Petani Sawit Riau Kena Dampak, Harga TBS Turun Setelah Mayoritas Perusahaan Pangkas Harga CPO

Petani sawit Riau ikut terkena dampak dari penurunan harga TBS setelah mayoritas perusahaan memangkas harga CPO. (Foto: Bisnis.com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Penurunan harga jual minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di sejumlah perusahaan perkebunan Riau kembali menekan pendapatan petani sawit. Pada periode penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) 24-30 Juni 2026, mayoritas harga CPO perusahaan terkoreksi yang berujung pada turunnya harga TBS petani plasma dan petani mitra swadaya.

Perubahan ini menjadi perhatian, karena sektor sawit merupakan tulang punggung ekonomi Riau. Jutaan masyarakat bergantung secara langsung maupun tidak langsung pada rantai bisnis perkebunan kelapa sawit, mulai dari petani, pekerja kebun, transportasi, hingga industri pengolahan.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Defris Hatmaja mengatakan, hasil rapat penetapan harga, Selasa (23/6/2026) menunjukkan, mayoritas perusahaan mengalami penurunan harga jual CPO dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan harga CPO tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi pembentukan harga TBS sawit di tingkat petani. Dalam sistem penetapan harga yang berlaku di Riau, harga jual CPO perusahaan menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan besaran harga TBS yang diterima petani.

“Secara umum harga jual CPO perusahaan di Riau pada periode ini mengalami penurunan. Hal tersebut turut mempengaruhi penetapan harga TBS sawit periode 24 hingga 30 Juni 2026, sehingga harga TBS baik untuk petani plasma maupun mitra swadaya juga mengalami penurunan,” kata Defris Hatmaja.

Bagi petani sawit, penurunan harga TBS berarti berkurangnya pendapatan harian dan bulanan. Dampaknya paling terasa bagi petani swadaya yang mengandalkan hasil panen sebagai sumber utama penghasilan keluarga. Ketika harga TBS turun, kemampuan petani untuk memenuhi kebutuhan operasional kebun, membayar tenaga kerja, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga ikut tertekan.

Dari sisi ekonomi daerah, pelemahan harga sawit juga berpotensi mengurangi perputaran uang di sentra-sentra perkebunan. Kabupaten-kabupaten penghasil sawit di Riau selama ini sangat bergantung pada daya beli masyarakat yang berasal dari sektor perkebunan. Ketika pendapatan petani menurun, aktivitas ekonomi lokal mulai dari perdagangan hingga jasa ikut terdampak.

Meski tren umum menunjukkan penurunan, tidak semua perusahaan mengalami kondisi yang sama. Sejumlah pabrik kelapa sawit justru mencatat kenaikan harga jual CPO.

Baca Juga:  MBG Pangkas Beban APBD Riau Rp45 Miliar, Dana Dialihkan ke Program Prioritas

Kenaikan paling menonjol terjadi di lingkungan PTPN IV Regional III. Seluruh unit perusahaan tersebut, yakni Sei Buatan, Sei Tapung, Sei Intan, Tanah Putih, Lubuk Dalam, Sei Garo, dan Sei Galuh, menetapkan harga jual CPO sebesar Rp15.335 per kilogram atau naik Rp54 dibandingkan periode sebelumnya.

PT Inecda juga mencatatkan peningkatan harga jual CPO menjadi Rp15.305 per kilogram atau naik Rp99 dibandingkan pekan lalu. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kondisi pasar tidak sepenuhnya seragam dan masih terdapat perusahaan yang mampu memperoleh harga lebih baik.

Namun, jumlah perusahaan yang mengalami kenaikan relatif lebih sedikit dibandingkan perusahaan yang mencatat penurunan.

PT Buana Wiralestari Mas dan PT Ramajaya Pramukti misalnya, menetapkan harga jual CPO sebesar Rp14.999 per kilogram atau turun Rp156 dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan juga terjadi di PT Meganusa Intisawit yang menetapkan harga Rp14.611 per kilogram atau turun Rp154 per kilogram.

