Padamkan Karhutla Pelalawan, Empat Helikopter Water Bombing Guyurkan 50,4 Juta Liter Air

Empat helikopter water boombing dikerahkan untuk pemadaman karhutla Pelalawan. (Foto: Wahyu)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau terus diperkuat melalui operasi pemadaman dari udara. Saat ini, empat helikopter water bombing ditempatkan untuk membantu mengatasi titik api.

Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian utama dalam operasi tersebut. Pemadaman dari udara diarahkan ke kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andri Setyawan mengatakan, operasi udara kini difokuskan ke Pelalawan.

Kondisi medan dan akses menuju lokasi kebakaran menjadi pertimbangan dalam menentukan sasaran pemadaman menggunakan helikopter.

Empat Helikopter Masih Beroperasi di Riau
BNPB sebelumnya mengerahkan lima helikopter untuk mendukung penanganan karhutla di Riau. Namun, satu armada kemudian dipindahkan ke Kalimantan.

Pemindahan tersebut dilakukan karena penanganan karhutla di wilayah Kalimantan membutuhkan dukungan lebih besar akibat eskalasi kebakaran di kawasan tersebut.

Dengan perubahan penempatan armada itu, kini terdapat empat helikopter yang menjalankan operasi water bombing di Riau.

Armada tersebut terdiri dari dua helikopter Mi-8, satu Sikorsky dan satu Black Hawk.

Keempat helikopter dilengkapi water bucket untuk mengangkut air menuju lokasi kebakaran. Setiap armada memiliki kemampuan membawa sedikitnya 4.000 liter air dalam satu kali penerbangan pemadaman.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu andalan Satgas Karhutla Udara untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani menggunakan peralatan pemadaman dari darat.

Guyur 50 Juta Liter Lebih Air
Operasi pemadaman udara di Riau telah berlangsung dalam puluhan hingga ratusan penerbangan. Tim Satgas Karhutla Udara tercatat sudah melaksanakan sedikitnya 163 sorti.

Dari seluruh penerbangan tersebut, volume air yang telah dijatuhkan ke kawasan terdampak karhutla mencapai lebih dari 50,4 juta liter.

Angka itu menggambarkan intensitas operasi udara dalam merespons kebakaran yang muncul di sejumlah wilayah Riau.

Pemadaman melalui udara juga menjadi pilihan ketika kondisi lapangan membuat pasukan darat sulit mencapai sumber api dengan cepat.

Di Pelalawan, strategi tersebut kembali menjadi prioritas karena terdapat lokasi kebakaran yang menghadapi kendala akses.

Pelalawan Jadi Sasaran Utama Pemadaman Udara
Kolonel Pnb Andri Setyawan menyebut, Pelalawan sebagai fokus operasi pemadaman udara saat ini.

Helikopter diarahkan untuk menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar. Cara ini diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan api sebelum meluas ke area lain.

Kendala akses darat membuat dukungan helikopter memiliki fungsi strategis dalam operasi tersebut. Pesawat dapat membawa air dalam jumlah besar dan menjangkau lokasi yang tidak mudah didatangi kendaraan pemadam.

Operasi udara juga memungkinkan penanganan dilakukan dari beberapa titik sesuai perkembangan kondisi kebakaran di lapangan.

Namun, pemadaman menggunakan helikopter tidak berdiri sendiri. Operasi tersebut tetap membutuhkan dukungan personel dan peralatan di darat.

Ribuan Personel Gabungan Diterjunkan
Satgas Karhutla Darat turut bergerak melakukan penanganan di lokasi kebakaran. Ribuan personel gabungan dilibatkan dalam operasi tersebut.

Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, Manggala Agni serta Masyarakat Peduli Api.

Pasukan darat bertugas melakukan pemadaman langsung sekaligus mengantisipasi munculnya kembali api di kawasan yang telah ditangani.

Kolaborasi antara tim udara dan pasukan darat diarahkan untuk mempercepat pengendalian kebakaran. Helikopter membantu menjangkau titik yang sulit diakses, sedangkan personel darat melakukan penanganan langsung di lapangan.

Strategi gabungan ini juga dibutuhkan untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Penanganan karhutla Riau saat ini tidak hanya berorientasi pada pemadaman titik api. Satgas juga berupaya mengendalikan potensi penyebaran kebakaran di kawasan rawan.

Keberadaan empat helikopter water bombing memberi tambahan kemampuan bagi petugas ketika api berada di lokasi yang sulit dijangkau dari darat.

Di sisi lain, ribuan personel gabungan tetap disiagakan untuk melakukan pemadaman dan pemantauan di lapangan.

Dengan operasi udara dan darat yang berjalan bersamaan, penanganan karhutla di Riau diarahkan agar titik api dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (why)