SIAK, FOKUSRIAU.COM-Sungai Siak kembali menjadi ruang bagi masyarakat Melayu untuk menghidupkan tradisi keagamaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Puluhan peserta menaiki kapal dan perahu dalam pelaksanaan Ghatib Beghanyut Siak 2026, Kamis (13/8/2026) malam untuk melantunkan zikir, takbir dan tahlil sembari menyusuri aliran Sungai Siak.
Tradisi yang bertepatan dengan 29 Safar 1448 Hijriah itu tidak hanya menjadi agenda budaya. Bagi masyarakat Siak, Ghatib Beghanyut merupakan bagian dari ikhtiar spiritual untuk memanjatkan doa keselamatan bagi negeri, sekaligus menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah, adat dan nilai keislaman yang menjadi bagian dari identitas Melayu Siak.
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Syekh H. Zulfikar selaku pimpinan Ghatib Beghanyut, Dandim 0322/Siak, Ketua Pengadilan Negeri Siak, pimpinan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, alim ulama dan tokoh masyarakat.
Zikir Mengalir Bersama Arus Sungai Siak
Rangkaian Ghatib Beghanyut dimulai dengan kegiatan ziarah ke sejumlah makam Sultan dan tokoh penting dalam sejarah Siak. Ziarah dilakukan ke makam Raja Kecik di Buantan, makam Sultan Tengku Buwang Asmara di Mempura, serta makam Sultan Syarif Kasim II di kawasan Koto Tinggi.
Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum peserta mengikuti perjalanan malam di Sungai Siak. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu, kegiatan itu menghubungkan tradisi yang berlangsung hari ini dengan perjalanan sejarah Kesultanan Siak dan para tokoh yang membentuk kehidupan masyarakat di negeri tersebut.
Selepas salat Isya, peserta berjalan dari Masjid Syahabuddin menuju makam Koto Tinggi. Rombongan kemudian melintasi kawasan depan Istana Siak sebelum menuju Pelabuhan LLASDP.
Sepanjang perjalanan, suasana religius terasa melalui lantunan zikir yang dibaca bersama.
Dari pelabuhan, peserta kemudian menaiki kapal feri atau Roro serta sejumlah perahu bermesin yang telah disiapkan. Rombongan bergerak menyusuri Sungai Siak hingga kawasan Feri Penyeberangan Belantik, Desa Langkai.
Di atas kapal, lantunan takbir, tahlil dan zikir menggema di tengah perjalanan malam.
Bagi masyarakat Melayu Siak, perjalanan mengikuti arus sungai memiliki simbol tersendiri. Arus menuju hilir dimaknai sebagai doa agar berbagai bala, penyakit, marabahaya dan keburukan dijauhkan dari negeri.
Makna tersebut menjadikan Sungai Siak bukan sekadar lokasi pelaksanaan tradisi. Sungai yang sejak dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Siak sekaligus menjadi ruang simbolik tempat masyarakat menyampaikan doa dan harapan.
Menolak Bala, Menjemput Tuah
Wakil Bupati Syamsurizal menyebut, Ghatib Beghanyut sebagai warisan budaya leluhur yang memiliki nilai spiritual dan kearifan Melayu.
Ia mengatakan, tema “Menolak Bala, Menjemput Tuah” tidak semata-mata berbicara mengenai upaya menghindari musibah.
Menurutnya, makna menolak bala juga berkaitan dengan menjauhkan diri dari berbagai perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan. Sementara menjemput tuah dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh untuk memperoleh keberkahan melalui jalan yang diridai Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi salah satu makna penting dalam pelaksanaan Ghatib Beghanyut. Tradisi tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya doa, kebersamaan dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan Sekadar Tradisi, Ada Nilai Kebersamaan
Pelaksanaan Ghatib Beghanyut juga mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan. Tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, aparat dan masyarakat berkumpul dalam suasana yang sama untuk mengikuti zikir dan doa.
Bagi Pemerintah Kabupaten Siak bersama LAMR Kabupaten Siak, pelestarian tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan Melayu.
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, tradisi lokal yang memiliki akar keagamaan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat silaturahmi dan identitas masyarakat.
Ghatib Beghanyut juga memperlihatkan hubungan erat antara adat, sejarah dan agama dalam kehidupan masyarakat Siak. Rangkaian ziarah ke makam para Sultan dan tokoh pendiri Siak sebelum perjalanan sungai memperlihatkan bahwa tradisi tersebut tidak berdiri sendiri.
Ada penghormatan terhadap leluhur, ada doa untuk keselamatan negeri, sekaligus ada upaya menjaga kesinambungan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.
Sungai Siak dan Ingatan Sejarah
Sungai Siak memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan wilayah Siak Sri Indrapura. Dalam pelaksanaan Ghatib Beghanyut, sungai tersebut kembali menjadi bagian utama dari aktivitas masyarakat.
Jika pada kehidupan sehari-hari sungai menjadi jalur pergerakan dan bagian dari ruang sosial masyarakat, dalam tradisi Ghatib Beghanyut sungai memperoleh makna spiritual.
Perahu yang bergerak mengikuti arus menjadi simbol harapan agar segala keburukan meninggalkan negeri. Sementara suara zikir yang terdengar sepanjang perjalanan menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Makna tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berbentuk pertunjukan atau kegiatan seremonial. Dalam Ghatib Beghanyut, budaya hidup melalui praktik keagamaan, hubungan sosial dan ingatan kolektif masyarakat.
Bagi Siak, keberadaan tradisi semacam ini menjadi bagian dari identitas daerah yang tidak terpisahkan dari sejarah Kesultanan Siak, kehidupan Melayu dan nilai-nilai Islam.
Ghatib Beghanyut 2026 pada akhirnya bukan sekadar perjalanan kapal dan perahu menyusuri Sungai Siak pada malam hari. Tradisi tersebut mempertemukan tiga hal sekaligus: penghormatan terhadap sejarah, pelestarian adat dan ikhtiar spiritual melalui doa.
Di tengah arus sungai yang terus bergerak menuju hilir, masyarakat Siak kembali menyampaikan harapan yang sama: agar negeri dijauhkan dari marabahaya dan masyarakat diberi keselamatan, keberkahan serta kekuatan untuk menjaga kehidupan bersama. (bsh)






