cara otak melindungi diri dari rasa sakit yang terlalu besar, namun pada saat yang sama, hal ini menghambat proses penyembuhan yang sehat.

Jalan Menuju Resiliensi: Intervensi Holistik

Perjuangan psikologis ini membutuhkan respons yang holistik, tidak hanya terfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pemulihan jiwa.

1. Peran Komunitas dan Kearifan Lokal

Sangat penting untuk memanfaatkan kekuatan kolektif. Kegiatan spiritual, seperti doa bersama bagi para korban bencana yang sering dilakukan di Sumbar, adalah salah satu bentuk dukungan kolektif yang esensial. Hal ini memberikan ruang bagi validasi emosi dan solidaritas.

Program psikososial harus diintegrasikan dengan kearifan lokal. Konsep seperti ‘saling tolong’ dalam budaya Minangkabau dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali rasa aman dan kendali, mengubah rasa takut menjadi aksi kolektif dalam mitigasi.

2. Peningkatan Akses Layanan Kesehatan Mental

Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus memastikan bahwa layanan kesehatan mental tersedia dan terjangkau di Zona Merah.

Intervensi yang berfokus pada trauma berulang (seperti Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy – TF-CBT) harus diutamakan, dan diberikan oleh tenaga profesional yang terlatih.

Tujuan akhirnya bukan hanya “mengobati” trauma, tetapi juga membangun resiliensi psikologis. Yaitu kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali, bahkan di tengah ancaman yang terus ada.

Merangkul Harapan di Zona Merah

Kisah perjuangan psikologis warga Sumbar yang hidup di Zona Merah adalah cerminan dari ketahanan manusia yang luar biasa, namun juga sebuah desakan untuk intervensi yang mendalam. Bencana alam mungkin tidak dapat dihindari, tetapi jebakan trauma berulang dapat diputus.

Dengan dukungan psikososial yang berkelanjutan, penguatan komunitas, dan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme trauma, kita dapat membantu mereka untuk tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga menemukan kembali makna hidup dan harapan, di tengah realitas yang penuh tantangan ini. (*)

*Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Arab

Tinggalkan Balasan