PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Banyak orang mengira asam urat hanya dipicu oleh jeroan atau seafood. Padahal, sejumlah makanan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat juga dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah jika dikonsumsi berlebihan.
Mulai dari roti putih, madu, hingga beberapa jenis sayuran ternyata memiliki kandungan yang perlu diperhatikan oleh penderita asam urat.
Kondisi ini penting dipahami karena jumlah penderita asam urat terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia.
Serangan asam urat bukan hanya menyebabkan nyeri hebat pada persendian, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas, menurunkan produktivitas kerja, hingga meningkatkan risiko kerusakan sendi apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Asam urat sendiri merupakan hasil akhir dari proses pemecahan purin di dalam tubuh. Dalam kondisi normal, zat ini akan dikeluarkan melalui ginjal bersama urine. Namun ketika produksi asam urat meningkat atau kemampuan tubuh membuangnya menurun, kadar asam urat dalam darah menjadi tinggi (hiperurisemia).
Akibatnya, kristal asam urat terbentuk dan mengendap di persendian sehingga memicu rasa nyeri, bengkak, kemerahan, hingga peradangan yang dikenal sebagai gout atau penyakit asam urat.
Yang sering luput dari perhatian, peningkatan kadar asam urat bukan hanya dipengaruhi oleh makanan tinggi purin. Kandungan fruktosa dalam beberapa makanan dan minuman juga dapat merangsang tubuh memproduksi lebih banyak asam urat.
Karena itu, pengendalian penyakit ini tidak cukup hanya menghindari jeroan, tetapi juga harus memperhatikan pola makan secara keseluruhan.
Berikut makanan yang sebaiknya dibatasi agar kadar asam urat tetap terkendali.
1. Roti Putih dan Karbohidrat Olahan
Roti putih, biskuit, kue, dan berbagai produk tepung olahan memang bukan makanan tinggi purin. Namun makanan ini memiliki indeks glikemik tinggi yang dapat memicu lonjakan gula darah dan berkontribusi terhadap resistensi insulin.
Berbagai penelitian menunjukkan resistensi insulin dapat menghambat pembuangan asam urat melalui ginjal sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Karena itu, konsumsi karbohidrat olahan sebaiknya tidak berlebihan.
Sebagai alternatif, pilih roti gandum utuh atau sumber karbohidrat kompleks yang kaya serat.
2. Madu dan Makanan Tinggi Fruktosa
Banyak orang menganggap madu selalu lebih sehat dibanding gula pasir. Padahal madu tetap mengandung fruktosa alami.
Ketika fruktosa dimetabolisme tubuh, proses tersebut meningkatkan pembentukan purin yang kemudian menghasilkan asam urat.
Artinya, madu tetap boleh dikonsumsi, tetapi dalam jumlah wajar, terutama bagi penderita asam urat yang sering mengalami kekambuhan.
3. Alkohol, Terutama Bir
Alkohol merupakan salah satu faktor risiko paling kuat dalam meningkatkan kadar asam urat. Bir mengandung purin sekaligus alkohol yang menghambat pengeluaran asam urat melalui ginjal.
Sejumlah penelitian melaporkan konsumsi bir dapat meningkatkan kadar asam urat sekitar 6,5 persen, sedangkan bir nonalkohol pun dilaporkan masih dapat meningkatkan kadarnya sekitar 4,4 persen.
Semakin sering mengonsumsi alkohol, semakin besar peluang serangan asam urat terjadi.
4. Seafood yang Tinggi Purin
Kerang, sarden, ikan teri, tuna, udang, lobster, kepiting, dan tiram merupakan kelompok makanan laut dengan kandungan purin cukup tinggi.
Saat purin dipecah oleh tubuh, produksi asam urat ikut meningkat.
Bukan berarti penderita asam urat harus berhenti makan ikan sepenuhnya. Pilihlah jenis ikan dengan kandungan purin lebih rendah dan konsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
5. Jeroan
Jeroan masih menjadi “musuh utama” penderita asam urat. Hati, ginjal, limpa, paru, otak, hingga lidah mengandung purin dalam jumlah tinggi.
Semakin sering dikonsumsi, semakin besar risiko terbentuknya kristal asam urat pada persendian. Bagi penderita gout, dokter umumnya menyarankan untuk menghindari makanan ini.
