PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Jumat (17/7/2026) siang. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.885 per dolar AS, menguat 0,53 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan tersebut menjadi posisi terkuat rupiah dalam lebih dari dua pekan sekaligus menjauhkannya dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menjadi sinyal positif di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dipengaruhi arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed), perkembangan inflasi AS, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sudah bergerak di zona hijau sejak awal perdagangan. Mata uang Indonesia dibuka pada level Rp17.980 per dolar AS sebelum terus menguat hingga sesi penutupan.
Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, juga mengalami pelemahan. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut turun 0,07 persen ke posisi 100,695.
Pelemahan dolar menjadi salah satu faktor utama yang memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Ekspektasi The Fed Redakan Tekanan Pasar
Pelaku pasar menilai penguatan rupiah tidak lepas dari berubahnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Data inflasi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan tekanan harga mulai melandai pada Juni 2026. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat oleh The Fed.
Meski sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat, terutama pada sektor ketenagakerjaan, investor mulai memperkirakan bank sentral AS akan memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
Namun demikian, sikap pejabat The Fed masih cenderung berhati-hati. Mereka menilai perbaikan inflasi baru terjadi dalam satu bulan setelah sebelumnya sempat meningkat selama beberapa bulan berturut-turut.
Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi kembali menunjukkan tren meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, pasar kini melihat probabilitas kenaikan suku bunga semakin mengecil.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli turun menjadi sekitar 11 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 25 persen pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, proyeksi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun juga ikut menurun menjadi sekitar 26 basis poin dari sebelumnya mencapai sekitar 44 basis poin pada awal pekan.
Perubahan ekspektasi tersebut membuat tekanan terhadap dolar AS berkurang dan mendorong aliran dana kembali masuk ke aset-aset negara berkembang.
Dolar Tertekan, Rupiah Ikut Menguat
Hubungan antara dolar AS dan rupiah umumnya bergerak berlawanan arah. Ketika indeks dolar melemah di pasar global, nilai tukar rupiah memperoleh ruang untuk menguat karena tekanan terhadap mata uang negara berkembang ikut berkurang.
Kondisi inilah yang terlihat pada perdagangan, Jumat siang. Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut menopang optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Investasi Indonesia Tembus Rp1.010,6 Triliun
Dukungan bagi penguatan rupiah juga datang dari dalam negeri setelah pemerintah melaporkan realisasi investasi nasional yang tetap tumbuh sepanjang semester pertama 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan realisasi investasi Januari–Juni 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut setara dengan sekitar 49,5 persen dari target investasi nasional tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
“Realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen,” kata Rosan Roeslani dalam konferensi pers, Kamis (16/7/2026).
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp502,9 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun.
Besarnya kontribusi investasi asing dinilai menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia masih tetap terjaga meskipun kondisi ekonomi global masih penuh ketidakpastian.
Masuknya investasi asing juga berpotensi meningkatkan pasokan devisa sehingga memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. (cnbc)






