SIAK, FOKUSRIAU.COM-Ada satu persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi petani Kabupaten Siak di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan, ketersediaan air yang cocok untuk tanaman padi.
Persoalan itu kembali mengemuka ketika Kementerian Pertanian menggelar Gerakan Tanam Serempak (Gertam) ke-14 di Provinsi Riau. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kampung Laksamana, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak, Jumat (18/9/2026).
Gertam ke-14 secara nasional menyasar sekitar 50.000 hektare lahan pertanian yang tersebar di 25 provinsi.
Bagi Siak, gerakan ini bukan hanya soal menanam padi secara serentak. Ada target yang lebih besar, yakni mendorong lahan pertanian agar bisa ditanami lebih sering sehingga produksi pangan ikut meningkat.
Kementan Kejar Percepatan Tanam
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti mengatakan, percepatan tanam menjadi salah satu langkah yang terus didorong pemerintah.
Lahan yang siap tanam diharapkan tidak dibiarkan terlalu lama tanpa aktivitas produksi.
“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal,” kata Idha.
Sasaran Gertam ke-14 berasal dari lahan yang masuk program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR).
Pemerintah menargetkan lahan tersebut segera dimanfaatkan untuk budidaya padi.
Kabupaten Siak dipilih sebagai lokasi utama kegiatan Gertam di Riau karena memiliki kawasan produksi padi dan dinilai ikut menopang ketahanan pangan.
“Kita harapkan ini menjadi motivasi bagi daerah lainnya,” ujar Idha.
843 Hektare Sawah Ada di Sabak Auh
Bupati Siak, Afni menyebut, Kecamatan Sabak Auh memiliki areal persawahan sekitar 843 hektare. Dari luasan tersebut, Kampung Laksamana memiliki sekitar 123 hektare lahan pertanian.
Potensi tersebut masih bisa dikembangkan. Namun, kondisi geografis Siak membuat persoalan air menjadi tantangan tersendiri bagi petani.
Sebagian kawasan pertanian berada dekat dengan pertemuan air sungai dan laut. Kondisi ini membuat petani membutuhkan sumber air dengan kualitas yang sesuai untuk tanaman padi.
Afni menyebut ketersediaan air dengan tingkat keasaman atau pH yang cocok bisa membuka peluang peningkatan frekuensi tanam.
“Andailah ada pasokan air dengan pH yang cocok untuk para petani, petani kami di Siak insyaallah bisa mencapai Indeks Pertanaman 3 sampai 3,5,” kata Afni.
Indeks Pertanaman Siak Sudah 2,5
Saat ini, indeks pertanaman di Kabupaten Siak berada di angka 2,5. Artinya, sejumlah lahan sawah sudah mampu dimanfaatkan untuk beberapa kali musim tanam dalam satu tahun. Namun, masih ada petani yang bergantung pada curah hujan.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi faktor yang sangat menentukan.
Afni mengapresiasi kerja petani dan penyuluh yang tetap berupaya mempertahankan produktivitas lahan dalam situasi tersebut. “Ini berkat petani dan penyuluh yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Menurut Afni, jika persoalan air dapat ditangani dengan baik, peluang meningkatkan frekuensi tanam dan panen akan semakin terbuka.
Target indeks pertanaman 3 hingga 3,5 pun menjadi salah satu gambaran potensi yang ingin dicapai.
Siak Butuh Dukungan Infrastruktur Air
Bagi pemerintah daerah, peningkatan produksi padi tidak cukup hanya dengan memperluas lahan.
Ketersediaan air, kualitas air, pengelolaan lahan dan pendampingan kepada petani ikut menentukan hasil yang bisa diperoleh.
Karena itu, Afni berharap dukungan pemerintah pusat terhadap sektor pertanian di Siak terus diperkuat.
Program optimalisasi lahan dan cetak sawah yang sudah berjalan perlu diikuti dengan dukungan terhadap kebutuhan dasar petani, terutama pengelolaan sumber air untuk sawah.
Jika kebutuhan air terpenuhi, lahan yang sudah tersedia memiliki peluang untuk dimanfaatkan lebih maksimal.
Tanam Serempak Jadi Bagian Percepatan Produksi Pangan
Kementerian Pertanian menempatkan Gertam sebagai salah satu upaya mempercepat pemanfaatan lahan pertanian agar segera menghasilkan.
Program ini menyasar lahan hasil Oplah dan Cetak Sawah Rakyat yang diharapkan tidak berhenti pada tahap pembukaan atau penataan lahan.
Lahan tersebut diarahkan segera masuk ke tahap produksi.
Gerakan tanam serempak juga berkaitan dengan upaya meningkatkan indeks pertanaman, sehingga lahan yang sama dapat memberikan hasil lebih dari satu kali dalam setahun.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah tidak bekerja sendiri. Afni menilai, diperlukan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian dan petani.
Di tengah target peningkatan produksi pangan nasional, Siak kini menghadapi tantangan yang cukup jelas. Lahannya tersedia, petaninya terus bergerak, tetapi dukungan sumber air masih menjadi salah satu penentu.
Gertam ke-14 pun menjadi momentum untuk memperkuat langkah tersebut. Bukan sekadar mengejar luas tanam, tetapi bagaimana setiap hektare sawah dapat terus produktif dan memberi hasil bagi petani. (inf)






