Karhutla Riau Melonjak 17 Kali Lipat, 15.477 Hektare Ludes Terbakar

Ilustrasi Karhutla di wilayah Riau beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kembali melonjak tajam di semester pertama 2026. Analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, total 15.477,9 hektare lahan terbakar sepanjang periode 1 Januari sampai 30 Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, 14.227,3 hektare berada di lahan gambut, sedangkan 1.250,7 hektare merupakan lahan mineral. Dominasi kebakaran di kawasan gambut menjadi perhatian serius karena jenis lahan ini dikenal sulit dipadamkan, menghasilkan asap pekat, serta berpotensi memicu bencana kabut asap lintas wilayah.

Lonjakan luas kebakaran ini juga menunjukkan situasi yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada semester pertama 2025, luas karhutla di Riau hanya mencapai 907,8 hektare. Artinya, dalam waktu satu tahun terjadi peningkatan lebih dari 17 kali lipat.

Data tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla kembali meningkat ketika sebagian besar wilayah Riau mulai memasuki puncak musim kemarau.

Bengkalis Menjadi Daerah Terparah
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan kebakaran terluas di Provinsi Riau sepanjang semester pertama tahun ini.

Analisis citra satelit menunjukkan, luas lahan yang terbakar mencapai 8.239,5 hektare, atau lebih dari separuh total luas karhutla di seluruh Riau.

Angka tersebut meningkat sangat drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya 48,3 hektare. Bahkan dibandingkan 2024 yang mencapai 214,7 hektare, lonjakannya tetap sangat signifikan.

Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, Bengkalis memang menjadi salah satu daerah yang paling rentan terhadap kebakaran lahan. Data menunjukkan luas karhutla di Bengkalis:
2025: 48,3 hektare
2024: 214,7 hektare
2023: 723,2 hektare
2022: 256,8 hektare
2021: 2.235,8 hektare
2020: 4.580,4 hektare
2019: 10.410,9 hektare

Meski belum melampaui bencana besar tahun 2019, angka tahun ini menunjukkan ancaman karhutla di Bengkalis kembali memasuki level yang sangat serius.

Pelalawan Menyusul dengan Lonjakan Besar
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas kebakaran mencapai 4.582 hektare. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan:
2025: 647,8 hektare
2024: 1.120,5 hektare
2023: 10,3 hektare
2022: 491,5 hektare
2021: 1.867,7 hektare
2020: 1.984,5 hektare

Meski masih berada di bawah semester pertama 2019 yang mencapai 6.012 hektare, tren kenaikan tahun ini memperlihatkan bahwa Pelalawan kembali menjadi salah satu titik rawan karhutla di Riau.

Indragiri Hilir, Dumai dan Siak Ikut Meningkat
Selain Bengkalis dan Pelalawan, sejumlah daerah lain juga mengalami kenaikan luas kebakaran dibandingkan tahun sebelumnya.

Kabupaten Indragiri Hilir mencatat luas karhutla 956,6 hektare, meningkat tajam dibandingkan 2025 yang hanya 76 hektare. Di Kota Dumai, kebakaran mencapai 607,1 hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya 7,6 hektare.

Sementara itu Rokan Hilir seluas 289,6 hektare, Siak seluas 281,1 hektare, Kepulauan Meranti seluas 199,3 hektare, Kuantan Singingi seluas 103,1 hektare, Kampar seluas 90,1 hektare, Indragiri Hulu seluas 80,7 hektare dan Rokan Hulu seluas 40,5 hektare.

Adapun Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan luas kebakaran paling kecil, yakni hanya 8,4 hektare.

Semester Pertama 2026 Hampir Menyamai Tahun 2020

Jika dibandingkan dengan enam tahun terakhir, luas karhutla semester pertama 2026 menjadi salah satu yang tertinggi.

Berikut perbandingan luas karhutla di Riau pada semester pertama:
2026: 15.477,9 hektare
2025: 907,8 hektare
2024: 4.257,6 hektare
2023: 2.141,2 hektare
2022: 2.726,1 hektare
2021: 6.509,7 hektare
2020: 14.643,9 hektare
2019: 28.214,6 hektare

Data tersebut menunjukkan luas kebakaran tahun ini telah melampaui semester pertama 2020 dan menjadi yang terbesar sejak bencana karhutla besar 2019. Kondisi ini menjadi indikator bahwa risiko kebakaran kembali meningkat setelah beberapa tahun relatif terkendali.

Gambut Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Komposisi lahan yang terbakar menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Karakteristik gambut yang mudah menyimpan bara api membuat proses pemadaman jauh lebih sulit dibandingkan lahan mineral. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu sehingga sering kali kembali muncul meski permukaan terlihat telah padam.

Selain meningkatkan biaya pemadaman, kebakaran gambut juga menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar dan menjadi penyebab utama kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, aktivitas ekonomi, hingga sektor pendidikan.

Bagi Riau, yang memiliki hamparan gambut luas, kondisi ini menjadi tantangan tahunan yang membutuhkan upaya pencegahan jauh sebelum api muncul.

Pemerintah Minta Semua Pihak Tidak Lengah
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan disusun sebagai bahan evaluasi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, fokus utama bukan sekadar membandingkan angka kebakaran antar tahun, tetapi memastikan setiap daerah memperkuat langkah pencegahan.

“Hasil analisis citra satelit menunjukkan luas karhutla di Provinsi Riau periode 1 Januari sampai 30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare. Data ini kami sajikan secara head to head dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya agar menjadi bahan evaluasi bersama,” kata Ferdian, Jumat (17/7/2026).

Ia mengingatkan bahwa memasuki puncak musim kemarau, seluruh elemen harus meningkatkan patroli lapangan, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta mempercepat respons ketika titik api mulai muncul.

“Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif agar karhutla tidak berkembang menjadi lebih luas,” ujarnya.

Ancaman Masih Berpotensi Bertambah
Data yang dipublikasikan baru mencakup periode hingga 30 Juni 2026, sementara musim kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Artinya, luas karhutla di Riau masih berpotensi bertambah apabila tidak diimbangi dengan pengawasan ketat di daerah-daerah rawan, terutama Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hilir, Dumai, Siak, dan wilayah gambut lainnya.

Dengan lebih dari 15 ribu hektare lahan telah terbakar hanya dalam enam bulan pertama tahun ini, tantangan terbesar pemerintah bukan lagi sekadar memadamkan api, tetapi memastikan kebakaran tidak berkembang menjadi bencana kabut asap berskala besar seperti yang pernah terjadi tahun 2019. (mcr)