Wilmar Raup Laba Rp4,7 Triliun, Sorotan Kabut Asap dan Ekspor Sawit ke Israel Menguat

Uang sitaan kasus korupsi ekspor CPO dari Wilmar Group saat ditampilkan oleh Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (17/6/2025) kemarin. (Foto: Kompas.com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Di tengah sorotan atas kebakaran lahan di Indonesia dan perdagangan minyak sawit ke Israel, Wilmar International mencatatkan laba bersih US$281 juta atau sekitar Rp4,7 triliun pada kuartal III 2026.

Namun, capaian itu belum sepenuhnya mencerminkan penguatan kinerja operasional perusahaan agribisnis yang berbasis di Singapura tersebut.

Data keuangan Wilmar menunjukkan, laba bersih perusahaan pada periode Juli-September 2026 memang berbalik positif dibandingkan kerugian US$347,7 juta pada kuartal yang sama tahun lalu.

Meski demikian, perbandingan tersebut dipengaruhi pembayaran kompensasi kepada pemerintah Indonesia sebesar US$712,3 juta yang membebani laporan keuangan pada 2025.

Jika pos kompensasi tersebut dikeluarkan dari perhitungan, laba bersih Wilmar justru mengalami penurunan. Angkanya merosot 22,9 persen dari US$364,6 juta menjadi US$281 juta.

Laba bersih inti perusahaan juga turun 25,2 persen menjadi US$267,3 juta. Pada saat yang sama, pendapatan meningkat 13,6 persen menjadi US$21,7 miliar, dibandingkan US$19,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan The Business Times yang terbit Rabu (28/10/2026) mengungkap, pertumbuhan pendapatan belum sejalan dengan peningkatan laba inti Wilmar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa besarnya aktivitas bisnis belum otomatis menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.

Laba Sembilan Bulan Tembus US$889,9 Juta
Jika dilihat dari kinerja sepanjang Januari-September 2026, Wilmar membukukan laba bersih US$889,9 juta. Nilai tersebut meningkat 259,9 persen dibandingkan US$247,3 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan selama sembilan bulan juga tumbuh 15,9 persen menjadi US$60,2 miliar.

Sejumlah lini usaha berkontribusi terhadap kinerja perusahaan, termasuk bisnis minyak tropis dan perkebunan kelapa sawit. Wilmar menyebut peningkatan volume produksi serta harga minyak sawit yang relatif stabil turut menopang bisnis perkebunannya.

Kinerja tersebut menempatkan Wilmar pada posisi keuangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka laba bersih dan laba inti perlu dibaca secara terpisah agar dampak transaksi atau biaya khusus tidak mengaburkan gambaran kondisi bisnis sehari-hari.

Sebagai perusahaan agribisnis dengan jaringan perkebunan, pengolahan, dan perdagangan komoditas lintas negara, Wilmar memiliki operasi yang bersinggungan langsung dengan berbagai isu lingkungan dan rantai pasok.

Dua persoalan kini ikut mengiringi pemberitaan mengenai perusahaan tersebut: penelusuran kebakaran lahan yang berkaitan dengan kabut asap lintas batas dan keberlanjutan perdagangan minyak sawit Indonesia ke Israel.

Otoritas Singapura Meminta Keterangan soal Kebakaran
Pada 23 Oktober 2026, Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) mengirimkan pemberitahuan kepada 10 perusahaan yang terdaftar di Singapura, termasuk Wilmar International.

Melalui pemberitahuan itu, perusahaan diminta memberikan informasi mengenai konsesi lahan mereka di Indonesia, hubungan korporasi, serta langkah pencegahan dan penanganan kebakaran.

Permintaan tersebut mengacu pada Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas Singapura. Pemerintah negara itu berupaya menelusuri kemungkinan hubungan antara kegiatan perusahaan dan kebakaran lahan yang berkontribusi terhadap kabut asap lintas negara.

Wilmar juga menerima permintaan keterbukaan informasi dari Singapore Exchange Regulation (SGX RegCo). Regulator pasar modal tersebut meminta perusahaan perkebunan yang beroperasi di Indonesia menjelaskan kebijakan pemantauan dan penanganan kebakaran, termasuk dasar penilaian mereka terhadap dampak kebakaran bagi kegiatan usaha.

Permintaan informasi itu menjadi bagian dari pengawasan terhadap keterbukaan perusahaan. Namun, langkah administratif tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perusahaan yang dimintai keterangan bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran.

Penyelidikan Kebakaran di Kalimantan Barat
Dalam keterbukaan informasi terpisah, Wilmar mengungkapkan bahwa kepolisian Indonesia tengah melakukan penyelidikan awal atas kebakaran yang berdampak pada sekitar 28 hektare lahan perkebunan milik anak perusahaannya di Kalimantan Barat.

