PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Zaman boleh berubah, tetapi gagasan besar tentang pendidikan dan kemajuan perempuan tetap menemukan jalannya.
Itulah pesan yang disampaikan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli kala menghubungkan dua sosok perempuan yang hidup pada masa berbeda, Tengku Agung Syarifah Latifah dan Chadijah Ali.
Bagi Afni, keduanya memiliki kesamaan visi dalam memandang pendidikan sebagai pintu pembebasan masyarakat dari keterbelakangan. Mereka juga memiliki keyakinan bahwa perempuan harus diberi ruang untuk tumbuh, memperoleh pengetahuan dan mengambil peran dalam membangun peradaban.
Pemikiran tersebut disampaikan Afni saat menghadiri Tasyakuran Universitas Islam Chadijah Ali Riau di Auditorium UIC, Jalan KH Ahmad Dahlan, Pekanbaru, Jumat (30/10/2026).
Di hadapan kalangan akademisi dan tokoh masyarakat, Afni mengajak publik melihat lebih jauh warisan pemikiran kedua tokoh tersebut. Menurutnya, penghormatan terhadap perempuan yang berjasa dalam sejarah tidak cukup diwujudkan melalui nama yang diabadikan pada lembaga pendidikan. Gagasan dan perjuangannya juga harus terus dihidupkan.
Latifah School, Jejak Perjuangan Pendidikan Perempuan di Siak
Afni membawa ingatan hadirin kembali ke masa Kesultanan Siak, ketika kesempatan memperoleh pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas.
Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II, kondisi sosial masyarakat belum memberikan ruang yang luas bagi anak perempuan untuk mengenyam pendidikan. Bahkan, sebagian dari mereka telah dinikahkan ketika baru memasuki usia akil balig.
Di tengah keadaan tersebut, Tengku Agung Syarifah Latifah tampil dengan gagasan yang jauh melampaui kebiasaan zamannya.
Bersama Sultan Syarif Kasim II, ia memandang pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Kebodohan dan kemiskinan tidak cukup dilawan dengan kekuatan fisik. Masyarakat harus dibekali ilmu pengetahuan agar mampu membangun masa depannya sendiri.
“Caranya apa? Pendidikan,” tutur Afni ketika menjelaskan pemikiran Sultan bersama permaisurinya dalam menghadapi keterbatasan masyarakat pada masa penjajahan.
Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui pendirian Latifah School, sebuah sekolah khusus perempuan di lingkungan Kesultanan Siak.
Sekolah yang bangunannya masih dapat dijumpai di kawasan Istana Asserayah Hasyimiah, Siak Sri Indrapura, tersebut menjadi salah satu jejak nyata perhatian terhadap pendidikan perempuan pada masa itu.
Hal yang menarik, materi pembelajarannya tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Para siswi juga mendapatkan pengajaran tiga bahasa, yakni Arab, Inggris, dan Belanda.
“Ini sekolah perempuan pertama. Di masa penjajahan yang tidak tanggung-tanggung, mengajarkan tiga bahasa sekaligus khusus untuk perempuan saat itu,” ulas Afni.
Bagi Afni, langkah Tengku Agung tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan tidak selalu harus tampil dalam bentuk perlawanan terbuka. Membangun kecerdasan generasi dan membuka akses pendidikan juga menjadi bentuk perjuangan yang memiliki dampak panjang.
Chadijah Ali Mewariskan Semangat yang Sama
Dari sejarah Kesultanan Siak, Afni kemudian menarik hubungan dengan sosok Chadijah Ali, tokoh perempuan yang namanya kini diabadikan sebagai Universitas Islam Chadijah Ali Riau.
Menurut Afni, terdapat kesamaan orientasi pemikiran di antara kedua perempuan tersebut. Keduanya menempatkan perempuan sebagai bagian strategis dalam pembangunan masyarakat melalui pendidikan.