6. Daging Merah
Daging sapi, kambing, dan babi merupakan sumber protein yang baik, tetapi kandungan purinnya lebih tinggi dibandingkan ayam atau protein nabati.
Bila dikonsumsi terlalu sering, terutama dalam porsi besar, kadar asam urat dapat meningkat.
Sebagai alternatif, penderita asam urat dianjurkan memperbanyak protein rendah lemak seperti ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau kacang-kacangan sesuai kebutuhan.
7. Buncis
Tidak banyak yang mengetahui bahwa buncis juga mengandung fruktosa yang dapat memengaruhi produksi asam urat apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Namun demikian, para ahli gizi menekankan bahwa manfaat sayuran tetap lebih besar dibanding risikonya. Karena itu, yang dianjurkan adalah mengatur porsinya, bukan menghindari sepenuhnya.
8. Jamur
Jamur termasuk sayuran yang mengandung purin dalam jumlah sedang. Pada penderita yang kadar asam uratnya tidak stabil atau sering kambuh, konsumsi jamur sebaiknya dibatasi dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
9. Bayam
Bayam dikenal sebagai sayuran kaya zat besi, vitamin, dan antioksidan. Namun dalam setiap 100 gram bayam terdapat sekitar 57 miligram purin.
Jumlah tersebut memang tidak setinggi jeroan, tetapi tetap perlu diperhatikan bagi penderita asam urat yang sensitif terhadap makanan tinggi purin.
10. Kembang Kol
Kembang kol juga masuk dalam kelompok sayuran yang mengandung purin, yakni sekitar 23 miligram per 100 gram.
Meski tergolong lebih rendah dibanding bayam, konsumsi dalam jumlah besar secara terus-menerus tetap sebaiknya dihindari oleh penderita asam urat.
Mengapa Asam Urat Bisa Sering Kambuh?
Banyak penderita merasa sudah menghindari jeroan, tetapi serangan asam urat tetap datang. Penyebabnya ternyata tidak hanya makanan.
Faktor lain seperti obesitas, kurang minum air putih, konsumsi minuman berpemanis, kebiasaan minum alkohol, gangguan fungsi ginjal hingga penggunaan obat tertentu juga dapat memengaruhi kadar asam urat.
Selain itu, pola hidup yang minim aktivitas fisik membuat metabolisme tubuh menjadi kurang optimal sehingga meningkatkan risiko hiperurisemia.
Karena itu, pengendalian asam urat harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya dengan menghindari satu atau dua jenis makanan.
Cara Menjaga Asam Urat Tetap Terkontrol
Mengontrol asam urat sebenarnya lebih mudah dibanding mengobatinya setelah kambuh. Beberapa langkah sederhana yang direkomendasikan tenaga kesehatan antara lain:
1. Perbanyak minum air putih agar ginjal lebih mudah membuang asam urat.
2. Batasi makanan tinggi purin dan makanan tinggi fruktosa.
3. Kurangi minuman manis serta alkohol.
4. Pertahankan berat badan ideal.
5. Rutin berolahraga dengan intensitas sedang.
6. Perbanyak konsumsi buah, sayuran, dan makanan tinggi serat.
7. Konsumsi obat sesuai anjuran dokter apabila telah didiagnosis menderita asam urat.
Perlu dipahami, tidak semua penderita memiliki respons yang sama terhadap makanan tertentu. Ada orang yang tetap aman mengonsumsi bayam atau jamur dalam jumlah wajar, sementara sebagian lainnya lebih mudah mengalami kekambuhan.
Karena itu, pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing serta dikonsultasikan kepada dokter atau ahli gizi.
Pada akhirnya, pengendalian asam urat bukan sekadar menghindari jeroan. Yang jauh lebih penting adalah membangun pola makan seimbang, menjaga berat badan, tetap aktif bergerak, dan mengenali makanan apa saja yang paling sering memicu kekambuhan pada tubuh sendiri.
Dengan cara tersebut, risiko nyeri sendi akibat asam urat dapat ditekan sehingga kualitas hidup tetap terjaga. (bsh)
Sumber: CNBCIndonesia






