PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Harga kelapa bulat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau terus mengalami penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Dari sebelumnya Rp2.700 per kilogram, kini turun menjadi Rp2.200 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp1.800 per kilogram di tingkat petani.
Anjloknya harga komoditas yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Inhil tersebut dipicu melimpahnya hasil panen lokal yang terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan pasar ekspor. Kondisi ini membuat petani dan penampung kelapa menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Penurunan harga kelapa menjadi persoalan serius, karena lebih dari 80 persen masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir menggantungkan sumber penghasilan dari sektor perkebunan kelapa. Ketika harga turun drastis, dampaknya langsung dirasakan terhadap pendapatan keluarga, daya beli masyarakat hingga kemampuan memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Muhammad Suderi, salah seorang penampung kelapa di Indragiri Hilir mengatakan, kondisi tersebut membuat seluruh pelaku usaha kelapa mengalami kesulitan.
“Harga kelapa turun cukup dalam. Saat ini berada di kisaran Rp2.200 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp1.800 di tingkat petani. Penyebab utamanya karena produksi melimpah sementara pasar ekspor sedang melemah,” ujar Suderi, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya merugikan petani, tetapi juga penampung yang selama ini menjadi penghubung antara petani dengan pasar.
Akibat harga jual yang terus melemah, sebagian penampung berupaya mencari alternatif agar usaha tetap bertahan. Salah satunya dengan mengolah kelapa menjadi kopra cungkil mentah yang memiliki nilai jual lebih baik dibanding menjual kelapa bulat.
Selain menghasilkan kopra, limbah tempurung kelapa juga mulai dimanfaatkan menjadi arang briket dan karbon. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Jawa Tengah, Jakarta dan Batam sebagai upaya menambah pendapatan di tengah lesunya harga kelapa.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum mampu mengimbangi kerugian yang dialami petani akibat anjloknya harga bahan baku.
Sementara itu, petani kelapa di Indragiri Hilir, Norman mengatakan, penurunan harga kali ini sangat dirasakan masyarakat karena terjadi bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, sebagian besar keluarga petani saat ini tengah menghadapi kebutuhan biaya pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru sekolah dan pembayaran uang kuliah anak-anak mereka.
Ketika harga kelapa turun drastis, pendapatan petani ikut merosot sehingga kemampuan memenuhi kebutuhan tersebut menjadi semakin terbatas.
Kondisi itu dikhawatirkan akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Karena itu, petani dan penampung berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga komoditas kelapa.
Mereka meminta pemerintah menetapkan harga standar kelapa sebagaimana mekanisme yang selama ini diterapkan pada komoditas kelapa sawit. Kebijakan tersebut dinilai penting agar harga di tingkat petani tidak mudah jatuh ketika terjadi kelebihan produksi atau melemahnya permintaan pasar.
Selain penetapan harga acuan, pemerintah juga didorong mempercepat pengembangan industri hilir berbasis kelapa di Indragiri Hilir.
Menurut para pelaku usaha, selama ini sebagian besar hasil kelapa masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga sangat bergantung pada fluktuasi pasar. Dengan berkembangnya industri pengolahan di daerah, nilai tambah komoditas kelapa dapat meningkat dan ketergantungan terhadap pasar ekspor dapat dikurangi.
Pengembangan industri hilir juga diyakini mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, menggerakkan perekonomian daerah, sekaligus memperluas pasar produk turunan kelapa seperti minyak kelapa, kopra, arang briket hingga karbon.
Harapan tersebut muncul karena Indragiri Hilir dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa terbesar di Indonesia. Stabilitas harga dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sektor perkebunan yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.
Petani berharap, pemerintah bisa menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi harga di tingkat petani sekaligus memperkuat industri pengolahan di daerah. Dengan demikian, anjloknya harga kelapa tidak lagi menjadi ancaman yang terus berulang bagi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut. (bsh)






