BUMKam Kerinci Kanan Siak Produksi Telur Capai 80 Persen, Dongkrak Pendapatan Kampung

Unit usaha ayam petelur BUMKam Bangkit Karya di Kampung Kerinci Kanan, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, mulai menghasilkan. (Foto: Istimewa)

SIAK, FOKUSRIAU.COM-Unit usaha ayam petelur yang dikelola Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Bangkit Karya di Kampung Kerinci Kanan, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, mulai menunjukkan hasil. Baru tiga bulan operasional, tingkat produktivitas ternak telah mencapai 80 persen dan produksi telur mulai dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kampung dan sekitarnya.

Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa dana ketahanan pangan yang dialokasikan pemerintah kampung pada 2025 tidak hanya berhenti sebagai program belanja, tetapi mulai menghasilkan aktivitas ekonomi yang berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi kampung. Jika produktivitas terus meningkat dan mampu dipertahankan secara berkelanjutan, unit usaha ini berpeluang menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Kampung (PAK).

Lebih dari sekadar menghasilkan telur, perkembangan usaha ini juga membuka peluang penguatan ketahanan pangan lokal. Kehadiran sentra produksi di tingkat kampung berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan telur dari luar daerah sekaligus memperpendek rantai distribusi, sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi lebih cepat dan efisien.

Direktur BUMKam Bangkit Karya, Herawati mengatakan, perkembangan produksi selama tiga bulan terakhir menunjukkan tren yang positif. Menurutnya, produktivitas ayam petelur terus meningkat sampai menyentuh angka 80 persen.

“Alhamdulillah, dalam tiga bulan terakhir produktivitas ayam petelur terus meningkat hingga mencapai sekitar 80 persen. Kami optimistis produksi akan semakin stabil sehingga mampu memberikan keuntungan bagi BUMKam dan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Kampung Kerinci Kanan,” kata Herawati, Jumat (26/6/2026).

Capaian tersebut dinilai penting karena menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran ketahanan pangan dapat diarahkan menjadi investasi produktif yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat. Berbeda dengan program yang hanya bersifat konsumtif, usaha peternakan ayam petelur memiliki potensi menghasilkan arus kas secara berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.

Selain menghasilkan keuntungan, usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, mulai dari pemeliharaan ternak, distribusi hasil produksi hingga pemasaran. Dalam jangka panjang, pengembangan usaha peternakan lokal juga dapat mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan seperti penyediaan pakan, jasa transportasi maupun perdagangan telur di tingkat desa.

Baca Juga:  Kejaksaan Tetapkan 3 Tersangka Dugaan Pemerasan Proyek UKPBJ Siak, Sita Uang Rp421 Juta

Herawati menegaskan, orientasi BUMKam tidak hanya mengejar keuntungan finansial. Menurutnya, usaha ayam petelur juga merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan kampung agar masyarakat memiliki akses terhadap pasokan pangan yang lebih dekat, stabil dan berkelanjutan.

“Kami ingin usaha ini tumbuh menjadi bisnis yang sehat sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberadaan peternakan ini diharapkan menjadi contoh bahwa BUMKam mampu mengelola usaha secara profesional, produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pemerintah Kampung Kerinci Kanan turut mengapresiasi perkembangan unit usaha tersebut. Keberhasilan awal yang dicapai dinilai menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah kampung dan BUMKam mampu mengubah anggaran ketahanan pangan menjadi aset ekonomi yang memberikan nilai tambah.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu efektivitas pemanfaatan dana desa maupun anggaran ketahanan pangan menjadi perhatian berbagai pihak. Banyak program dinilai belum mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata karena masih didominasi kegiatan jangka pendek. Karena itu, munculnya unit usaha produktif yang mulai menghasilkan pendapatan menjadi contoh bahwa pengelolaan anggaran dapat diarahkan pada investasi ekonomi yang memiliki prospek berkelanjutan.

Manfaat usaha ayam petelur juga mulai dirasakan pelaku usaha lokal. Indra Irawan, pemilik usaha barang harian di Kampung Kerinci Kanan mengatakan, meningkatnya produksi telur akan memberikan keuntungan bagi pedagang karena pasokan menjadi lebih mudah diperoleh tanpa harus bergantung sepenuhnya dari luar daerah.

“Program ketahanan pangan ini sangat bagus karena menjadi peluang usaha bagi kedai-kedai di kampung. Kami berharap produksi telur BUMKam terus bertambah sehingga warung-warung tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah,” katanya.

Baca Juga:  Ekspektasi Suku Bunga Tinggi The Fed Tekan Rupiah, Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Ketersediaan pasokan dari peternakan lokal dinilai dapat membantu menjaga stabilitas distribusi, terutama ketika terjadi gangguan pasokan dari daerah lain. Selain itu, rantai distribusi yang lebih pendek juga berpotensi menekan biaya logistik sehingga harga di tingkat konsumen lebih kompetitif.

Meski demikian, keberhasilan usaha peternakan tidak hanya ditentukan oleh tingginya tingkat produksi. Keberlanjutan bisnis juga sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen, kesehatan ternak, efisiensi biaya pakan, kemampuan membaca permintaan pasar hingga strategi pemasaran. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan yang harus dijaga agar produktivitas yang telah dicapai dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

BUMKam Bangkit Karya menyatakan akan terus memperkuat tata kelola usaha melalui peningkatan manajemen operasional, menjaga kesehatan ayam petelur, memperluas jaringan pemasaran serta menambah kapasitas produksi sesuai kebutuhan pasar.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan skala usaha sehingga keuntungan yang diperoleh tidak hanya menopang operasional BUMKam, tetapi juga memberikan kontribusi lebih besar terhadap Pendapatan Asli Kampung.

Apabila produktivitas terus meningkat dan pasar dapat terus diperluas, unit usaha ayam petelur BUMKam Bangkit Karya berpotensi berkembang menjadi salah satu model bisnis desa yang mampu mengintegrasikan program ketahanan pangan dengan penguatan ekonomi lokal.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan dana kampung yang diarahkan pada sektor produktif dapat memberikan manfaat berlapis, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga memperkuat kemandirian ekonomi di tingkat kampung. (bsh)