Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Turun 4,77 Meter, Tersisa 1,88 Meter dari Batas Terendah

Penampakan tunggul pepohonan yang bermunculan di permukaan saat volume Waduk PLTA Koto Panjang menyusut. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang terus mengalami penyusutan di tengah kondisi kemarau panjang. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, permukaan waduk turun hampir lima meter.

Catatan Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Air (ULPLTA) Koto Panjang menunjukkan elevasi waduk berada di angka 75,38 meter di atas permukaan laut (MDPL) pada Selasa (9/9/2026) pukul 13.00 WIB.

Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan kondisi pada 1 Agustus 2026. Saat itu, elevasi waduk masih tercatat 80,15 MDPL.

Artinya, dalam rentang waktu tersebut terjadi penurunan sekitar 4,77 meter. Kondisi ini membuat posisi elevasi waduk semakin dekat dengan batas terendah atau Low Water Level (LWL).

Tinggal 1,88 Meter dari Batas Terendah
Rentang LWL Waduk PLTA Koto Panjang berada pada level 73,50 hingga 80,59 MDPL. Dengan elevasi terkini 75,38 MDPL, permukaan waduk hanya berjarak 1,88 meter dari batas LWL terendah, yakni 73,50 MDPL.

Baca Juga :  Kabut Asap Pekanbaru Makin Mengkhawatirkan, Sudah 2.751 Warga Terserang ISPA

Batas tersebut menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kemampuan pembangkit dalam mengoperasikan turbin.

Apabila elevasi terus turun mencapai 73,50 MDPL, tiga unit turbin PLTA Koto Panjang tidak lagi dapat dioperasikan. Penurunan elevasi juga membuat pengoperasian pembangkit harus disesuaikan dengan kondisi sistem kelistrikan.

Operasi Turbin Disesuaikan dengan Kondisi Waduk
Manajer ULPLTA Koto Panjang, Dhani Irwansyah membenarkan kondisi penurunan elevasi tersebut ketika dikonfirmasi, Selasa siang.

“Iya,” kata Dhani.

Menurut dia, perubahan elevasi waduk berpengaruh terhadap pengaturan operasional turbin. Penyesuaian pengoperasian pembangkit dilakukan oleh PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (UIP3BS).

Pengaturan tersebut tetap memperhitungkan kebutuhan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera.

Baca Juga :  Antisipasi Dampak Kabut Asap, 102.400 Masker Sudah Dibagikan ke Masyarakat Riau

Pada periode Luar Waktu Beban Puncak (LWBP), satu hingga dua unit turbin dapat dioperasikan. Masing-masing unit menghasilkan daya sekitar 20 Megawatt (MW).

Sementara ketika memasuki Waktu Beban Puncak (WBP), jumlah turbin yang dioperasikan dapat mencapai dua hingga tiga unit dengan kapasitas sekitar 25 MW per unit.

Pola pengoperasian itu menunjukkan bahwa pembangkit tidak selalu bekerja pada kemampuan maksimalnya.

Kapasitas Maksimal PLTA Koto Panjang 114 MW
PLTA Koto Panjang memiliki tiga unit turbin pembangkit. Dalam kondisi maksimal, setiap turbin mampu menghasilkan daya hingga 38 MW.

Jika seluruh unit bekerja pada kapasitas maksimal, total daya yang dapat dihasilkan mencapai 114 MW.

Namun, kondisi elevasi waduk menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana turbin dapat dijalankan.

Semakin rendah permukaan air, semakin terbatas ruang operasional pembangkit. Karena itu, perkembangan elevasi Waduk Koto Panjang menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlangsungan produksi listrik dari pembangkit tersebut.

Baca Juga :  Bupati Siak Tolak Skema Utang SMI: Kami Butuh DBH Untuk Bayar Kewajiban, Bukan Berutang

Dengan posisi elevasi saat ini di 75,38 MDPL, permukaan waduk masih berada di atas batas terendah LWL. Namun jaraknya tinggal 1,88 meter.

Jika kemarau berkepanjangan dan elevasi terus mengalami penurunan, kemampuan operasional tiga turbin PLTA Koto Panjang akan menghadapi batas teknis pada level 73,50 MDPL. (trp)