PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau. Di tengah kekhawatiran warga terhadap kualitas udara, kondisi tersebut justru membuat penjualan jus jeruk di sejumlah titik meningkat.
Salah satu pedagang jus jeruk di Jalan Hangtuah, Kelurahan Sukamulia, Kecamatan Sail, Pekanbaru, mengaku omzet usahanya naik hingga 20 persen sejak kabut asap menyelimuti kota. Lonjakan permintaan membuat penggunaan buah jeruk meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
Pantauan di lokasi pada Selasa siang menunjukkan aktivitas pembeli cukup ramai. Sejumlah warga terlihat mengantre di gerai jus jeruk yang mulai beroperasi sekitar pukul 10.00 WIB.
Uci Rahma Wahyu Nasution, salah satu pengelola gerai mengatakan, peningkatan pembeli terjadi sejak kondisi udara Pekanbaru mulai dipengaruhi kabut asap. Gerainya mempekerjakan tiga karyawan untuk melayani pelanggan.
“Selama kabut asap menyelimuti Pekanbaru, omzet penjualan jus kami naik drastis mencapai 20 persen jika dibandingkan dengan hari-hari sebelum adanya kabut asap,” ujar Uci.
Menurutnya, perubahan paling terlihat pada kebutuhan bahan baku. Sebelum kabut asap terjadi, gerainya rata-rata menghabiskan sekitar 20 kilogram buah jeruk dalam sehari.
Namun, ketika kabut asap mulai menyelimuti Pekanbaru, kebutuhan tersebut meningkat hingga sekitar 50 kilogram jeruk per hari. Kenaikan konsumsi bahan baku itu mengikuti bertambahnya jumlah pembeli yang datang.
Dengan harga jual Rp5.000 per gelas, penjualan jus tersebut menghasilkan perputaran uang harian yang cukup besar. Uci menyebut pendapatan kotor usahanya selama periode kabut asap dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hari.
Warga Cari Minuman Segar
Ramainya pembeli tidak terlepas dari kondisi cuaca Pekanbaru yang panas ketika kabut asap menyelimuti wilayah tersebut. Warga yang beraktivitas di luar rumah membutuhkan minuman untuk menyegarkan tenggorokan.
Di sisi lain, kabut asap juga mendorong sebagian masyarakat lebih memperhatikan kondisi tubuh mereka. Jus jeruk kemudian menjadi salah satu pilihan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Riski Handani, salah seorang pembeli, mengatakan dirinya sengaja membeli jus jeruk ketika kualitas udara sedang terganggu kabut asap.
“Saya memilih membeli jus jeruk untuk meningkatkan imun tubuh saat kabut asap seperti ini, sekaligus sebagai langkah pencegahan dari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” kata Riski Handani.
Pilihan warga tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumsi ketika terjadi gangguan kualitas udara. Minuman segar menjadi salah satu produk yang ikut dicari masyarakat ketika mereka menghadapi cuaca panas sekaligus paparan asap.
Bagi pedagang kecil, perubahan tersebut langsung terasa pada aktivitas penjualan. Peningkatan permintaan bukan hanya menambah jumlah pelanggan, tetapi juga meningkatkan kebutuhan bahan baku yang harus disiapkan setiap hari.
Kondisi ini membuat pedagang harus menyesuaikan persediaan jeruk dengan perkembangan jumlah pembeli. Jika sebelumnya 20 kilogram cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, kini jumlah tersebut tidak lagi mencukupi.
Kenaikan konsumsi hingga 50 kilogram per hari juga memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi aktivitas ekonomi skala kecil. Pergerakan pembeli di satu sisi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pedagang.
Namun, situasi tersebut tetap berlangsung dalam konteks kabut asap akibat karhutla yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Aktivitas ekonomi yang meningkat tidak mengubah persoalan utama berupa kualitas udara yang memburuk.
Dampak Karhutla Terasa di Aktivitas Warga
Kabut asap karhutla tidak hanya mengubah kondisi udara. Fenomena tersebut juga memengaruhi pola aktivitas dan konsumsi masyarakat sehari-hari.
Ketika udara dipenuhi asap dan suhu terasa panas, warga melakukan berbagai penyesuaian. Salah satunya dengan memilih minuman yang dianggap dapat memberikan rasa segar setelah beraktivitas.
Perubahan kecil tersebut kemudian berdampak langsung kepada pelaku usaha mikro. Pedagang jus yang sebelumnya melayani jumlah pembeli normal kini menghadapi peningkatan permintaan.
Bagi Uci, kondisi tersebut terlihat dari kenaikan omzet hingga 20 persen. Jumlah jeruk yang harus disiapkan setiap hari juga meningkat sekitar 150 persen dari sebelumnya.
Jika sebelumnya 20 kilogram jeruk habis dalam sehari, kini kebutuhannya mencapai 50 kilogram. Angka tersebut menggambarkan besarnya perubahan permintaan yang terjadi pada usaha tersebut selama kabut asap.
Dengan harga Rp5.000 per gelas dan omzet kotor yang disebut dapat mencapai Rp3 juta per hari, usaha jus jeruk tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan situasi di tengah masyarakat dapat memengaruhi sektor perdagangan kecil.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari kabut asap di Pekanbaru. Bagi masyarakat, asap menjadi persoalan yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan kenyamanan.
Sementara bagi sebagian pedagang, perubahan perilaku konsumsi warga menciptakan peningkatan permintaan. Dampaknya terasa langsung dalam bentuk bertambahnya pelanggan, kebutuhan bahan baku, dan omzet harian.
Meski demikian, peningkatan penjualan tersebut merupakan konsekuensi ekonomi dari situasi kabut asap. Persoalan karhutla dan kualitas udara tetap menjadi perhatian utama masyarakat Pekanbaru.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas pedagang jus terus berjalan. Mereka mengikuti perubahan kebutuhan konsumen, sementara warga tetap menjalankan aktivitas dengan berbagai penyesuaian selama kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru. (why)





