El Nino Ekstrem Picu 5.690 Titik Api, Riau Masuk Wilayah Prioritas Ancaman Karhutla

Asap diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Pekanbaru dan sekitarnya, Minggu pagi. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Indonesia tengah menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ketika fenomena El Nino 2026 memasuki fase ekstrem. Sampai 2 Agustus 2026, BMKG mencatat 5.690 titik api di berbagai wilayah Indonesia. Riau termasuk salah satu provinsi yang paling banyak terpantau titik api.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab menjelaskan, peningkatan titik api tahun ini berlangsung lebih cepat dibandingkan periode serupa pada 2015, 2019 dan 2023.

“Jumlah titik api di Indonesia mencapai 5.690 titik,” kata Fachri dalam diskusi El Nino Kuat 2026-2027 dan Dampaknya di Indonesia di Pusat Perubahan Iklim ITB, Kamis (13/8/2026).

Kondisi tersebut membuat Agustus-September menjadi periode yang perlu mendapat perhatian serius. Risiko karhutla diperkirakan meluas terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Riau menjadi salah satu provinsi prioritas bersama Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Riau Berada di Titik Rawan
Posisi Riau dalam daftar wilayah prioritas membuat perkembangan titik api menjadi isu strategis. Karhutla tidak hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Risiko tersebut menjadi lebih penting karena Riau memiliki wilayah yang rentan terhadap kebakaran saat kondisi cuaca kering. Peningkatan titik api dapat berkembang menjadi kebakaran lebih luas jika tidak segera dikendalikan.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Kembali Melonjak Jadi 86 Titik, Bengkalis Masih Terbanyak

Bagi masyarakat, karhutla berpotensi meningkatkan gangguan aktivitas harian ketika asap memburuk. Dampaknya juga dapat menjalar kepada kegiatan transportasi, dunia usaha, perkebunan, serta pelayanan publik.

Karena itu, periode Agustus-September menjadi fase penting bagi pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat untuk memperkuat pencegahan.

BMKG menyebut, pemantauan dan pengawasan perlu ditingkatkan di wilayah prioritas. Langkah tersebut dibutuhkan agar titik api tidak berkembang menjadi kejadian karhutla yang lebih besar.

El Nino 2026 Disebut Ekstrem
Kepala Pusat Perubahan Iklim ITB, Prof Djoko Santoso Abi Suroso mengatakan, fenomena El Nino saat ini telah menunjukkan kecenderungan menuju kategori ekstrem.

Indeks El Nino mulai meningkat sejak Juni. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan iklim yang perlu diantisipasi pada sejumlah sektor.

Namun, ITB belum memastikan apakah dampak El Nino kali ini akan lebih parah dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.

Peneliti PPI ITB Tri Wahyu Hadi mengingatkan bahwa El Nino ekstrem pernah terjadi pada 2015. Saat itu, fenomena tersebut dikenal dengan istilah El Nino “Godzilla”.

Menurut Tri, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi pada sejumlah sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim.

Pertanian menjadi salah satu sektor paling rentan. Ketersediaan air dan produksi pangan dapat terganggu ketika periode kering berlangsung lebih panjang.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Turun dari 158 Jadi 46 Titik, Terbanyak Masih Bengkalis

Dampaknya bagi Riau Tak Hanya Karhutla
Bagi Riau, ancaman El Nino perlu dilihat lebih luas dari sekadar jumlah titik api. Kondisi iklim ekstrem dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor yang bergantung pada ketersediaan air dan kondisi cuaca.

Riau juga memiliki kepentingan ekonomi yang besar pada sektor perkebunan dan industri berbasis sumber daya alam. Karena itu, perubahan kondisi cuaca dapat menjadi faktor yang perlu diperhitungkan pelaku usaha.

Risiko tersebut semakin penting apabila titik api meningkat pada kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat dan kawasan ekonomi. Pemerintah membutuhkan pemantauan cepat untuk memastikan titik api tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu memastikan kesiapan pencegahan dan penanganan kebakaran di wilayah operasionalnya. Respons pada fase awal menjadi penting karena kondisi kering dapat mempercepat perkembangan api.

Bagi pemerintah daerah, situasi ini juga berkaitan dengan kesiapan anggaran, personel, peralatan, dan koordinasi lintas sektor. Pencegahan yang dilakukan lebih awal berpotensi mengurangi biaya penanganan ketika kebakaran sudah meluas.

Agustus-September Menjadi Periode Kritis
BMKG memproyeksikan risiko karhutla mencapai puncaknya pada Agustus hingga September. Setelah itu, risiko di sejumlah wilayah diperkirakan mulai menurun memasuki Oktober-November.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Turun dari 158 Jadi 46 Titik, Terbanyak Masih Bengkalis

Namun, pola tersebut berbeda menurut wilayah. Risiko karhutla disebut meningkat di Sulawesi pada Oktober sebelum kemudian memasuki periode penurunan.

Bagi Riau, dua bulan ke depan menjadi periode yang perlu dipantau secara ketat. Perkembangan titik api, kondisi cuaca, dan respons terhadap kebakaran akan menjadi indikator penting.

Publik juga perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara apabila kebakaran meningkat. Informasi mengenai titik api perlu diikuti dengan tindakan pencegahan agar masyarakat tidak hanya mengetahui jumlah hotspot.

Yang menjadi perhatian berikutnya adalah apakah peningkatan titik api mampu dikendalikan sebelum memasuki fase yang lebih luas. Jika tidak, tekanan terhadap lingkungan, masyarakat, dan aktivitas ekonomi dapat meningkat.

Fenomena El Nino 2026 akhirnya bukan hanya persoalan cuaca. Bagi Riau, kondisi ini menjadi ujian terhadap kesiapan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menghadapi risiko karhutla yang kembali meningkat. (rci)