Touring UAS di Siak Ungkap Jejak Kesultanan, Bupati Afni Kenalkan Warisan Budaya Riau

Bupati Afni bersama UAS, Kapolda Riau, Pangdam dan rombongan istirahat sejenak sambil menikmati keindahan Siak. (Foto: Dok. Kominfo Siak)

SIAK, FOKUSRIAU.COM-Touring sepeda motor Ustaz Abdul Somad (UAS), Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo dan Bupati Siak Afni Zulkifli akhir pekan ini, berubah menjadi perjalanan menelusuri jejak sejarah Kesultanan Siak.

Bukan sekadar mengelilingi Kota Siak Sri Indrapura, perjalanan tersebut menjadi ruang memperkenalkan identitas budaya Melayu, sejarah perjuangan dan nilai-nilai spiritual yang masih melekat kuat di bekas pusat kerajaan terbesar di pesisir timur Sumatera itu.

Di tengah berkembangnya tren wisata berbasis pengalaman (experience tourism), Siak menawarkan sesuatu yang berbeda. Daerah ini tidak hanya memiliki bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh, tetapi juga menyimpan narasi panjang tentang kejayaan Kesultanan Siak yang pernah menjadi salah satu kekuatan politik dan perdagangan penting di Nusantara.

Dalam perjalanan itu, rombongan menyusuri sejumlah ikon Kabupaten Siak. Mereka memulai dari Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang membentang megah di atas Sungai Siak menuju Istana Asserayah Hasyimiyah. Sesaat rombongan menikmati makan siang di tepian sungai, kemudian salat di Masjid Syahabuddin, berziarah ke makam Sultan Syarif Kasim II dan menutup kegiatan dengan menikmati durian bersama.

Namun, daya tarik utama touring tersebut bukan sekadar rute yang dilalui, melainkan cerita sejarah yang menyertai setiap lokasi.

Sebagai putri asli Siak Sri Indrapura, Bupati Afni Zulkifli memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenalkan sejarah daerah kepada para tamu.

Menurutnya, setiap sudut Kota Siak memiliki kisah yang menjelaskan bagaimana Kesultanan Siak berkembang menjadi kerajaan yang disegani di kawasan Selat Malaka.

Salah satu penjelasan yang paling menarik disampaikan ketika rombongan berada di atas Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Dari puncak jembatan, mereka menikmati panorama Sungai Siak yang membelah kota dengan aliran berkelok-kelok.

Afni menjelaskan, bentuk Sungai Siak bukan hanya menghadirkan panorama indah, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam sejarah pertahanan kerajaan.

Menurutnya, tikungan-tikungan sungai pada masa lalu menjadi benteng alami yang menyulitkan musuh memasuki pusat pemerintahan Kesultanan Siak. Kondisi geografis itu memungkinkan pasukan kerajaan melakukan pengawasan sekaligus menyergap lawan yang datang melalui jalur sungai.

Baca juga:  Jadi Tersangka Pemerasan Proyek Kapal Gratis, Polres Siak Tahan Kadishub

“Hanya kawasan Sungai Apit yang pernah menjadi salah satu titik peperangan karena letaknya berhadapan langsung dengan laut. Selebihnya, posisi pusat kerajaan memang dipilih dengan sangat strategis,” kata Afni.

Ia menilai, kecerdasan para Sultan Siak dalam menentukan lokasi ibu kota kerajaan menjadi salah satu bukti bahwa pembangunan kawasan pada masa lalu telah mempertimbangkan aspek keamanan, perdagangan, dan keberlanjutan.

Penjelasan tersebut membuat perjalanan touring tidak hanya menghadirkan suasana santai, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana faktor geografis berperan besar dalam perjalanan sejarah Riau.

Bagi Ustaz Abdul Somad, touring itu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Pendakwah asal Riau tersebut mengaku bersyukur dapat mengikuti perjalanan yang menggabungkan silaturahmi, wisata sejarah, dan refleksi spiritual dalam satu rangkaian kegiatan.

Menurutnya, mengenal sejarah daerah merupakan bagian penting untuk memahami jati diri masyarakat Melayu.

Perjalanan menuju kompleks makam Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu momen yang paling khidmat. Di lokasi tersebut, rombongan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan nasional yang dikenal memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Sultan Syarif Kasim II tercatat sebagai tokoh yang menyerahkan sebagian besar kekayaan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia pada awal kemerdekaan. Kontribusi itu menjadi salah satu alasan mengapa namanya dikenang sebagai tokoh nasional sekaligus simbol kecintaan terhadap tanah air.

Bagi UAS, ziarah tersebut bukan sekadar tradisi, tetapi juga pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak dapat dipisahkan dari jasa para pendahulu yang telah membangun fondasinya.

Rangkaian touring juga memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat dikemas secara lebih menarik tanpa kehilangan nilai sejarahnya. Perjalanan menggunakan sepeda motor menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memberi kesempatan menikmati lanskap Kota Siak secara langsung.

Di sepanjang perjalanan, rombongan melintasi kawasan kota tua yang masih mempertahankan karakter arsitektur Melayu. Istana Asserayah Hasyimiyah, Masjid Syahabuddin, hingga tepian Sungai Siak menjadi pengingat bahwa daerah tersebut bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang belajar mengenai sejarah peradaban Melayu di Riau.

Baca juga:  Tikus Berdasi dan Kaum Kroco Mumet

Pendekatan seperti ini dinilai memiliki nilai strategis bagi pengembangan sektor pariwisata daerah. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan bersejarah, tetapi juga memperoleh pengalaman yang utuh melalui cerita, budaya, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.

Kehadiran UAS, Kapolda Riau, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai, serta Bupati Siak dalam satu perjalanan juga menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat.

Selain memperkuat silaturahmi, kegiatan tersebut menjadi pesan bahwa warisan budaya bukan hanya milik pemerintah daerah atau sejarawan, melainkan tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Di tengah derasnya modernisasi, Kabupaten Siak terus berupaya mempertahankan identitasnya sebagai pusat sejarah Melayu di Provinsi Riau. Berbagai situs peninggalan Kesultanan Siak yang masih terawat menjadi modal penting dalam membangun pariwisata berbasis budaya sekaligus memperkuat posisi Siak sebagai salah satu destinasi sejarah unggulan di Pulau Sumatera.

Touring yang berlangsung santai itu akhirnya meninggalkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar perjalanan akhir pekan. Dari atas Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah hingga kompleks makam Sultan Syarif Kasim II, setiap persinggahan menghadirkan cerita tentang kejayaan masa lalu, kecerdasan para pendahulu, serta pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai bagian dari identitas daerah.

Melalui perjalanan tersebut, Siak tidak hanya memperlihatkan keindahan alam dan arsitekturnya, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah yang dirawat dengan baik dapat menjadi kekuatan budaya, pendidikan, sekaligus penggerak pariwisata yang berkelanjutan bagi Riau. (bsh)