PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Langit di atas Desa Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau berubah kelabu. Asap pekat menggantung rendah, menutup pandangan hingga puluhan meter. Di tengah suhu yang menyengat dan tiupan angin yang terus berubah arah, deru mesin pompa air menjadi satu-satunya suara yang memecah sunyi.
Di balik kepungan asap itu, personel Manggala Agni kembali berada di garis terdepan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengancam wilayah Riau. Mereka bukan hanya melawan kobaran api, tetapi juga berpacu dengan waktu agar kebakaran tidak meluas ke kawasan yang lebih besar dan memperburuk kualitas udara.
Operasi pemadaman, Kamis (16/7/2026) difokuskan di dua titik utama, Desa Pematang Pudu, Kabupaten Bengkalis dan Kepenghuluan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir. Kedua lokasi menjadi prioritas, karena api masih aktif dan berpotensi meluas akibat kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, tim Manggala Agni terus melakukan pemadaman bersama berbagai unsur di lapangan.
Menurutnya, kondisi di masing-masing lokasi memiliki tantangan yang berbeda, namun sama-sama membutuhkan penanganan intensif agar api tidak semakin meluas.
Hari Ketiga Memadamkan Api di Gambut Rokan Hilir
Di Kabupaten Rokan Hilir, perjuangan memasuki hari ketiga. Api memang mulai berhasil ditekan, namun bara di dalam lapisan gambut masih terus menyala. Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara cepat karena air harus benar-benar meresap hingga ke kedalaman tanah.
Satu regu Manggala Agni Daops Dumai masih disiagakan penuh untuk membasahi area yang diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
“Untuk lokasi di Kepenghuluan Bagan Punak, Bangko, hari ini merupakan hari ketiga pemadaman. Estimasi luas areal sekitar 10 hektare dan masih dikerjakan oleh satu regu Manggala Agni Daops Dumai,” kata Ferdian.
Karakteristik lahan gambut membuat api sering kali tidak terlihat di permukaan, tetapi tetap membara di bawah tanah. Jika tidak dipadamkan secara menyeluruh, bara tersebut dapat kembali memicu kebakaran baru ketika tertiup angin atau terkena vegetasi kering.
Pematang Pudu Jadi Medan Terberat
Sementara itu, situasi di Desa Pematang Pudu dinilai jauh lebih berat. Selain menghadapi asap yang sangat pekat, petugas juga harus berhadapan dengan angin kencang yang berubah arah sehingga kobaran api mudah berpindah ke area lain.
Vegetasi kering yang melimpah menjadi bahan bakar alami yang membuat api dengan cepat menjalar dari satu titik ke titik lainnya.
Asap tebal juga membatasi jarak pandang petugas sehingga proses pemadaman harus dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera memperkuat personel di lapangan dengan mengerahkan dua regu Manggala Agni dari Daops Dumai dan Daops Pekanbaru.
Tidak hanya itu, satu regu tambahan dari Daops Siak juga dikirim sebagai bantuan untuk mempercepat proses pengendalian kebakaran.
“Lokasi di Pematang Pudu saat ini berasap sangat pekat, angin kencang, dan bahan bakar kering melimpah sehingga mempercepat penyebaran api. Saat ini dua regu Manggala Agni sudah berada di lokasi dan satu regu dari Daops Siak masih dalam perjalanan,” ujar Ferdian.
Water Bombing Turun Membantu
Ketika tim darat menghadapi keterbatasan akibat asap yang semakin tebal, dukungan datang dari udara. Helikopter water bombing diterjunkan untuk menjatuhkan ribuan liter air ke titik-titik api yang sulit dijangkau personel di darat.
Operasi udara ini menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan suhu di lokasi kebakaran sehingga tim darat dapat melanjutkan pemadaman sekaligus membuat sekat agar api tidak meluas.
Sinergi antara operasi udara dan pemadaman darat menjadi strategi utama dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Luas Kebakaran Belum Dapat Dipastikan
Meski upaya pemadaman terus dilakukan, hingga Kamis sore tim belum dapat memastikan luas lahan yang terbakar di Pematang Pudu.
Asap yang masih sangat pekat membuat proses pemetaan menggunakan pengamatan lapangan maupun citra satelit belum dapat dilakukan secara optimal.
Keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama sebelum proses pengukuran dilakukan.
“Kami perlu konfirmasi ulang terlebih dahulu. Tim masih belum memungkinkan memberikan estimasi yang valid karena asap masih pekat dan jarak pandang terbatas,” jelas Ferdian.
Operasi pemadaman di Bengkalis tidak hanya melibatkan Manggala Agni. Di lapangan, personel BPBD, TNI, Polri, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) ikut bergabung dalam upaya mengendalikan kebakaran.
Mereka bekerja bergantian membuka akses menuju titik api, mengoperasikan pompa air, hingga membuat sekat bakar agar kobaran tidak merambat ke kawasan lain.
Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman karhutla yang kembali meningkat di Riau, terutama ketika musim kering membuat vegetasi dan lahan gambut semakin rentan terbakar.
Bagi masyarakat, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan api yang menghanguskan vegetasi. Karhutla juga berpotensi menurunkan kualitas udara, mengganggu aktivitas ekonomi, kesehatan, transportasi, hingga pendidikan apabila asap terus meluas.
Karena itu, keberhasilan tim di lapangan bukan sekadar memadamkan api, tetapi juga menjaga agar dampak karhutla tidak kembali menjadi bencana yang mengancam jutaan warga di Bumi Lancang Kuning. (mcr)






