Kolom  

Ketika Pasangan Bermarwah (Harus) “Bakarek Rotan”

Oleh: Boy Surya Hamta*

Politik sering kali memperlihatkan dua wajah sekaligus. Pada satu waktu, ia menjadi ruang persatuan yang melahirkan harapan. Pada waktu yang lain, ia dapat berubah menjadi arena perbedaan yang membuka luka lama ke hadapan publik.

Pemandangan itu tampak dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, Rabu (3/6/2026).

Persidangan yang semestinya berfokus pada pembuktian perkara justru memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah menarik: terbukanya konflik politik antara Abdul Wahid dan wakilnya, SF Hariyanto.

Bagi masyarakat Riau, pemandangan tersebut tentu menghadirkan ironi tersendiri. Sebab belum lama rasanya, keduanya tampil sebagai simbol persatuan dalam Pilgub Riau 2024 yang mengantarkan mereka memimpin Riau pada periode 2025-2030.

Dengan mengusung tagline “Bermarwah”, pasangan ini berhasil meraih dukungan luas masyarakat di berbagai daerah, termasuk dari kawasan pesisir hingga daratan.

Di beberapa basis penting pemilih Melayu di Riau, pasangan ini malah memperoleh dukungan signifikan yang ikut mengantarkan kemenangan mereka dalam kontestasi politik tersebut.

Tagline “Bermarwah” ketika itu bukan sekadar slogan kampanye. Ia membawa pesan tentang kehormatan, persatuan, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai budaya Melayu.

Marwah dalam tradisi Melayu bukan hanya soal jabatan, melainkan tentang menjaga kehormatan diri, amanah, serta hubungan baik dengan sesama.

Karena itu, ketika hubungan dua tokoh yang dahulu begitu hangat berdiri di satu panggung, kini dipertontonkan dalam bentuk saling bantah di ruang sidang, publik tentu bertanya: bagaimana sebuah pasangan politik yang dibangun atas semangat kebersamaan bisa sampai pada titik seperti sekarang?

Baca Juga:  Dari Jalan Jambu Mawar, Semangat Ketahanan Pangan Tumbuh Lewat Budidaya Lele Warga Tampan

Teringat satu ungkapan dalam khazanah budaya Minangkabau. Sebuah ungkapan yang relevan untuk menggambarkan situasi semacam ini, yakni “bakarek rotan”.

Rotan yang saling berakar dan melilit pada awalnya terlihat kokoh. Ia tumbuh bersama, saling menopang, dan sulit dipisahkan. Namun ketika tarikan terjadi dari dua arah yang berbeda, lilitan itu justru dapat berubah menjadi sumber ketegangan.

Semakin kuat ditarik, semakin besar pula kemungkinan serat-seratnya terurai dan putus. Filosofi “bakarek rotan” sesungguhnya mengajarkan bahwa kedekatan tidak selalu menjamin kesamaan pandangan sepanjang perjalanan.

Dua orang dapat dipertemukan oleh tujuan yang sama, tetapi dalam perjalanan waktu memiliki cara pandang yang berbeda tentang bagaimana tujuan itu harus dicapai.

Dalam politik, fenomena demikian bukanlah sesuatu yang baru. Sejarah pemerintahan di berbagai daerah maupun tingkat nasional menunjukkan bahwa pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah kerap menghadapi tantangan yang sama.

Saat masa kampanye, keduanya dipersatukan oleh kebutuhan memenangkan kontestasi. Namun setelah pemerintahan berjalan, muncul dinamika baru berupa pembagian peran, kewenangan, komunikasi politik hingga ekspektasi masing-masing pihak.

Apa yang muncul ke permukaan dalam persidangan Abdul Wahid dan SF Hariyanto menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang tampaknya telah berlangsung cukup lama.

Abdul Wahid merasa telah memberikan ruang dan kepercayaan kepada wakilnya. Di sisi lain, SF Hariyanto mengaku tidak memperoleh keterlibatan yang cukup dalam proses pemerintahan.

Baca Juga:  Panen Raya Jagung 4 Ton di Kampar, Polsek Payung Sekaki Perluas Lahan Ketahanan Pangan

Kedua pandangan tersebut sama-sama muncul dalam ruang persidangan dan menjadi konsumsi publik.

Dalam posisi ini, publik tentu tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting adalah membaca peristiwa ini sebagai pelajaran politik bahwa membangun koalisi ternyata jauh lebih mudah dibandingkan merawatnya setelah kekuasaan diraih.

Filosofi “bakarek rotan” mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah ikatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa erat hubungan itu dibangun pada awalnya, tetapi juga oleh kemampuan menjaga komunikasi ketika perbedaan mulai muncul.

Pada akhirnya, yang sedang disaksikan masyarakat Riau hari ini bukan sekadar retaknya hubungan dua tokoh politik.

Publik sedang melihat bagaimana sebuah pasangan yang dahulu menjual narasi persatuan dan marwah kini menghadapi ujian terbesar dalam perjalanan politik mereka.

Seperti rotan yang saling melilit, keduanya pernah tumbuh dalam tujuan yang sama. Namun waktu memperlihatkan bahwa setiap ikatan politik memiliki batas ujinya sendiri.

Ketika akar-akar yang dahulu menyatu mulai bergerak ke arah berbeda, maka yang tersisa bukan lagi pertanyaan tentang siapa yang lebih kuat, melainkan bagaimana sejarah akan mencatat perjalanan mereka.

Dan di titik itulah, ungkapan Minangkabau “bakarek rotan” menemukan maknanya: hubungan yang paling kokoh sekalipun dapat mengalami renggang ketika arah tumbuhnya tidak lagi sama. (*)

*Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi FokusRiau.Com

Tinggalkan Balasan