Hotspot Riau Naik Jadi 24 Titik, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla Masih Belum Berakhir

Petugas Manggala Agni berjibaku memadamkan karhutla di Inhu, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jumlah titik panas atau hotspot di Riau terus meningkat. Kini, jumlah hotspot yang terpantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sampai pukul 23.00 WIB sudah 24 titik. Saat yang sama, BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan dan sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Riau.

Kondisi tersebut menjadi perhatian, karena meningkatnya jumlah hotspot menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski sebagian wilayah masih berpeluang diguyur hujan.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yasir P. mengatakan, hujan telah terjadi di beberapa daerah sejak pagi.

“Pada pagi hari hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan, dan Kota Dumai. Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan, dan Kabupaten Indragiri Hilir pada pagi serta sore hingga malam hari,” ujarnya.

BMKG memprakirakan, cuaca pada siang hari didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan. Namun memasuki sore hingga malam, hujan berpotensi turun di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, serta Kota Dumai.

Sementara itu, pada dini hari hujan masih diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis, Siak, dan Kota Dumai.

Baca juga:  Harimau Sumatera Tewaskan Anak di Pelalawan, BBKSDA Temukan Dugaan Pemicu

Selain potensi hujan, BMKG mencatat suhu udara di Provinsi Riau berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celcius dengan kelembapan udara mencapai 55 hingga 100 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan 10 hingga 40 kilometer per jam.

Untuk wilayah perairan, tinggi gelombang laut diprakirakan berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter atau berada pada kategori rendah.

“Di wilayah perairan, tinggi gelombang laut diprakirakan berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter atau berada pada kategori rendah sehingga aktivitas pelayaran relatif aman. Meski demikian, nelayan dan pengguna transportasi laut tetap diimbau memperhatikan perkembangan cuaca sebelum berlayar,” kata Yasir.

Di sisi lain, hasil pemantauan BMKG hingga pukul 23.00 WIB menunjukkan terdapat 222 hotspot di Pulau Sumatera.

Aceh menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 70 titik, disusul Sumatera Selatan 56 titik, Sumatera Utara 28 titik, Riau 24 titik, Lampung 17 titik, Kepulauan Bangka Belitung delapan titik, Sumatera Barat tujuh titik, Bengkulu tujuh titik, dan Jambi lima titik.

Di Riau sendiri, sebaran hotspot ditemukan di delapan kabupaten dan kota. Kabupaten Siak menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni delapan titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Rokan Hilir dengan tujuh titik.

Baca juga:  Polda Riau Lengkapi Kasus PT Musim Mas, Jaksa Teliti Dugaan Kerusakan Lingkungan Rp187,8 Miliar

Selanjutnya, Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Pelalawan masing-masing terpantau dua titik panas. Sementara Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Kota Dumai masing-masing tercatat satu titik.

“Di Provinsi Riau terpantau 24 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan maupun lahan agar dapat segera ditangani,” ujar Yasir.

BMKG menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah munculnya kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika jumlah hotspot mulai meningkat.

Karena itu, masyarakat diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca resmi, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan yang disertai petir dan angin kencang, serta tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi apa pun.

Peringatan tersebut diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang masih menunjukkan kemunculan titik panas dalam beberapa hari terakhir. (mcr)