PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jumlah titik panas atau hotspot di Riau kembali meningkat tajam. Kamis (3/9/2026) pukul 23.00 WIB malam tadi, satelit Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 234 hotspot tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Indragiri Hilir menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi. Sebanyak 79 titik panas terdeteksi di daerah tersebut.
Posisi berikutnya ditempati Indragiri Hulu dengan 42 hotspot dan Bengkalis sebanyak 35 titik. Data tersebut menunjukkan konsentrasi titik panas masih cukup tinggi di sejumlah wilayah Riau.
Selain tiga daerah tersebut, hotspot juga ditemukan di Kepulauan Meranti sebanyak 28 titik. Pelalawan menyusul dengan 27 titik panas.
Sementara Siak tercatat memiliki 12 hotspot, Kuantan Singingi enam titik, dan Rokan Hulu tiga titik. Dua wilayah lainnya juga terpantau memiliki hotspot. Kampar mencatat satu titik dan Kota Pekanbaru satu titik.
Sebaran tersebut memperlihatkan titik panas tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan.
Sumatera Selatan Catat Hotspot Tertinggi
Jumlah hotspot di Riau menjadi bagian dari tingginya aktivitas titik panas di Pulau Sumatera. Hingga waktu pemantauan yang sama, terdapat 2.671 hotspot yang terdeteksi di Sumatera.
Sumatera Selatan berada di posisi teratas dengan 1.583 titik panas. Jambi menyusul dengan 330 hotspot, sedangkan Bangka Belitung mencapai 312 titik. Lampung tercatat memiliki 115 hotspot.
Kemudian Bengkulu 39 titik, Kepulauan Riau 29 titik, Sumatera Barat 21 titik, serta Sumatera Utara delapan titik.
Tingginya jumlah hotspot menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca Riau yang masih didominasi udara kabur hingga berawan. Meski sebagian wilayah berpeluang menerima hujan ringan, kondisi tersebut belum terjadi merata di seluruh Riau.
Wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi perlu mendapat pemantauan lebih lanjut untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran hutan dan lahan.
Data hotspot sendiri menjadi salah satu indikator awal dalam pemantauan potensi karhutla. Namun, keberadaan titik panas tidak otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran.
Karena itu, verifikasi lapangan tetap dibutuhkan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi yang terdeteksi.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di wilayah dengan titik panas cukup tinggi. (zul)






