PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Nama Tengku Buwang Asmara kembali didorong ke panggung nasional. Bupati Siak, Afni Zulkifli meminta pemerintah pusat mengkaji kembali usulan Sultan Siak ke-2 itu untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Usulan tersebut disampaikan Afni langsung kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Jumat malam, 28 Agustus 2026. Afni menilai rekam jejak Tengku Buwang dalam menghadapi kolonial Belanda menjadi bagian penting dari sejarah Kesultanan Siak.
“Beliau Sultan Siak yang secara nyata ikut berperang melawan penjajah Belanda di masanya. Kami mengusulkan Sultan Siak ke 2 ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, selain Sultan terakhir Siak, Sultan Syarif Kasim II. Kajian dan usulan ini sebenarnya sudah lama, dan terus kita perjuangkan bersama,” ungkap Afni.
Perjuangan tersebut kembali disampaikan setelah Afni menerima penghargaan kategori Pendorong Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan dari detik.com. Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menemui Fadli Zon untuk membahas pelestarian sejarah dan cagar budaya Kesultanan Siak.
Jejak Perang Guntung
Tengku Buwang Asmara dikenal dalam sejarah Kesultanan Siak sebagai tokoh yang berhadapan dengan kepentingan kolonial Belanda. Salah satu catatan penting perjuangannya adalah Perang Guntung di Pulau Guntung, kawasan muara Sungai Siak.
Tengku Buwang dinobatkan sebagai Sultan Siak di Buatan pada 1746 M setelah Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil wafat. Empat tahun kemudian, pusat kedudukannya dipindahkan ke Sungai Mempura.
Pemindahan tersebut dilakukan untuk menjauhkan pusat pemerintahan dari pengaruh Belanda. Namun, kepentingan kolonial di kawasan Sungai Siak terus berkembang, terutama berkaitan dengan perdagangan.
Belanda sebelumnya memperoleh kesempatan mendirikan loji di Guntung dengan syarat perdagangan bebas dan tanpa monopoli. Dalam perkembangannya, loji tersebut justru digunakan untuk memperkuat kepentingan dagang Belanda.
Pedagang yang melintas disebut dipaksa menjual barang dagangan. Selain itu, cukai juga dikenakan terhadap orang yang lalu-lalang di kawasan tersebut.
Kondisi itu memicu ketegangan dengan Kesultanan Siak. Sengketa perdagangan kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata yang dikenal sebagai Perang Guntung.
Perang tersebut berlangsung pada 1750-1760. Pasukan Kerajaan Siak melakukan serangan terhadap Belanda di Pulau Guntung.
Perlawanan itu membuat Belanda kehilangan sejumlah bahan perdagangan. Catatan mengenai kondisi tersebut antara lain terdapat dalam laporan Gubernur Malaka kepada Gubernur Jenderal Batavia pada 8 Maret 1758.
Laporan tersebut juga menggambarkan pentingnya Sungai Siak sebagai jalur perdagangan. Kawasan itu menjadi salah satu pusat perdagangan komoditas dari pedalaman Sumatera, termasuk emas yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan Melaka.
Jejak tersebut menjadi salah satu dasar yang kembali diangkat Pemerintah Kabupaten Siak dalam memperjuangkan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional.
Fadli Zon Buka Ruang Pengkajian
Dalam pertemuan dengan Afni, Fadli Zon menyambut baik upaya pelestarian sejarah Kesultanan Siak. Menteri Kebudayaan juga menyoroti posisi Kesultanan Siak dalam perjalanan sejarah Indonesia.
“Kesultanan Siak ini kan adalah Kesultanan yang termasuk pertama memberikan pengakuan dan bergabung ke NKRI, bahkan Sultannya menyerahkan harta kekayaannya dan kedaulatannya kepada Republik Indonesia. Jadi luar biasa, kita sangat menghargai perjalanan sejarah di Siak,” ungkap Fadli Zon.
Fadli memastikan pemerintah akan terus memberikan dukungan terhadap pelestarian cagar budaya. Ia juga membuka ruang pengkajian terhadap usulan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional.
“InsyaAllah akan dikaji bersama. Terkait bantuan cagar budaya, bantuan itu akan terus ada dan sebetulnya ini arahan dari Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto,” ujar Fadli.
Fadli juga menyampaikan rencana untuk segera berkunjung ke Siak.
Rp5,5 Miliar untuk Warisan Sejarah Siak
Dalam pertemuan tersebut, Afni turut menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pelestarian peninggalan Kesultanan Siak.
Tahun ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan memberikan dana revitalisasi sebesar Rp5,5 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balai Rung Sri.
Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga peninggalan sejarah dan kebudayaan Melayu di Riau.
Perjuangan mengangkat Tengku Buwang Asmara ke tingkat nasional juga ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Siak ingin sejarah Kesultanan Siak dan kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan Indonesia semakin dikenal secara nasional.
Usulan tersebut kini kembali mendapat ruang untuk dikaji pemerintah pusat. Namun, penetapan sebagai Pahlawan Nasional tetap melalui proses dan kajian sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Siak, perjuangan itu bukan sekadar tentang gelar bagi seorang Sultan. Lebih jauh, usulan tersebut menjadi bagian dari upaya membawa jejak sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Sungai Siak ke dalam ingatan sejarah nasional. (bsh)






