PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Sebulan berada di ruang pelatihan, membuat Muhammad Halim Kusuma memiliki bekal baru menatap dunia kerja.
Pemuda asal Desa Rempak, Kabupaten Siak itu, kini tidak hanya membawa pengalaman belajar mengelas. Di tangannya ada keterampilan, sertifikasi, pengetahuan keselamatan kerja, serta jaringan baru yang diharapkan membuka jalan menuju pekerjaan sebagai welder.
Halim menjadi satu dari 10 pemuda yang mengikuti Pelatihan Juru Las 3F SMAW yang digelar PT Bumi Siak Pusako (BSP) bersama SKK Migas Sumbagut dan Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Siak.
Pelatihan berlangsung selama hampir satu bulan, sejak 31 Agustus hingga 28 September 2026. Kegiatan ditutup, Senin (28/9/2026).
Mereka yang mengikuti program ini bukan pemuda dari satu desa saja. Sepuluh peserta berasal dari sejumlah desa yang berada di sekitar wilayah operasional PT BSP atau Ring 1 perusahaan.
Adalah Muhammad Halim Kusuma dan Muhammad Iswardi dari Desa Rempak. Kemudian Muhammad Hafiz, Bayu Handika, Muhammad Hamdi dan Dinu Risky Firansyah dari Desa Kasikan.
Dua peserta lainnya, Fitra Mahendra dan Alhadi Firmansyah, berasal dari Desa Teluk Masjid. Sedangkan Junaiva Saputra dan Ridho Fahroni berasal dari Dusun Pusako.
Pelatihan Menjadi Bekal Mencari Kerja
Bagi Halim, kesempatan mengikuti pelatihan tersebut punya arti lebih dari sekadar mengikuti kegiatan selama sebulan.
Ia ingin keahlian yang diperoleh dapat menjadi modal untuk masuk ke dunia kerja.
“Semoga setelah pelatihan dan sertifikasi ini saya dapat dengan cepat mendapatkan peluang kerja sebagai welder (juru las) yang terampil,” kata Halim.
Proses pelatihan juga mempertemukan Halim dengan peserta lain dari berbagai desa. Dari sana, ia mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperluas jaringan pertemanan.
“Banyak teman, banyak ilmu yang kita dapat,” ujarnya.
Keterampilan pengelasan yang dipelajari peserta tidak berdiri sendiri. Mereka juga mendapatkan materi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja atau K3.
Materi tersebut menjadi bagian dari pelatihan karena pekerjaan pengelasan memiliki risiko yang membutuhkan pemahaman terhadap prosedur keselamatan.
Tak Hanya Dibekali Keahlian, Peserta Dapat Sertifikasi
Kepala BLK Kabupaten Siak Abdul Malik mengatakan peserta mendapatkan dua bentuk pengakuan kompetensi setelah mengikuti pelatihan.
Mereka memperoleh sertifikat dari BLK Siak serta sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui lembaga resmi yang berwenang.
Menurut Malik, bekal tersebut diharapkan membantu para peserta ketika memasuki persaingan kerja.
BLK Siak juga memasukkan para lulusan pelatihan ke dalam grup informasi lowongan pekerjaan. Dengan cara itu, mereka tetap mendapatkan akses terhadap informasi peluang kerja setelah program pelatihan berakhir.
“Pelatihan juru las ini diharapkan dapat melahirkan SDM yang mempunyai kriteria dan keahlian khusus, memenuhi kebutuhan perkembangan industri dan mengurangi angka pengangguran melalui terserapnya tenaga kerja lokal,” kata Malik.
Malik juga menyampaikan apresiasi kepada PT BSP yang memberikan ruang pengembangan keterampilan bagi pemuda yang tinggal di sekitar wilayah operasional perusahaan.
SKK Migas Dorong Kompetensi Welder Terus Naik
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut Yanin Kholison mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada sertifikat yang diterima peserta.
Menurut dia, peserta perlu mampu menerapkan kemampuan pengelasan yang telah dipelajari sekaligus menjalankan pekerjaan dengan memperhatikan aspek keselamatan.
“Diharapkan para peserta dapat bekerja secara mandiri dan terampil,” ujar Yanin.
Ia juga mendorong agar program pelatihan serupa tetap dilanjutkan. Level kompetensi pengelasan pun diharapkan dapat ditingkatkan dari 3F menuju 3G.
Peningkatan jenjang tersebut diharapkan memberi kesempatan kepada para peserta untuk mengembangkan kemampuan mereka sesuai kebutuhan industri.
Program Pemberdayaan Pemuda Ring 1
Team Manager Community Development PT BSP Tengku Muchlis mengatakan pelatihan juru las menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat perusahaan.
Sasarannya adalah masyarakat dari desa-desa Ring 1 di sekitar wilayah operasional BSP.
Menurut Muchlis, kemampuan teknis harus dibarengi dengan pemahaman mengenai keselamatan kerja. Seorang welder tidak cukup hanya mampu menghasilkan sambungan las yang baik, tetapi juga harus memahami prosedur kerja yang aman.
“Keamanan serta keselamatan menjadi prioritas utama yang harus ditanamkan dalam pribadi setiap peserta pelatihan juru las,” katanya.
BSP berharap program peningkatan keterampilan seperti ini dapat digelar secara berkelanjutan setiap tahun. Pengembangan materi hingga tingkat 3G juga menjadi salah satu arah yang didorong.
Bagi 10 pemuda yang baru menyelesaikan pelatihan, pengalaman selama hampir sebulan itu kini menjadi modal untuk melangkah lebih jauh.
Mereka pulang membawa keterampilan mengelas, sertifikasi, pemahaman K3, serta koneksi baru dengan sesama pemuda dari desa-desa di sekitar wilayah operasional BSP.
Tantangan berikutnya adalah mengubah bekal tersebut menjadi kesempatan kerja dan pengalaman profesional di lapangan. (bsh)






