PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, jumlah titik panas (hotspot) di Riau turun menjadi empat titik, Jumat (31/7/2026). Bersamaan dengan itu, cuaca di sebagian besar wilayah diprakirakan relatif kondusif dengan peluang hujan ringan yang terjadi secara lokal pada siang hingga sore hari.
Penurunan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator yang terus dipantau karena berkaitan dengan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada musim kemarau. Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan tetap menghindari aktivitas pembakaran lahan.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Gita Dewi S mengatakan, kondisi cuaca pada pagi hari didominasi udara kabur dan cerah berawan.
Memasuki siang hingga sore hari, hujan berintensitas ringan diprakirakan turun di sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru.
“Pada malam hingga dini hari kondisi cuaca umumnya cerah berawan hingga berawan dan tidak terdapat peringatan dini cuaca untuk wilayah Riau,” kata Gita.
BMKG memperkirakan, suhu udara berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celcius, dengan kelembapan udara antara 58 hingga 100 persen.
Sementara itu, angin bertiup dari arah tenggara hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 10-30 kilometer per jam. Untuk wilayah perairan Riau, tinggi gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah.
“Di wilayah perairan, tinggi gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 0,5-1,25 meter atau masuk kategori rendah, sehingga aktivitas pelayaran masih relatif aman,” ulas Gita.
Selain prakiraan cuaca, BMKG juga merilis perkembangan hotspot di Pulau Sumatera berdasarkan hasil pemantauan satelit hingga pukul 23.00 WIB.
Secara keseluruhan terdapat 243 titik panas di Sumatera. Provinsi Sumatera Selatan menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 117 titik.
Selanjutnya Bangka Belitung mencatat 42 titik, Lampung 27 titik, Aceh 17 titik, Sumatera Barat 11 titik, Bengkulu sembilan titik, Jambi sembilan titik, Sumatera Utara enam titik, Riau empat titik, serta Kepulauan Riau satu titik.
Di Provinsi Riau, empat hotspot tersebut tersebar di dua daerah. Kota Dumai menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni tiga titik, sedangkan satu titik lainnya berada di Kabupaten Pelalawan.
Meski jumlah hotspot mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya, BMKG menegaskan kondisi tersebut bukan berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Gita mengimbau masyarakat tetap disiplin untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG.
“Meski cuaca relatif kondusif dan jumlah hotspot menurun, masyarakat tetap diimbau tidak melakukan pembakaran lahan serta terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan bahwa dinamika atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kondisi cuaca bisa mengalami perubahan dalam waktu singkat.
Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun berada di kawasan yang rawan kebakaran hutan dan lahan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Informasi cuaca terkini juga menjadi acuan penting bagi masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi cuaca ekstrem maupun risiko kebakaran yang masih mungkin terjadi selama musim kemarau. (mcr)






