Kabut Asap Mulai Tekan Bisnis Hotel dan Restoran di Riau, Okupansi Bisa Anjlok 20 Persen

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan bisnis perhotelan dan restoran di Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan bisnis perhotelan dan restoran di Riau. Dampaknya tidak hanya terlihat dari turunnya okupansi hotel, tetapi juga pembatalan kamar hingga agenda meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Riau, Nofrizal mengatakan, pengalaman kabut asap sebelumnya menunjukkan tekanan terhadap industri pariwisata dan perhotelan dapat berlangsung cukup serius. Tingkat hunian hotel bahkan pernah turun sekitar 20 persen atau lebih.

“Dampak kabut asap karhutla terhadap hotel dan restoran di Riau sangat signifikan. Okupansi turun, banyak pembatalan kamar dan event MICE, omzet restoran juga ikut terkoreksi. Pada kejadian sebelumnya, penurunan bisa sampai 20 persen bahkan lebih,” kata Nofrizal, Rabu (26/8/2026).

Menurut Nofrizal, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas hotel dan restoran. Kabut asap juga dapat memengaruhi mobilitas masyarakat, perjalanan wisatawan, hingga aktivitas tamu korporat yang menjadi bagian penting dari pasar perhotelan.

Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat sebagian calon tamu mempertimbangkan kembali perjalanan mereka ke Pekanbaru maupun daerah lain di Riau. Kekhawatiran terhadap kesehatan menjadi salah satu alasan perjalanan ditunda.

Situasi tersebut kemudian berpengaruh terhadap permintaan kamar hotel. Ketika perjalanan tamu berkurang, pemesanan kamar ikut terdampak dan sejumlah agenda MICE berpotensi dibatalkan atau ditunda.

Gangguan penerbangan akibat kabut asap juga menjadi faktor lain yang dapat menekan sektor perhotelan. Ketidakpastian perjalanan membuat tamu korporat maupun wisatawan harus menyesuaikan rencana kedatangan mereka.

Baca Juga :  Karhutla Kepung Sumur Minyak BSP di Siak, Tim Gabungan Berjibaku Cegah Api Menjalar

Bagi industri hotel, persoalannya menjadi lebih kompleks karena penurunan pendapatan dapat terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan operasional. Manajemen hotel tetap harus memastikan pelayanan berjalan, meski kondisi lingkungan sedang tidak ideal.

Nofrizal mengatakan, pelaku usaha juga perlu menyiapkan fasilitas tambahan untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan tamu ketika kualitas udara memburuk. Kebutuhan tersebut dapat menambah beban operasional perusahaan pada saat tingkat hunian justru berpotensi menurun.

Tekanan juga dirasakan dari sisi tenaga kerja. Paparan asap dan gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dapat memengaruhi kondisi fisik karyawan.

Situasi tersebut membuat manajemen harus melakukan penyesuaian operasional. Pengaturan waktu kerja maupun pergantian jadwal karyawan diperlukan agar kegiatan usaha tetap berjalan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan pekerja.

Bagi restoran, penurunan aktivitas masyarakat juga dapat berimbas terhadap omzet. Ketika mobilitas warga dan tamu dari luar daerah menurun, kunjungan ke restoran berpotensi ikut terkoreksi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada persoalan lingkungan dan kesehatan. Kabut asap juga memiliki efek berantai terhadap sektor jasa yang bergantung pada mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Perhotelan merupakan salah satu sektor yang sangat berkaitan dengan perjalanan orang. Ketika wisatawan, tamu korporat maupun peserta kegiatan MICE mengurangi perjalanan, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha.

Baca Juga :  Harga TBS Sawit Riau Kembali Naik, Umur 9 Tahun Tembus Rp3.878 per Kilogram

Nofrizal berharap, persoalan karhutla di Riau tidak hanya ditangani ketika titik api dan kabut asap sudah muncul. Menurut dia, penanganan perlu dilakukan lebih cepat dan diarahkan pada solusi yang mampu mengurangi ancaman kabut asap berulang.

“Harapan kami penanganan karhutla bisa lebih cepat dan permanen, serta ada dukungan kebijakan dari pemerintah agar pelaku usaha bisa bertahan dan tidak terjadi PHK. PHRI Riau siap bersinergi dengan pemerintah,” ujarnya dikutip FokusRiau.Com dari bisnis.com.

Harapan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha apabila kabut asap kembali terjadi dalam periode yang panjang. Pelaku industri membutuhkan kepastian agar kegiatan bisnis tetap dapat berlangsung di tengah ancaman gangguan kualitas udara.

PHRI Riau juga berharap pemerintah memberikan dukungan kebijakan kepada sektor usaha yang terdampak. Dukungan tersebut dinilai penting agar tekanan terhadap hotel dan restoran tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi tenaga kerja.

Karhutla sebelumnya telah menunjukkan bahwa dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor. Selain mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat, asap juga dapat memengaruhi transportasi, perjalanan, kegiatan ekonomi serta aktivitas usaha.

Bagi Riau, kondisi tersebut menjadi tantangan karena sektor perhotelan dan restoran tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat lokal. Hotel juga bergantung pada arus perjalanan bisnis, kegiatan pemerintahan, wisatawan dan berbagai agenda yang mendatangkan orang dari luar daerah.

Jika perjalanan dan kegiatan tersebut terganggu, efeknya tidak hanya dirasakan pengelola hotel. Restoran, pekerja, penyedia jasa pendukung hingga pelaku usaha lain yang bergantung pada aktivitas tamu juga berpotensi terkena dampaknya.

Baca Juga :  Karhutla Mendekati Blok Rokan, SKK Migas Siaga Satu: Produksi Migas RI Terancam Terganggu

Karena itu, kecepatan penanganan karhutla menjadi faktor penting bagi dunia usaha. Semakin lama kualitas udara terganggu, semakin besar pula risiko terhadap aktivitas ekonomi yang membutuhkan mobilitas masyarakat.

PHRI Riau menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan pemerintah dalam menghadapi persoalan tersebut. Namun, pelaku usaha berharap penanganan karhutla dilakukan secara cepat, berkelanjutan dan tidak berhenti pada penanganan ketika bencana asap telah terjadi.

Bagi industri hotel dan restoran, persoalan kabut asap bukan hanya mengenai berkurangnya jumlah tamu. Ancaman yang lebih luas adalah terganggunya rantai aktivitas ekonomi dan meningkatnya biaya operasional ketika permintaan justru melemah.

Dengan pengalaman penurunan okupansi hingga 20 persen atau lebih pada kejadian sebelumnya, kabut asap kembali menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha perhotelan di Riau. Penanganan karhutla dan dukungan kebijakan pemerintah kini menjadi harapan untuk menjaga aktivitas bisnis serta mencegah tekanan terhadap tenaga kerja. (bsh)