Kunjungan Wisatawan ke Riau Naik 22,56 Persen, Malaysia Masih Mendominasi

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Fitri Hariyanti menjelaskan kunjungan wisatawan ke Riau meningkat. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Aktivitas pariwisata di Riau menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Juni 2026 mencapai 24.585 kunjungan, meningkat 22,56 persen dibandingkan Mei 2026 dan tumbuh 0,90 persen dibandingkan Juni 2025.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa mobilitas wisata lintas negara menuju Riau mulai menguat. Selain menopang sektor pariwisata, pertumbuhan kunjungan wisatawan juga berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan, transportasi, perhotelan hingga usaha mikro yang bergantung pada belanja wisatawan.

Data tersebut disampaikan BPS Provinsi Riau dalam Berita Resmi Statistik yang dipublikasikan di Pekanbaru, Senin (3/8/2026).

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Fitri Hariyanti, menjelaskan dari total kunjungan tersebut, sebanyak 6.081 wisatawan tercatat masuk melalui empat pintu pemeriksaan imigrasi utama. Sementara 18.504 kunjungan lainnya dihitung menggunakan Mobile Positioning Data (MPD) yang kini digunakan sebagai pelengkap statistik pergerakan wisatawan.

BACA JUGA :  Pemprov Riau Kembali Gelar Operasi Pasar Murah Riau di Pekanbaru dan Kampar, Simak Jadwalnya

Berdasarkan pintu masuk resmi, Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru masih menjadi gerbang internasional terbesar dengan 2.803 kunjungan. Posisi berikutnya ditempati Pelabuhan Dumai sebanyak 1.289 kunjungan, disusul Pelabuhan Bengkalis sebanyak 1.092 kunjungan, dan Pelabuhan Tanjung Harapan, Kepulauan Meranti sebanyak 897 kunjungan.

Dominasi Bandara Sultan Syarif Kasim II menunjukkan jalur udara masih menjadi salah satu akses penting bagi wisatawan internasional menuju Riau, meski secara keseluruhan jalur laut tetap menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan.

BPS mencatat wisatawan asal Malaysia masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan ke Riau dengan 13.557 kunjungan atau sekitar 55,14 persen dari total wisman.

Jumlah tersebut menunjukkan kedekatan geografis, hubungan ekonomi, hingga konektivitas transportasi antara Riau dan Malaysia masih menjadi faktor utama tingginya mobilitas masyarakat kedua wilayah.

Setelah Malaysia, wisatawan asal Tiongkok tercatat sebanyak 2.080 kunjungan, diikuti Filipina sebanyak 1.343 kunjungan, Singapura sebanyak 687 kunjungan, dan India sebanyak 509 kunjungan.

BACA JUGA :  Pemprov Riau Kembali Gelar Operasi Pasar Murah Riau di Pekanbaru dan Kampar, Simak Jadwalnya

Dilihat dari moda transportasi, 53,91 persen wisatawan memasuki Riau melalui jalur laut, sedangkan 46,09 persen menggunakan transportasi udara.

Komposisi tersebut memperlihatkan pelabuhan internasional di wilayah pesisir Riau masih memiliki peran strategis dalam mendukung arus wisatawan, terutama dari negara-negara tetangga di kawasan Selat Malaka.

Peningkatan kunjungan wisatawan juga menjadi indikator penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Belanja wisatawan selama berada di Riau dapat memberikan efek berganda terhadap sektor hotel, restoran, transportasi, perdagangan hingga industri kreatif lokal.

Bagi pemerintah daerah, tren kenaikan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat promosi destinasi wisata, memperbaiki konektivitas antardaerah, serta meningkatkan kualitas layanan pariwisata agar lama tinggal wisatawan terus meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat dan daerah juga terus mendorong digitalisasi data statistik pariwisata. Penggunaan Mobile Positioning Data memungkinkan pergerakan wisatawan dipantau lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan data pintu masuk imigrasi.

BACA JUGA :  Pemprov Riau Kembali Gelar Operasi Pasar Murah Riau di Pekanbaru dan Kampar, Simak Jadwalnya

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan sektor pariwisata yang lebih tepat sasaran.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Riau, Supriyadi, menyatakan data statistik yang dirilis BPS menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam menyusun program pembangunan.

Menurutnya, data yang akurat diperlukan agar kebijakan pengembangan sektor pariwisata mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan investasi serta pembukaan lapangan kerja di Riau. (mcr)