Puluhan pelajar di Tapung Hulu, Kampar, diduga keracunan MBG. Sekitar 40 korban masih mendapat perawatan dan operasional SPPG diminta dihentikan.
KAMPAR, FOKUSRIAU.COM-Puluhan pelajar di Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, harus mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para pelajar berasal dari SD Negeri 008 Rimba Beringin dan SMK Negeri 1 Tapung Hulu. Mereka dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual hingga muntah setelah mengonsumsi makanan program MBG.
Kondisi tersebut membuat para pelajar dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Tapung Hulu. Penanganan dilakukan di puskesmas dan klinik yang berada di sekitar lokasi.
Hingga hari berikutnya, korban masih berdatangan untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Sebagian pelajar yang sebelumnya menjalani perawatan telah diperbolehkan pulang.
Namun, puluhan lainnya masih membutuhkan penanganan tenaga kesehatan. Kondisi tersebut membuat dugaan keracunan MBG di Tapung Hulu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Wakil Bupati Kampar, Misharti yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Kampar, turun langsung memantau kondisi para pelajar yang menjalani perawatan.
Misharti bersama rombongan mendatangi sejumlah fasilitas kesehatan. Di antaranya Puskesmas Tapung, Puskesmas Tapung Hulu, serta Klinik PTPN 4 di Tandun.
Dalam kunjungan tersebut, Misharti juga memantau kondisi para pelajar yang masih mendapatkan penanganan medis.
Dari hasil pemantauan, sekitar 40 pelajar masih menjalani perawatan. Jumlah tersebut belum dapat dipastikan sebagai total keseluruhan korban karena masih terdapat kemungkinan pelajar lain mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Misharti mengatakan pemerintah belum dapat memastikan jumlah korban secara keseluruhan. Otoritas terkait masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan tersebut.
Pemeriksaan menjadi penting untuk memastikan apakah keluhan yang dialami para pelajar memang berkaitan dengan makanan yang disalurkan melalui program MBG.
Selain memastikan kondisi para korban, pemerintah daerah juga mengambil langkah terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut.
Misharti meminta operasional SPPG bersangkutan dihentikan sementara hingga terdapat keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN). “SPPG mestinya di-suspend dulu sampai adanya keputusan dari BGN,” katanya.
Dugaan keracunan ini menjadi perhatian, karena makanan MBG dikonsumsi oleh pelajar dalam jumlah besar. Setiap gangguan pada proses penyediaan makanan berpotensi berdampak terhadap banyak penerima manfaat.
Karena itu, penanganan tidak hanya berfokus pada korban yang mengalami keluhan. Pemeriksaan terhadap makanan dan proses penyediaannya juga diperlukan untuk mengetahui sumber persoalan.
Pemerintah daerah saat ini masih menunggu hasil investigasi dari otoritas terkait. Belum ada kesimpulan mengenai penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para pelajar.
Jumlah korban juga masih dapat berubah apabila terdapat pelajar lain yang mengalami gejala serupa dan kemudian mendatangi fasilitas kesehatan.
Situasi tersebut membuat pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di daerah menjadi perhatian. Terlebih, program tersebut menyasar pelajar sebagai kelompok penerima manfaat.
Di Kampar, kejadian di Tapung Hulu menjadi ujian terhadap mekanisme penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik. Pemerintah perlu memastikan proses penyediaan dan distribusi makanan berjalan sesuai ketentuan sebelum kembali diberikan kepada penerima.
Misharti sendiri telah meminta agar operasional SPPG dihentikan sementara. Keputusan selanjutnya menunggu hasil pemeriksaan dan arahan Badan Gizi Nasional.
Langkah tersebut sekaligus memberikan ruang bagi otoritas terkait untuk melakukan investigasi tanpa adanya aktivitas distribusi makanan dari SPPG yang sedang diperiksa.
Kondisi Korban Masih Dipantau
Sementara itu, para pelajar yang mengalami keluhan masih mendapatkan pemantauan tenaga kesehatan. Sebagian telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan.
Namun, pemerintah daerah belum memastikan seluruh pelajar yang mengalami keluhan telah mendapatkan pemeriksaan. Sebab, masih terbuka kemungkinan adanya siswa yang baru merasakan gejala setelah kejadian.
Kondisi korban menjadi perhatian utama pemerintah daerah sembari menunggu hasil investigasi mengenai dugaan keracunan MBG tersebut.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat menjelaskan penyebab munculnya keluhan pada para pelajar, sekaligus menjadi dasar bagi keputusan terhadap operasional SPPG yang bersangkutan.
Untuk sementara, pemerintah daerah meminta operasional SPPG tersebut dihentikan sampai ada keputusan dari BGN.
Kejadian ini juga menunjukkan pentingnya memastikan keamanan makanan dalam pelaksanaan MBG. Setiap makanan yang diberikan kepada pelajar harus melalui proses penyediaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, penyebab pasti kejadian di Tapung Hulu belum dapat disimpulkan. Pemerintah masih menunggu hasil investigasi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. (trp)


