Harga Solar Tembus Rp30.000, Pemilik Mobil Diesel Mulai Beralih ke Mobil Listrik

Ilustrasi. Banyak pemilik mobil diesel kini mulai beralih ke mobil listrik. (Foto: Istockphoto/3alexd)

JAKARTA, FOKUSRIAU.COM-Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dalam beberapa bulan terakhir mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Di tengah biaya operasional kendaraan diesel yang terus membengkak, sebagian pemilik mobil diesel di Indonesia kini mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat.

Fenomena tersebut bukan lagi sekadar asumsi. Pelaku industri otomotif mulai melihat adanya pergeseran perilaku konsumen yang sebelumnya mengandalkan kendaraan diesel untuk mobilitas harian maupun perjalanan jarak jauh.

Chief Executive Officer Xpeng Indonesia, Iki Wibowo mengakui, sejumlah konsumen mobil listrik yang datang ke perusahaannya merupakan pengguna kendaraan diesel yang memutuskan beralih ke teknologi elektrifikasi. Meski belum memiliki data kuantitatif yang rinci, dia menilai, kecenderungan tersebut cukup terasa di lapangan.

Menurut Iki, faktor biaya operasional menjadi alasan utama yang mendorong perubahan tersebut. Ketika harga solar terus meningkat, konsumen mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan mereka dan membandingkannya dengan biaya penggunaan kendaraan listrik.

“Ada konsumen yang menyampaikan langsung bahwa mereka sebelumnya menggunakan mobil diesel. Mereka mulai mempertimbangkan kendaraan listrik, karena biaya operasionalnya lebih ringan,” ujar Iki di Bogor, Jawa Barat.

Pernyataan itu muncul di tengah melonjaknya harga BBM non-subsidi yang membuat pengguna kendaraan diesel menghadapi beban baru. Kenaikan harga energi global yang dipicu ketidakpastian geopolitik dan konflik di kawasan Timur Tengah turut berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Akibatnya, harga solar non-subsidi kini berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, harga solar premium bahkan sudah menembus kisaran Rp30.000 per liter.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Pegadaian Hari Ini Tak Bergerak, Investor di Pekanbaru Pilih Menunggu

Pertamina saat ini menjual Dexlite sekitar Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex berada di kisaran Rp27.900 per liter. Di SPBU swasta, harga yang ditawarkan bahkan lebih tinggi.

BP memasarkan Ultimate Diesel hampir Rp29.900 per liter. Sementara Shell dan VIVO menjual bahan bakar diesel premium dengan harga yang sudah melewati angka Rp30.000 per liter.

Kondisi tersebut membuat banyak pemilik kendaraan diesel mulai melakukan simulasi pengeluaran. Selama ini, kendaraan diesel dikenal lebih irit dibandingkan mesin bensin konvensional. Namun ketika harga bahan bakar melonjak tajam, keunggulan tersebut perlahan mulai tergerus.

Sebagai gambaran, sebuah mobil diesel keluarga dengan konsumsi rata-rata 11 hingga 14 kilometer per liter membutuhkan sekitar 30 liter solar untuk menempuh perjalanan sejauh 400 kilometer. Dengan harga solar premium saat ini, biaya yang harus dikeluarkan dapat mendekati Rp900 ribu untuk satu kali perjalanan.

Di sisi lain, kendaraan listrik menawarkan biaya energi yang jauh lebih rendah. Tarif pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) relatif stabil dan tidak mengalami fluktuasi setinggi harga BBM.

Untuk pengisian normal, biaya listrik berada di kisaran Rp2.466 per kWh. Dengan kapasitas baterai yang umum digunakan pada mobil listrik modern, biaya perjalanan sejauh 400 kilometer diperkirakan hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu.

Perbedaan biaya tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa kendaraan listrik mulai menarik perhatian konsumen yang sebelumnya setia menggunakan mobil diesel.

Baca Juga:  Tebar Kepedulian di Idul Adha, Demokrat Riau Berbagi Daging Kurban ke Warga Pekanbaru

Selain faktor ekonomi, tren peralihan ini juga didukung semakin luasnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus mempercepat pembangunan SPKLU di berbagai daerah serta memberikan insentif untuk mendorong adopsi kendaraan berbasis baterai.

Data industri otomotif juga menunjukkan penjualan mobil listrik terus mengalami pertumbuhan. Kehadiran merek-merek baru dari China, Korea Selatan hingga Eropa membuat pilihan kendaraan listrik semakin beragam dan kompetitif dari sisi harga.

Meski demikian, kendaraan diesel belum akan kehilangan pasar dalam waktu dekat. Segmen kendaraan komersial, logistik, pertambangan hingga perkebunan masih sangat bergantung pada mesin diesel karena karakteristik tenaga dan daya tahannya.

Namun untuk penggunaan pribadi, terutama di wilayah perkotaan, pertimbangan efisiensi biaya kini menjadi faktor yang semakin dominan dalam keputusan pembelian kendaraan.

Pengamat otomotif menilai tren perpindahan dari diesel ke listrik berpotensi semakin besar apabila harga BBM tetap tinggi dalam jangka panjang. Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan harga beli kendaraan, tetapi juga total biaya kepemilikan selama bertahun-tahun.

Jika selisih biaya operasional terus melebar, kendaraan listrik berpeluang menjadi pilihan yang semakin rasional bagi masyarakat kelas menengah.

Pada akhirnya, kenaikan harga solar tidak hanya berdampak pada pengeluaran harian pengguna kendaraan diesel. Situasi ini juga menjadi katalis yang mempercepat transformasi industri otomotif nasional menuju era elektrifikasi.

Ketika biaya energi menjadi pertimbangan utama, kendaraan listrik perlahan mulai dipandang bukan lagi sebagai teknologi masa depan, melainkan solusi mobilitas yang relevan untuk kondisi saat ini. (dtc)

Tinggalkan Balasan