Kualitas Udara Pelalawan Mulai Membaik, PM2.5 Masih Sangat Tidak Sehat

Kualitas udara di Pangkalan Kerinci hari ini berangsur membaik dibandingkan sehari sebelumnya. Dari level berbahaya turun menjadi sangat tidak sehat. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kualitas udara di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau mulai membaik, Rabu (26/8/2026). Namun, perbaikan tersebut belum berarti kondisi udara aman bagi masyarakat, karena paparan partikel halus PM2.5 masih berada pada kategori sangat tidak sehat.

Sehari sebelumnya, Selasa (25/8/2026), kualitas udara di ibu kota Kabupaten Pelalawan itu berada pada level berbahaya. Rabu pagi, indikator kualitas udara turun dari kategori berbahaya menjadi sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan.

Kepala DLH Pelalawan, Eko Novitra mengatakan, penurunan level tersebut menunjukkan adanya perbaikan. Meski demikian, masyarakat masih menghadapi kondisi udara yang kurang baik akibat partikel jerebu dari asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Pagi ini kualitas udara kita ke level sangat tidak sehat. Sehari sebelumnya di level berbahaya,” ujar Eko Novitra, Rabu (26/8/2026).

Dikatakan, jerebu masih memenuhi udara di Pangkalan Kerinci. Intensitasnya memang tidak sebanyak sehari sebelumnya, tetapi kondisi tersebut belum cukup untuk membuat kualitas udara kembali ke tingkat yang baik.

Data pemantauan DLH Pelalawan menunjukkan dua parameter pencemar masih menjadi perhatian utama. Keduanya adalah partikulat PM10 dan PM2.5 yang berkaitan dengan kualitas udara akibat keberadaan partikel di atmosfer.

BACA JUGA :  Karhutla Riau Makin Mengkhawatirkan, Maharani Minta Pemerintah Jangan Tunggu ISPA Melonjak

Parameter PM10 pada Rabu berada di angka 143 dan masuk kategori tidak sehat dengan indikator warna kuning. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 524 dan masuk kategori berbahaya dengan indikator warna hitam.

Sementara itu, parameter PM2.5 tercatat mencapai 239 dan berada pada kategori sangat tidak sehat dengan indikator warna merah. Sehari sebelumnya, angka PM2.5 mencapai 448 dan masuk kategori berbahaya dengan indikator warna hitam.

Dua parameter tersebut menjadi bagian paling krusial dalam pemantauan kualitas udara di Pangkalan Kerinci. Penurunan angka dibandingkan sehari sebelumnya menunjukkan kondisi mulai bergerak membaik, tetapi PM2.5 masih berada pada tingkat yang perlu mendapat perhatian.

Berbeda dengan PM10 dan PM2.5, parameter sulfur dioksida atau SO2 berada pada angka 31 dan masuk kategori baik dengan indikator warna hijau. Parameter ozon (O3) juga berada dalam kategori baik dengan angka 6.

Parameter nitrogen dioksida (NO2) tercatat pada angka 35 dan juga berada dalam kategori baik dengan indikator warna hijau. Dengan demikian, tidak seluruh parameter pencemar menunjukkan kondisi yang buruk pada pemantauan Rabu pagi.

BACA JUGA :  Riau Catat 447 Hotspot, 333 Titik Terkonsentrasi di Pelalawan dan Inhil

Namun, alat pemantau DLH Pelalawan belum dapat membaca seluruh parameter. Parameter karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) tidak terdeteksi karena perangkat untuk mengukurnya sedang mengalami kerusakan.

Kondisi kualitas udara di Pangkalan Kerinci pada Rabu ini juga tidak terlepas dari situasi Karhutla yang sebelumnya membuat kualitas udara memburuk. Sehari sebelumnya, nilai PM10 dan PM2.5 sama-sama berada pada kategori berbahaya.

Perubahan indikator dari warna hitam menjadi merah menjadi gambaran bahwa kondisi udara telah mengalami penurunan tingkat pencemaran. Meski demikian, kategori sangat tidak sehat menunjukkan persoalan kualitas udara belum sepenuhnya teratasi.

Bagi masyarakat Pangkalan Kerinci dan wilayah Pelalawan yang beraktivitas di luar ruangan, kondisi tersebut menjadi perkembangan yang perlu terus dipantau. Terlebih, kabut asap akibat Karhutla masih terlihat menyelimuti kawasan ibu kota Kabupaten Pelalawan.

Pemantauan kualitas udara juga belum berhenti pada Rabu pagi. DLH Pelalawan akan kembali melihat perkembangan kondisi udara pada siang dan sore hari.

Menurut Eko, hujan yang turun di sejumlah wilayah Pangkalan Kerinci dan sekitarnya berpotensi memengaruhi kondisi udara. Hujan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel pencemar yang masih berada di udara.

BACA JUGA :  Stafsus Menhut Mangkir Diperiksa KPK, Selisih Rp2.000 SGD Kasus Bupati Kuansing Masih Misteri

“Siang dan sore nanti akan kita pantau lagi. Karena beberapa diguyur hujan pagi ini. Mudah-mudahan semakin membaik,” kata Eko.

Hujan yang mengguyur Pangkalan Kerinci berlangsung dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun, hujan deras hanya terjadi dalam waktu singkat sehingga belum diketahui sejauh mana pengaruhnya terhadap kualitas udara sepanjang hari.

Kondisi tersebut membuat perkembangan ISPU pada siang dan sore menjadi penting. Perubahan angka PM10 dan PM2.5 akan menunjukkan apakah perbaikan kualitas udara pada Rabu pagi berlanjut atau kembali memburuk.

Untuk sementara, data DLH Pelalawan memperlihatkan adanya penurunan tingkat pencemaran dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, kualitas udara Pangkalan Kerinci masih berada pada kategori sangat tidak sehat sehingga kondisi jerebu dan dampak Karhutla masih menjadi persoalan yang perlu dipantau. (trp)