Listrik Padam, Air Ikutan Macet: Dua Hari Sudah Warga Batam Berjuang di Tengah Kabut Asap

Pemadaman listrik di Batam mengganggu pasokan air bersih dan aktivitas warga. PLN Batam menyebut gangguan sistem. (Foto: Detikcom)

BATAM, FOKUSRIAU.COM-Pemadaman listrik di Kota Batam dan sejumlah wilayah Kepulauan Riau telah mengganggu nadi kehidupan warga. Bukan hanya rumah gelap, aliran air bersih juga ikut terhenti, jaringan telepon terganggu. Belum lagi, kabut asap makin menambah beban masyarakat.

Gangguan pasokan listrik, Senin (12/10/2026) pagi membuat sejumlah aktivitas rumah tangga dan perkantoran tersendat. Di beberapa lokasi, warga harus menghadapi listrik padam selama berjam-jam, tanpa kepastian awal mengenai penyebab gangguan.

Aftah, seorang pegawai negeri sipil yang tinggal di kawasan Tiban, Batam mengaku, listrik di tempat tinggalnya padam sejak sekitar pukul 06.30 WIB. Pasokan baru kembali menyala menjelang tengah malam, tetapi kembali terputus pagi hari berikutnya.

Matinya listrik turut menghentikan aliran air di rumahnya. Gangguan jaringan telepon juga menambah kesulitan warga berkomunikasi.

Kantor tempat Aftah bekerja, terpaksa mengandalkan generator untuk menjaga kegiatan tetap berjalan.

Keluhan sama disampaikan Ani, warga Batam yang sedang berada di Bintan. Menurutnya, pemadaman juga dirasakan di Tanjungpinang.

“Jadi kami ini sudah listrik mati, air tak ada, kena asap pulak,” keluh Aftah.

Situasi tersebut semakin berat karena kegiatan sekolah di sejumlah tempat telah diliburkan akibat kondisi yang terjadi.

PLN Batam Sebut Gangguan Diduga Berasal dari Gardu Induk
PT PLN Batam menyatakan, pihaknya telah melakukan pemulihan pasokan listrik setelah gangguan sistem menyebabkan pemadaman meluas, Senin (12/10/2026) sekitar pukul 06.37 WIB.

Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam, Rudi Antono mengatakan, pemeriksaan awal mengarah pada dugaan masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan.

Baca Juga :  120 Rumah di Padang Terendam Banjir, 672 Warga Mengungsi, Lumpur dan Pasir Tutupi Rumah

Kejadian tersebut diduga memicu gangguan pada instalasi kelistrikan dan berdampak terhadap pasokan di sejumlah wilayah.

Meski demikian, penyebab pasti insiden masih ditelusuri tim teknis bersama pihak berwenang.

Menurut Rudi, pemulihan dilakukan secara bertahap sejak Senin malam. Tim teknis memeriksa dan menormalkan pembangkit, melakukan sinkronisasi unit, lalu memulihkan jaringan transmisi dan distribusi.

Dalam keterangannya di Batam, Selasa (13/10/2026) pagi, Rudi menyebut, seluruh gardu induk dan jaringan transmisi yang terdampak telah kembali beroperasi.

Sampai Selasa pukul 04.00 WIB dini hari tadi, PLN Batam melaporkan pasokan listrik kepada 98 persen pelanggan telah menyala. Sementara itu, 99 persen beban yang sebelumnya padam telah pulih, dan seluruh gardu induk serta jaringan transmisi di Kota Batam kembali beroperasi.

Angka tersebut menunjukkan proses pemulihan telah berjalan jauh, meski dampak yang dirasakan warga tidak hanya berkaitan dengan listrik. Ketika pasokan energi terputus, layanan yang bergantung pada listrik, termasuk pompa air, ikut berpotensi terganggu.

Pasokan Air Menjadi Persoalan Rumah Tangga
Bagi warga, padamnya listrik bukan sekadar kehilangan penerangan. Ketika pompa air tidak berfungsi, kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, memasak, dan membersihkan rumah ikut terganggu.

Kondisi ini membuat pemulihan listrik menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki cadangan air maupun sumber energi alternatif.

Baca Juga :  120 Rumah di Padang Terendam Banjir, 672 Warga Mengungsi, Lumpur dan Pasir Tutupi Rumah

Namun, informasi mengenai gangguan pasokan air dan waktu normalisasi layanan air secara menyeluruh belum dijelaskan dalam keterangan PLN Batam yang disampaikan tersebut.

Karena itu, pemulihan listrik dan kepastian kembalinya distribusi air perlu dipantau sebagai dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu pulih pada waktu bersamaan.

Di tengah keluhan masyarakat, komunikasi terbuka mengenai perkembangan perbaikan akan membantu warga mempersiapkan kebutuhan sehari-hari selama layanan belum sepenuhnya normal.

Kebutuhan Listrik Batam Diproyeksikan Terus Meningkat
Di luar gangguan yang terjadi, Batam juga menghadapi tantangan jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan listrik. Pertumbuhan industri, termasuk pusat data (data center), diperkirakan mendorong kenaikan konsumsi energi secara signifikan.

Anggota sekaligus Deputi Bidang Investasi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Fary Djemy Francis sebelumnya menyampaikan, industri pusat data akan menjadi salah satu tantangan utama bagi sistem kelistrikan Batam dalam beberapa tahun mendatang.

Dalam kegiatan sosialisasi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 354.K/TL.04/MEM.L/2026 tentang Tarif Tenaga Listrik PT PLN Batam di Hotel Mercure Batam, Jumat (25/9/2026), Fary menjelaskan, kebutuhan energi sektor pusat data diperkirakan terus membesar. Pada 2029, kebutuhan listrik sektor tersebut diproyeksikan melampaui separuh beban puncak listrik Batam.

Sementara itu, proyeksi PLN Batam memperkirakan beban puncak meningkat dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan daya berpotensi meningkat hampir tiga kali lipat dalam sembilan tahun.

Baca Juga :  120 Rumah di Padang Terendam Banjir, 672 Warga Mengungsi, Lumpur dan Pasir Tutupi Rumah

Pertumbuhan itu menjadi peluang ekonomi bagi Batam, tetapi juga menuntut kesiapan pembangkit, jaringan transmisi, distribusi, dan sistem pengamanan agar pasokan tetap andal.

Keandalan Listrik dan Air Menjadi Tuntutan Warga
Gangguan yang terjadi memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara listrik dan layanan dasar masyarakat. Ketika pasokan energi terganggu, dampaknya dapat merambat ke penyediaan air, komunikasi, kegiatan pendidikan, hingga aktivitas ekonomi.

Pemulihan yang dilaporkan PLN Batam menjadi langkah awal untuk mengembalikan kegiatan masyarakat. Namun, keandalan sistem perlu dijaga agar gangguan serupa tidak kembali melumpuhkan layanan dalam skala luas.

Di tengah pertumbuhan industri dan meningkatnya kebutuhan energi, masyarakat membutuhkan pasokan listrik yang stabil serta informasi yang jelas ketika terjadi gangguan. Pada saat yang sama, kepastian distribusi air bersih perlu mendapat perhatian agar warga tidak menanggung dampak berkepanjangan.

Bagi masyarakat Batam, listrik yang kembali menyala bukan hanya soal lampu yang terang. Ada air yang harus mengalir, pekerjaan yang perlu dilanjutkan, dan kebutuhan keluarga yang menunggu dipenuhi. (bsh)

Sumber: Republika.co.id