PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih mendeteksi sembilan titik panas (hotspot) di Riau, Kamis (23/7/2026). Temuan itu muncul di tengah kondisi cuaca yang didominasi hujan di berbagai wilayah.
Keberadaan hotspot menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai, meskipun sebagian besar wilayah Riau diprakirakan mengalami hujan dari pagi hingga dini hari.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Bella R. Adelia menjelaskan, secara keseluruhan terdapat 124 hotspot yang terpantau di Pulau Sumatera.
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak yakni 53 titik. Selanjutnya Lampung 16 titik, Sumatera Selatan 15 titik, Jambi 13 titik, Kepulauan Bangka Belitung 12 titik, Riau sembilan titik, Bengkulu empat titik, serta masing-masing satu titik di Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.
Di Riau sendiri, sembilan hotspot tersebut tersebar di enam kabupaten. Kabupaten Siak menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak yakni tiga titik, disusul Kabupaten Bengkalis dua titik.
Sementara masing-masing satu titik berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Kampar, Pelalawan, dan Rokan Hulu.
“Hotspot di Provinsi Riau masih terpantau sebanyak sembilan titik. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan tetap meningkatkan kewaspadaan meskipun peluang hujan cukup tinggi di sejumlah wilayah,” kata Bella.
Menurut BMKG, hujan memang berpotensi terjadi di banyak wilayah Riau mulai pagi, siang, malam hingga dini hari. Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan potensi munculnya titik panas.
Karena itu, upaya pencegahan karhutla tetap menjadi perhatian bersama, terutama di daerah yang masih terpantau memiliki hotspot.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan apabila kondisi cuaca berubah menjadi lebih kering.
Pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, serta pihak terkait juga diharapkan terus memantau perkembangan hotspot sebagai langkah deteksi dini agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak awal.
BMKG menegaskan pemantauan hotspot akan terus dilakukan bersamaan dengan pembaruan prakiraan cuaca harian. Informasi tersebut menjadi acuan penting dalam mendukung upaya mitigasi karhutla di Riau, terutama memasuki periode yang masih berpotensi mengalami perubahan cuaca secara dinamis.
Dengan masih ditemukannya sembilan titik panas, masyarakat diimbau tetap waspada dan berperan aktif menjaga lingkungan. Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menghindari kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah di Riau. (mcr)





