Karhutla Riau Meluas, 80 Hektare Lahan di Bengkalis Terbakar, Kampar Siaga

Luas lahan terbakar di Bengkalis mencapai 80 hektare. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di Riau. Dalam dua hari terakhir, kebakaran terjadi di Kabupaten Bengkalis dan Kampar. Di Bengkalis, luas lahan terbakar mencapai 80 hektare, sementara di Kampar kebakaran berhasil dikendalikan dengan luas lahan terbakar sekitar 0,5 hektare.

Perbedaan skala kebakaran di dua daerah tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan respons dalam penanganan karhutla, terutama memasuki musim kemarau yang meningkatkan risiko munculnya titik api di berbagai wilayah Riau.

Selain mengancam lingkungan, karhutla berpotensi memicu kabut asap, mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga transportasi.

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, perusahaan, dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan yang setiap tahun menjadi persoalan berulang di Riau.

Bengkalis Jadi Titik Karhutla Terluas
Kebakaran terbesar terjadi di kawasan perbatasan Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau dan Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Memasuki hari ketiga penanganan, Jumat (17/7/2026), api telah menghanguskan sekitar 80 hektare lahan di kawasan Jalan Tangkahan Tegar Ujung Canal Atiam.

Besarnya luasan kebakaran membuat operasi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan 117 personel dari berbagai instansi, mulai dari Polres Bengkalis, Polsek Mandau, Polsek Pinggir, Koramil 03 Mandau, Manggala Agni Daops Dumai, Siak dan Pekanbaru, BPBD, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).

Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar mengatakan operasi difokuskan tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan secara menyeluruh agar bara api di dalam tanah tidak kembali memicu kebakaran.

BACA JUGA :  15.080 Peserta Padati Riau Bhayangkara Run 2026, Gairahkan Sport Tourism Pekanbaru

“Fokus utama tim di lapangan tidak hanya mematikan api yang berkobar di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan total agar tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran, sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman kabut asap,” kata Fahrian, Sabtu (18/7/2026).

Medan Sulit, Api Cepat Menjalar
Proses pemadaman berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Lahan yang terbakar didominasi semak belukar serta kebun kelapa sawit yang tidak lagi produktif dan mengering akibat musim kemarau.

Di beberapa titik juga terdapat karakteristik tanah gambut yang mempercepat penyebaran api ketika tertiup angin. Kondisi tersebut membuat personel harus bekerja ekstra untuk mengisolasi titik-titik api agar tidak meluas ke kawasan lain.

Untuk mendukung operasi darat, tim memanfaatkan sumber air dari kanal terdekat. Sedikitnya delapan unit mini striker, satu unit mesin Shibaura, serta puluhan rol selang digunakan untuk melakukan penyemprotan secara terus-menerus.

Selain itu, operasi pemadaman diperkuat melalui jalur udara dengan pengerahan tiga unit helikopter water bombing yang menjatuhkan ribuan liter air ke area gambut yang sulit dijangkau petugas di darat.

Sinergi antara operasi udara dan darat tersebut akhirnya berhasil menekan kobaran api sehingga penyebaran kebakaran dapat dilokalisasi.

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran
Di tengah proses pemadaman, aparat kepolisian juga melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kebakaran.

BACA JUGA :  Suhardiman Amby Bantah Beri Amplop ke Menhut Raja Juli, KPK Dalami Perbedaan Keterangan

Tim melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mendokumentasikan kondisi lapangan, memetakan sedikitnya delapan titik hotspot, serta meminta keterangan sejumlah saksi.

Polisi juga masih menelusuri status kepemilikan lahan yang terbakar sekaligus mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian maupun unsur pidana dalam peristiwa tersebut.

Hingga operasi hari ketiga berakhir sekitar pukul 17.00 WIB, api utama berhasil dipadamkan. Namun, petugas masih terus melakukan pendinginan karena masih ditemukan kepulan asap tipis dari bawah permukaan tanah.

Kapolres Bengkalis kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena dapat dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, selain menimbulkan kerusakan lingkungan yang luas.

Kampar Berhasil Cegah Api Meluas
Sementara itu, penanganan karhutla di Desa Empat Balai, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar berlangsung lebih cepat sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kampar, Azwan mengatakan, laporan kebakaran diterima sekitar pukul 10.00 WIB pada Jumat (17/7/2026).

Api diketahui membakar lahan mineral milik masyarakat dengan vegetasi berupa semak belukar. “Jenis kebakaran yang terjadi merupakan surface fire atau kebakaran di atas permukaan. Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan,” ujar Azwan.

Berdasarkan data BPBD Kampar, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 0,5 hektare. Begitu menerima laporan, Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusdalops PB BPBD Kampar langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penyekatan, pemadaman, dan pendinginan agar api tidak menjalar ke lahan lain.

BACA JUGA :  KPK Bongkar Akar Korupsi Kepala Daerah: Ongkos Politik Mahal, Proyek Jadi Alat Balik Modal

Dalam operasi tersebut, BPBD mengerahkan satu unit mobil angkut, satu unit mesin mini stream, selang hisap, empat unit selang buang, serta satu unit nozel.

“Hingga pukul 16.00 WIB, api berhasil dipadamkan dan kondisi lokasi dinyatakan aman. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru,” kata Azwan.

Waspadai Peningkatan Risiko Karhutla
Munculnya kebakaran di Bengkalis dan Kampar dalam waktu yang hampir bersamaan menjadi sinyal meningkatnya risiko karhutla di Riau memasuki musim kemarau.

Karhutla tidak hanya berdampak pada kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, hingga sektor ekonomi.

Karena itu, pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menghindari meluasnya bencana karhutla yang selama ini menjadi salah satu ancaman utama di Riau. (mcr)