PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Aktivitas Gunung Anak Krakatau berdampak besar terhadap penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Sebaran abu vulkanik membuat operasional penerbangan di empat bandara diperpanjang penghentiannya hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB.
Keempat bandara tersebut berada di wilayah Jakarta, Lampung dan Jawa Barat. Penghentian penerbangan dilakukan sebagai langkah keselamatan menyusul perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyampaikan bahwa operasional penerbangan di bandara-bandara terdampak masih dihentikan hingga batas waktu yang telah ditetapkan.
Bandara yang penerbangannya dihentikan sampai pukul 18.00 WIB adalah Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II (TKG), dan Bandara Husein Sastranegara (BDO).
Penumpang diminta tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan sebelumnya. Status penerbangan dapat berubah mengikuti kondisi sebaran abu vulkanik dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan.
Karena itu, calon penumpang disarankan mengecek informasi langsung kepada maskapai masing-masing atau melalui layanan informasi InJourney Airports sebelum menuju bandara.
Situasi ini menjadi bagian dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang sejak akhir pekan mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah. Laporan terbaru menunjukkan gangguan penerbangan tidak hanya terjadi pada empat bandara tersebut, tetapi juga berdampak pada sejumlah bandara lainnya.
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi, Minggu (6/9/2026) malam. Aktivitas tersebut tercatat pada pukul 20.23 WIB.
Berdasarkan data pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan tersebut tidak terlihat secara visual. Namun, aktivitas erupsi terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 58 milimeter dan berlangsung selama sekitar 44 detik.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat menjadi perhatian karena material vulkanik dapat terbawa angin dan masuk ke jalur penerbangan.
Abu vulkanik juga memiliki risiko terhadap mesin pesawat. Karena itu, perubahan arah dan konsentrasi abu menjadi salah satu faktor yang dipantau dalam menentukan aman atau tidaknya operasional penerbangan.
Abu Vulkanik Terdeteksi ke Jakarta
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau pada Senin pagi. BMKG menyebut, berdasarkan informasi PVMBG, VAAC Darwin serta analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 06.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Sebaran tersebut mencakup wilayah yang berada di sekitar jalur pergerakan abu, termasuk Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya.
BMKG sendiri terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan sebaran abu vulkanik serta dampaknya terhadap atmosfer dan penerbangan. Lembaga tersebut juga menyediakan pemantauan khusus sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui analisis citra satelit.
Penumpang Diminta Pantau Informasi Penerbangan
Dengan kondisi atmosfer yang masih berubah, jadwal penerbangan berpotensi mengalami penyesuaian.
Penumpang yang terdampak penghentian operasional disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai. Penumpang juga perlu memastikan perubahan jadwal, pembatalan maupun pilihan penerbangan pengganti sebelum berangkat ke bandara.
Penghentian sementara penerbangan dilakukan dengan pertimbangan keselamatan. Operasional bandara dapat kembali berjalan setelah kondisi sebaran abu vulkanik dinilai aman bagi penerbangan.
Situasi erupsi Gunung Anak Krakatau masih dipantau. Perubahan aktivitas gunung serta arah pergerakan abu dapat memengaruhi keputusan operasional penerbangan dalam beberapa jam ke depan. (dtc)