Walaupun tidak hidup dalam satu zaman dan kemungkinan tidak pernah bertemu, keduanya memiliki perhatian terhadap persoalan yang sama: bagaimana perempuan memperoleh kesempatan untuk berkembang dan memberikan sumbangsih bagi lingkungan sekitarnya.
“Saya ingin sedikit menukil sejarah tentang sosok ibunda kita, Ibunda Chadijah Ali. Yang tanpa mengurangi rasa hormat dengan para sejarawan, ingin saya coba sandingkan dengan tokoh dari Kabupaten Siak, yaitu Tengku Agung Syarifah Latifah,” ungkapnya.
Afni menegaskan, perbandingan tersebut bukan untuk menentukan siapa yang lebih besar atau lebih berjasa. Justru, kedua tokoh itu memiliki warisan pemikiran yang layak ditempatkan dalam satu rangkaian sejarah perjuangan pendidikan perempuan.
“Tanpa ingin memperseterukan siapa yang paling hebat karena semuanya hebat. Saya melihat, mari kita menyerap inspirasi dari dua tokoh yang luar biasa ini,” katanya.
Perempuan Terdidik, Fondasi Masa Depan Generasi
Dalam pandangan Afni, perhatian terhadap pendidikan perempuan memiliki alasan mendasar. Perempuan tidak hanya menjalankan peran dalam kehidupan keluarga, tetapi juga ikut menentukan kualitas generasi yang akan datang.
Pendidikan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenali kemampuan dirinya, memperluas wawasan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan pembangunan.
Perempuan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Mereka juga mempunyai bekal lebih kuat untuk mendidik anak, membangun keluarga, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Karena itu, Afni mempertanyakan mengapa pemikiran Chadijah Ali maupun Tengku Agung begitu kuat memberikan perhatian kepada kaum perempuan.
“Pemikirannya Ibunda Chadijah Ali juga sama. Yang difokuskannya adalah perempuan. Mengapa harus perempuan?” ujar Afni.
Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kualitas pendidikan perempuan. Ketika perempuan mendapatkan akses yang setara terhadap pengetahuan, manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.
Universitas Jangan Hanya Menjadi Penjaga Nama Besar
Kehadiran Universitas Islam Chadijah Ali Riau, menurut pesan yang disampaikan Afni, dapat menjadi momentum untuk meneruskan semangat perjuangan pendidikan yang telah dirintis para pendahulu.
Nama Chadijah Ali yang melekat pada perguruan tinggi tersebut membawa tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang diperjuangkannya.
Pendidikan tidak semestinya berhenti pada kegiatan akademik dan pencapaian gelar. Lebih jauh, lembaga pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Dalam acara tersebut, Afni hadir bersama sejumlah tokoh pendidikan dan akademisi, di antaranya Rektor UIN Suska Riau Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, Rektor Universitas Islam Riau Assoc. Prof. Dr. Admiral, Sekretaris YLPI Riau Dr. H. Arifin Bur, serta Guru Besar Fakultas Hukum UIR Prof. Dr. Syafrinaldi, SH, MCL.
Turut hadir Anggota DPRD Riau Dra. Hj. Septina Primawati, Ketua Umum Yayasan Diniyah Pekanbaru Dr. Hj. Hasnati, SH, Ketua Dewan Pembina Ir. Zulkifli Saleh, serta sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat lainnya.
Bagi Afni, sejarah Tengku Agung Syarifah Latifah dan Chadijah Ali menyampaikan satu pelajaran yang relevan hingga hari ini: perubahan besar dapat dimulai dari keberanian membuka kesempatan bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan.
Dua perempuan itu terpisah oleh zaman, tetapi dipertemukan oleh gagasan. Sebuah warisan yang tidak cukup dikenang, melainkan perlu diteruskan melalui pendidikan yang memberi ruang bagi setiap perempuan untuk maju dan mengambil bagian dalam membangun masa depan. (bsh)






