SIAK, FOKUSRIAU.COM-Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Siak harus diantisipasi serius. Penurunan curah hujan pada Agustus 2026, kondisi El Nino yang berada pada level kuat, membuat potensi munculnya titik panas dan kebakaran meningkat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak meminta pemerintah kampung, masyarakat, dunia usaha dan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla untuk memperkuat pencegahan dan deteksi dini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara mengatakan, musim kering membuat aktivitas yang berpotensi memunculkan api harus menjadi perhatian bersama, terutama pembukaan dan pembersihan lahan.
“Musim kering seperti sekarang rentan dan berpotensi terjadinya karhutla. Kami mengimbau semua pihak tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” ujar Novendra, Jumat (14/8/2026).
Curah Hujan Siak Diprakirakan Rendah
Peringatan tersebut sejalan dengan prakiraan cuaca yang diterbitkan BMKG Kelas II Riau. Berdasarkan surat tertanggal 13 Agustus 2026, curah hujan di Kabupaten Siak pada dasarian III Agustus diprakirakan berada pada kategori rendah, yakni sekitar 10–50 milimeter.
Sifat hujan pada periode tersebut juga diprakirakan berada di bawah normal. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena minimnya hujan dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah mengalami kekeringan.
Dalam situasi seperti itu, sumber api yang awalnya berskala kecil berpotensi berkembang apabila tidak segera diketahui dan ditangani.
Karena itu, BPBD Siak meminta pemantauan titik panas dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah kampung bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) juga didorong aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan.
Dikatakan, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Patroli dan deteksi dini harus menjadi bagian dari upaya pencegahan agar sumber api dapat segera ditangani.
“Kewaspadaan perlu ditingkatkan terhadap aktivitas masyarakat yang berpotensi memunculkan kebakaran, khususnya pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar,” katanya.
El Nino Kuat Jadi Faktor Risiko
Selain penurunan curah hujan, kondisi iklim global turut menjadi perhatian. Informasi BMKG menunjukkan indeks El Nino tercatat +2,77, meningkat dibandingkan +2,20 pada Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan kondisi El Nino kuat. Fenomena ini diprakirakan masih dapat berlangsung hingga awal 2027 sehingga potensi perubahan pola curah hujan dan peningkatan kekeringan perlu terus diantisipasi.
Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) juga diprediksi berada pada fase positif hingga akhir 2026. Kombinasi faktor tersebut menjadi alasan kesiapsiagaan terhadap karhutla tidak hanya diarahkan pada kondisi Agustus saat musim kering berlangsung.
BPBD Siak menilai pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan iklim beberapa bulan ke depan.
BMKG memprakirakan, curah hujan di Kabupaten Siak pada September hingga November 2026 berada pada kategori menengah, sekitar 100–300 milimeter per bulan.
Namun, sifat hujan pada periode tersebut diprakirakan berada pada kategori bawah normal hingga normal dibandingkan rata-rata klimatologis.
Artinya, meskipun curah hujan diprakirakan lebih tinggi dibandingkan Agustus, kondisi tersebut tetap membutuhkan pemantauan. BPBD Siak tidak ingin kesiapsiagaan hanya terpusat pada puncak musim kemarau Agustus–September.
Penguatan patroli, pemantauan titik panas, edukasi masyarakat serta respons cepat terhadap sumber api menjadi langkah yang terus didorong.
Masyarakat Diminta Segera Laporkan Sumber Api
Selain mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, BPBD Siak meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan sumber api di wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.
Pelaporan sejak dini diperlukan agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api berkembang dan meluas.
Unsur pemerintah daerah, pemerintah kampung, MPA, dunia usaha, masyarakat serta seluruh anggota Satgas Karhutla diharapkan menjalankan peran masing-masing dalam pengawasan wilayah rawan.
Bagi Kabupaten Siak, langkah tersebut menjadi penting mengingat risiko karhutla tidak hanya berkaitan dengan munculnya titik panas, tetapi juga kemungkinan meluasnya kebakaran apabila sumber api terlambat diketahui.
Dengan kondisi curah hujan yang masih rendah dan indikator El Nino yang menunjukkan fase kuat, BPBD Siak menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul.
Patroli dan deteksi dini pun diarahkan untuk berjalan secara konsisten, sementara masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran yang dapat menjadi sumber awal karhutla. (bsh)