Perusahaan menyatakan telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam proses tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan internal Wilmar, api diduga berasal dari luar batas konsesi atau area yang tidak ditanami. Area yang disebut perusahaan mencakup lahan yang dikelola masyarakat serta kawasan konservasi dalam pengelolaannya.

Wilmar menyatakan tidak menemukan bukti yang menghubungkan kebakaran tersebut dengan aktivitas persiapan maupun pembukaan lahan oleh perusahaan.

Dampak terhadap tanaman dan pohon kelapa sawit diperkirakan menimbulkan kerugian kurang dari US$500 ribu.

Keterangan itu masih perlu ditempatkan dalam konteks proses penyelidikan yang berjalan. Hasil pemeriksaan internal perusahaan tidak menggantikan temuan aparat berwenang, sehingga penyebab kebakaran dan kemungkinan tanggung jawab pihak terkait tetap harus merujuk pada bukti yang dapat diverifikasi.

Wilmar juga menyatakan tidak memiliki hubungan operasional, rantai pasok, maupun bisnis dengan 10 perusahaan Indonesia yang sebelumnya menerima pemberitahuan tindakan pencegahan dari NEA.

Ekspor Sawit Indonesia ke Israel Masih Berlangsung
Di luar persoalan lingkungan, perdagangan minyak sawit Indonesia ke Israel turut menjadi perhatian publik. Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, tetapi data perdagangan menunjukkan arus ekspor komoditas tersebut tetap berlangsung.

Data Kementerian Pertanian yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebagaimana dikutip Republika dan dirujuk FokusRiau.Com, mencatat ekspor sawit Indonesia ke Israel mencapai sekitar 29.605 ton pada 2023 dengan nilai US$28,06 juta.

Setahun berikutnya, volume pengiriman turun menjadi 22.357 ton dengan nilai US$22,46 juta. Pada 2025, volumenya kembali menyusut menjadi 19.487 ton, sedangkan nilai ekspor tercatat US$22,63 juta.

Sementara itu, selama Januari-Agustus 2026, ekspor sawit Indonesia ke Israel mencapai sekitar 10.406 ton dengan nilai US$12,34 juta.

Data tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan sawit tetap berjalan meskipun volume ekspor dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun.

Penelitian Fidelis Adhiyatna Bagaskara dan Rizal Budi Santoso dari Universitas Widyatama yang terbit pada 2026 juga memperkirakan Indonesia memasok rata-rata 71,1 persen dari total impor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Israel sepanjang 2020-2025.

Angka tersebut menggambarkan besarnya peran Indonesia dalam memenuhi kebutuhan minyak sawit Israel. Namun, data perdagangan bilateral tidak dapat digunakan untuk langsung menyimpulkan perusahaan tertentu sebagai eksportir, pemasok, atau pihak yang memperoleh keuntungan dari transaksi tersebut.

Identitas perusahaan yang melakukan pengiriman, pembeli akhir, serta jalur distribusi setiap komoditas membutuhkan bukti perdagangan dan penelusuran rantai pasok tersendiri.

Transparansi Rantai Pasok Menjadi Perhatian
Wilmar International menjalankan kegiatan perkebunan, pengolahan, dan perdagangan komoditas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Skala bisnis tersebut membuat keterbukaan informasi mengenai pengelolaan lahan, pencegahan kebakaran, dan alur perdagangan menjadi bagian dari perhatian terhadap tata kelola perusahaan.

Dalam konteks kebakaran, publik membutuhkan kejelasan mengenai asal api, status lahan terdampak, hasil pemeriksaan aparat, serta langkah pemulihan yang dilakukan pihak terkait.

Pada sisi perdagangan, keterlacakan rantai pasok dibutuhkan untuk menjelaskan asal komoditas, pihak yang terlibat dalam transaksi, dan tujuan pengiriman. Data ekspor nasional dapat memberikan gambaran hubungan dagang antarnegara, tetapi tidak cukup untuk menetapkan keterlibatan perusahaan tertentu tanpa bukti pendukung.

Dengan demikian, capaian laba Wilmar dan sorotan terhadap persoalan lingkungan maupun perdagangan perlu dibaca sebagai dua ranah yang berbeda, meskipun keduanya berkaitan dengan aktivitas perusahaan agribisnis tersebut.

Laporan keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba. Sementara itu, penyelidikan kebakaran dan penelusuran rantai pasok membutuhkan pemeriksaan berdasarkan dokumen, bukti lapangan, serta keterangan pihak yang berwenang.

Hingga terdapat hasil pemeriksaan yang dapat dipastikan, permintaan informasi dari otoritas Singapura dan penyelidikan awal di Indonesia tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan Wilmar sebagai penyebab kebakaran.

Demikian pula, data ekspor sawit Indonesia ke Israel tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan Wilmar dalam pengiriman komoditas ke negara tersebut. (bsh)

Sumber: Republika.co.id