Sementara itu, koreksi terdalam tercatat di PT Rigunas Agri Utama PMKS Peranap yang mengalami penurunan sebesar Rp250 per kilogram sehingga harga jual CPO perusahaan tersebut berada di level Rp14.750 per kilogram.

Fluktuasi harga CPO ini menunjukkan tingginya sensitivitas industri sawit terhadap dinamika pasar. Perubahan harga global, permintaan ekspor, nilai tukar rupiah, hingga kondisi pasokan domestik menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga jual CPO perusahaan dari waktu ke waktu.

Bagi pemerintah daerah, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk terus menjaga stabilitas sektor sawit yang selama ini menjadi penyumbang utama perekonomian Riau. Ketergantungan ekonomi daerah terhadap komoditas sawit membuat setiap perubahan harga memiliki efek berantai terhadap pendapatan masyarakat, investasi, hingga penerimaan daerah.

Dari sisi investasi, pelaku usaha akan mencermati tren harga beberapa pekan ke depan. Jika koreksi harga berlanjut dalam jangka panjang, margin keuntungan perusahaan dapat tertekan. Sebaliknya, apabila permintaan pasar kembali meningkat, harga CPO berpotensi pulih dan memberikan ruang bagi kenaikan harga TBS petani.

Baca Juga:  KKP Hentikan Aktivitas Dua Perusahaan di Siak, Bangun Fasilitas Laut Tanpa Izin

Selain faktor ekonomi, stabilitas harga sawit juga memiliki dimensi sosial. Harga yang terus melemah dalam waktu lama berpotensi memicu penurunan kesejahteraan petani, terutama petani kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses pasar.

Karena itu, perkembangan harga CPO dan TBS dalam beberapa periode mendatang akan menjadi indikator penting bagi kondisi ekonomi pedesaan di Riau.

Berikut beberapa harga jual CPO perusahaan yang menjadi acuan penetapan harga TBS periode 24-30 Juni 2026:

  • PTPN IV Regional III (Sei Buatan, Sei Tapung, Sei Intan, Tanah Putih, Lubuk Dalam, Sei Garo, Sei Galuh): Rp15.335/kg (naik Rp54)
  • PT Inecda: Rp15.305/kg (naik Rp99)
  • PT Eka Dura Indonesia: Rp15.435/kg
  • PT Kimia Tirta Utama: Rp15.435/kg
  • PT Sari Lembah Subur: Rp15.435/kg
  • PT Surya Agrolika Reksa: Rp15.229,33/kg (turun Rp120)
  • PT Adimulia Agrolestari: Rp15.250/kg (turun Rp131)
  • PT Adei Plantation & Industry: Rp15.150/kg (turun Rp75)
  • PT Graha Permata Hijau: Rp15.256/kg (turun Rp162)
  • PT Indomakmur Sawit Berjaya: Rp15.225/kg
  • PT Inti Indosawit Subur PMKS Ukui I dan II: Rp14.829/kg (turun Rp75)
  • PT Inti Indosawit Subur PMKS Buatan I dan II: Rp14.910/kg (turun Rp75)
  • PT Buana Wiralestari Mas: Rp14.999/kg (turun Rp156)
  • PT Ramajaya Pramukti: Rp14.999/kg (turun Rp156)
  • PT Rigunas Agri Utama PMKS Peranap: Rp14.750/kg (turun Rp250)
  • PT Meganusa Intisawit: Rp14.611/kg (turun Rp154)

Pergerakan harga tersebut akan menjadi dasar penetapan harga TBS sawit yang diterima petani selama periode 24 hingga 30 Juni 2026. Bagi petani, tren penurunan ini menjadi sinyal bahwa pendapatan dari hasil panen masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian pasar minyak sawit. (ria)