Harga TBS Sawit Riau Kembali Naik, Petani Plasma Kini Terima Rp3.831 per Kg

Harga sawit di Riau kembali mengalami kenaikan. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kemitraan di Riau kembali mengalami kenaikan pada periode 1-7 Juli 2026. Peningkatan ini menjadi kabar positif bagi ribuan petani sawit yang bermitra dengan perusahaan, setelah harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan inti sawit (kernel) di pasar juga mengalami penguatan.

Kenaikan tertinggi terjadi pada tanaman sawit berumur 9 tahun, baik untuk pola Mitra Swadaya maupun Mitra Plasma. Pada kelompok Mitra Plasma, harga TBS mencapai Rp3.831,76 per kilogram, sedangkan Mitra Swadaya mencapai Rp3.781,37 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren penguatan harga komoditas sawit di tingkat hulu masih berlanjut dan langsung berdampak terhadap penerimaan petani.

Bagi daerah seperti Riau yang merupakan salah satu sentra sawit terbesar di Indonesia, perubahan harga TBS memiliki dampak yang luas. Tidak hanya memengaruhi pendapatan petani, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi pedesaan, daya beli masyarakat, hingga perputaran usaha di wilayah yang bergantung pada sektor perkebunan.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau melalui Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran, Dr Defris Hatmaja mengatakan, penetapan harga tersebut merupakan hasil rapat tim penetapan harga bersama berdasarkan kajian Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan.

Menurutnya, pada kelompok Mitra Swadaya, kenaikan tertinggi terjadi pada umur tanaman 9 tahun sebesar Rp73,77 per kilogram atau meningkat sekitar 1,99 persen dibanding periode sebelumnya.

“Dengan kenaikan tersebut, harga pembelian TBS petani menjadi Rp3.781,37 per kilogram, sedangkan harga cangkang ditetapkan sebesar Rp23,11 per kilogram,” ujar Defris, Kamis (2/7/2026).

Dijelaskan, kenaikan harga minggu ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga jual CPO dan kernel yang menjadi komponen utama dalam perhitungan harga TBS.

Pada periode ini, Indeks K yang digunakan untuk Mitra Swadaya sebesar 92,45 persen. Sementara harga penjualan CPO naik Rp277,49 per kilogram dibanding minggu sebelumnya menjadi Rp15.541,13 per kilogram. Harga kernel juga meningkat Rp373,00 per kilogram menjadi Rp13.319,00 per kilogram.

Baca juga:  Harga Emas Antam Hari Ini Turun ke Rp2.625.000 per Gram, Buyback Merosot Rp15.000

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi kenaikan harga TBS yang diterima petani karena formula penetapan harga memang mengacu pada perkembangan harga produk turunannya.

Sawit Mitra Plasma juga Naik
Defris menyebutkan kelompok umur 9 tahun kembali menjadi yang tertinggi dengan kenaikan Rp55,60 per kilogram atau sekitar 1,47 persen dari periode sebelumnya.

Dengan penyesuaian tersebut, harga pembelian TBS Mitra Plasma untuk tanaman umur 9 tahun kini mencapai Rp3.831,76 per kilogram, sedangkan harga cangkang ditetapkan sebesar Rp19,77 per kilogram.

Untuk Mitra Plasma, Indeks K yang digunakan sebesar 92,87 persen. Harga CPO meningkat Rp167,21 per kilogram menjadi Rp15.472,21 per kilogram, sedangkan harga kernel naik lebih tinggi, yakni Rp444,40 per kilogram menjadi Rp12.812,59 per kilogram.

Naiknya harga TBS memberikan tambahan pendapatan bagi petani sawit yang selama ini sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global. Meskipun kenaikannya tidak terlalu besar, tren positif selama beberapa pekan terakhir menjadi sinyal bahwa pasar CPO masih menunjukkan permintaan yang relatif kuat.

Bagi petani yang memasuki masa produksi optimal, khususnya tanaman berumur sekitar 8 hingga 20 tahun, kenaikan harga tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan usaha perkebunan apabila produktivitas kebun tetap terjaga.

