PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya hilang dari Riau. Di tengah prakiraan hujan yang masih turun di sejumlah daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi 13 titik panas atau hotspot yang seluruhnya berada di Kabupaten Rokan Hilir.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa kewaspadaan terhadap potensi karhutla tetap diperlukan. Sebab, keberadaan hotspot menunjukkan masih adanya area yang mengalami peningkatan suhu permukaan dan berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila tidak ditangani sejak dini.
Berdasarkan data BMKG hingga pukul 23.00 WIB, terdapat 236 hotspot yang tersebar di Sumatera. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak yakni 65 titik, disusul Sumatera Selatan 49 titik dan Sumatera Barat 31 titik.
Sementara itu, Riau tercatat memiliki 13 hotspot yang seluruhnya terpantau di wilayah Rokan Hilir. Meski jumlah tersebut lebih rendah dibanding beberapa hari sebelumnya, kondisi ini tetap menjadi perhatian mengingat Riau memiliki sejarah panjang menghadapi bencana asap akibat kebakaran lahan.
Saat yang sama, BMKG memprakirakan cuaca Riau, Selasa (2/6/2026) didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Namun hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi pada sore dan malam hari di sejumlah daerah.
Pada siang hari, hujan ringan diperkirakan turun secara lokal di sebagian wilayah Indragiri Hulu dan Pelalawan. Memasuki sore, potensi hujan meluas ke Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, Pelalawan, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Adapun malam hari diprediksi menjadi periode dengan aktivitas hujan yang lebih tinggi. Hujan ringan hingga sedang berpeluang mengguyur Bengkalis, Siak, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Kampar, Indragiri Hilir, Dumai dan Pekanbaru.
Forecaster BMKG Pekanbaru, Sanya G mengingatkan adanya peluang hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti.
Peringatan tersebut penting diperhatikan masyarakat karena cuaca ekstrem berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, perikanan, perkebunan hingga pekerjaan lapangan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Selain itu, meski hujan masih turun di beberapa wilayah, BMKG menilai langkah pencegahan karhutla tidak boleh kendor. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan kebakaran lahan dapat terjadi dengan cepat ketika cuaca kering berlangsung lebih panjang.
Secara meteorologis, suhu udara di Riau berkisar antara 23 hingga 35 derajat Celsius dengan kelembapan 55 hingga 98 persen. Angin bertiup dari tenggara hingga barat dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.
Untuk kondisi perairan, tinggi gelombang laut diprakirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau kategori rendah. Kondisi ini relatif aman bagi aktivitas pelayaran dan nelayan tradisional.
BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Upaya pencegahan sejak dini dinilai menjadi kunci agar Riau terhindar dari ancaman karhutla dan bencana asap yang dapat merugikan kesehatan, lingkungan serta perekonomian daerah. (mcr)








