PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kualitas udara Kota Pekanbaru kembali memburuk, Jumat (28/8/2026) pagi. Indeks kualitas udara (AQI) bahkan mencapai 460 dan masuk kategori berbahaya. Saat ini, kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan.
Data pemantauan IQAir pada pukul 08.00 WIB menunjukkan AQI US Pekanbaru berada di level 460. Konsentrasi polutan utama, PM10, tercatat mencapai 568 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara pada level berbahaya dapat meningkatkan risiko paparan polusi bagi masyarakat. Kondisi ini membuat warga perlu lebih waspada terhadap aktivitas di luar ruangan.
Peringatan IQAir juga menunjukkan adanya active fire nearby atau titik api aktif di sekitar Pekanbaru. Kondisi tersebut muncul ketika kabut asap kembali menjadi persoalan di tengah meningkatnya aktivitas penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau.
Pada Jumat pagi, Pekanbaru bersama Kabupaten Pelalawan juga menaikkan status penanganan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat. Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi kabut asap dan kualitas udara yang semakin memburuk.
PM10 Jadi Polutan Utama
Konsentrasi PM10 menjadi salah satu indikator yang paling mencolok dalam pemantauan kualitas udara Pekanbaru pagi ini. Partikel tersebut dapat masuk melalui saluran pernapasan ketika masyarakat menghirup udara yang tercemar.
Kondisi cuaca turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pada pagi hari, suhu Pekanbaru tercatat sekitar 26 derajat Celsius dengan kelembapan 79 persen dan kecepatan angin sekitar 6 kilometer per jam.
Angin yang relatif rendah dapat membuat penyebaran polutan berlangsung lebih lambat. Akibatnya, partikulat dan asap berpotensi bertahan lebih lama di sekitar permukaan dan kawasan permukiman.
Data IQAir juga menunjukkan kondisi kualitas udara Pekanbaru mengalami perubahan sepanjang hari. Pemantauan pada waktu berbeda menunjukkan angka AQI dan konsentrasi polutan dapat bergerak naik turun mengikuti kondisi atmosfer.
Situasi tersebut membuat masyarakat tidak cukup hanya melihat kondisi langit secara kasatmata. Perubahan kualitas udara dapat terjadi meskipun kondisi cuaca terlihat relatif normal.
Memburuk Setelah Beberapa Hari Terkendali
Kondisi udara Pekanbaru sebenarnya telah menjadi perhatian sejak beberapa hari terakhir. Pada 24 Agustus, pemerintah daerah mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah karena kualitas udara sudah berada pada kategori tidak sehat.
Sehari kemudian, BMKG Stasiun Pekanbaru juga melaporkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Riau. Jarak pandang di Pekanbaru sempat berada sekitar 2 kilometer, sedangkan konsentrasi PM2,5 pada dini hari mencapai 508,8 µg/m³.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan kabut asap bukan hanya berlangsung dalam hitungan jam. Pergerakan asap dan perubahan konsentrasi partikulat masih menjadi faktor yang memengaruhi kualitas udara di Pekanbaru.
Pada Jumat pagi, kondisi tersebut kembali terlihat dari lonjakan AQI hingga 460 berdasarkan pemantauan IQAir.
Warga Diminta Kurangi Paparan
Dengan kualitas udara berada pada kategori berbahaya, masyarakat Pekanbaru perlu mengurangi paparan udara luar, terutama ketika tidak memiliki keperluan mendesak.
Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dihindari ketika konsentrasi polutan sedang tinggi. Paparan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan.
Bagi warga yang harus keluar rumah, masker dengan kemampuan filtrasi partikulat seperti N95 atau KN95 dapat digunakan untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara.
Masyarakat juga dapat mengurangi masuknya asap dengan menutup pintu dan jendela rumah. Penggunaan penyaring udara di dalam ruangan dapat menjadi pilihan apabila tersedia.
Yang tidak kalah penting, warga perlu memantau perkembangan kualitas udara secara berkala. Kondisi AQI dapat berubah sepanjang hari bergantung pada sumber polusi, arah angin, kelembapan, dan kondisi atmosfer.
Kabut Asap Belum Sepenuhnya Mengganggu Penerbangan
Di tengah memburuknya kualitas udara, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru masih berjalan normal pada Jumat pagi.
Jarak pandang horizontal di kawasan bandara dilaporkan mencapai 3.000 meter pada pukul 07.00 WIB. Kondisi tersebut memungkinkan seluruh jadwal penerbangan berjalan sesuai rencana.
Pihak bandara bersama BMKG tetap melakukan pemantauan berkala terhadap perubahan cuaca dan jarak pandang. Langkah tersebut diperlukan karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.
Bagi masyarakat Pekanbaru, lonjakan AQI hingga 460 menjadi sinyal penting bahwa persoalan kabut asap masih harus diwaspadai. Terlebih, status tanggap darurat karhutla telah diberlakukan di Pekanbaru dan Pelalawan.
Kondisi udara dapat berubah dalam hitungan jam. Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya mengandalkan kondisi visual, tetapi mengikuti pembaruan kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah. (bsh)