Di sisi lain, harga TBS juga menjadi salah satu indikator penting bagi aktivitas ekonomi di wilayah sentra sawit. Ketika harga meningkat, perputaran uang di tingkat desa biasanya ikut terdorong karena pendapatan petani bertambah dan berdampak pada konsumsi rumah tangga maupun aktivitas usaha lokal.

Namun demikian, pelaku usaha perkebunan tetap perlu mencermati perkembangan harga CPO internasional serta dinamika ekspor yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi harga TBS pada pekan-pekan berikutnya.

Daftar Harga TBS Mitra Swadaya Riau Periode 1–7 Juli 2026
Untuk pola kemitraan swadaya, harga TBS ditetapkan sebagai berikut:

Umur 3 tahun: Rp2.923,85/kg
Umur 4 tahun: Rp3.263,53/kg
Umur 5 tahun: Rp3.504,91/kg
Umur 6 tahun: Rp3.640,78/kg
Umur 7 tahun: Rp3.722,68/kg
Umur 8 tahun: Rp3.768,04/kg
Umur 9 tahun: Rp3.781,37/kg
Umur 10–20 tahun: Rp3.740,94/kg
Umur 21 tahun: Rp3.676,90/kg
Umur 22 tahun: Rp3.603,42/kg
Umur 23 tahun: Rp3.519,88/kg
Umur 24 tahun: Rp3.456,66/kg
Umur 25 tahun: Rp3.404,73/kg
Umur 26 tahun: Rp3.386,06/kg
Umur 27 tahun: Rp3.357,12/kg
Umur 28 tahun: Rp3.302,31/kg
Umur 29 tahun: Rp3.262,08/kg
Umur 30 tahun: Rp3.170,13/kg

Baca juga:  Mentan Amran Bongkar Dugaan Manipulasi Ekspor CPO, Negara Disebut Rugi Rp600 Triliun per Tahun

Komponen perhitungan:
Indeks K: 92,45 persen
BOTL: 0,44 persen
Harga CPO: Rp15.541,13/kg
Harga Kernel: Rp13.319,00/kg
Harga Cangkang: Rp23,11/kg

Daftar Harga TBS Mitra Plasma Riau Periode 1–7 Juli 2026
Sementara untuk kemitraan plasma, harga yang berlaku adalah:

Umur 3 tahun: Rp2.949,68/kg
Umur 4 tahun: Rp3.347,18/kg
Umur 5 tahun: Rp3.548,50/kg
Umur 6 tahun: Rp3.703,60/kg
Umur 7 tahun: Rp3.782,99/kg
Umur 8 tahun: Rp3.827,74/kg
Umur 9 tahun: Rp3.831,76/kg
Umur 10–20 tahun: Rp3.810,90/kg
Umur 21 tahun: Rp3.750,55/kg
Umur 22 tahun: Rp3.692,58/kg
Umur 23 tahun: Rp3.630,79/kg
Umur 24 tahun: Rp3.563,01/kg
Umur 25 tahun: Rp3.486,85/kg
Umur 26 tahun: Rp3.440,62/kg
Umur 27 tahun: Rp3.394,14/kg
Umur 28 tahun: Rp3.348,86/kg
Umur 29 tahun: Rp3.331,61/kg
Umur 30 tahun: Rp3.317,24/kg

Komponen perhitungan:
Indeks K: 92,87 persen
BOTL: 1,29 persen
Harga CPO: Rp15.472,21/kg
Harga Kernel: Rp12.812,59/kg
Harga Cangkang: Rp19,77/kg

Kenaikan harga TBS pada pekan ini memperlihatkan bahwa penguatan harga CPO dan kernel masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga di tingkat petani. Selama tren tersebut bertahan dan produktivitas kebun tetap terjaga, peluang peningkatan pendapatan petani sawit di Riau masih terbuka pada periode-periode berikutnya. (ckl)