SIAK, FOKUSRIAU.COM-Pemerintah Kabupaten Siak kembali menggelar tradisi Ghatib Beghanyut pada 13 Agustus 2026. Prosesi budaya Melayu yang berlangsung setiap 29 Safar itu, kini sudah memasuki tahap pematangan teknis, termasuk pengamanan rangkaian kegiatan yang melibatkan sejumlah instansi.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak dan Dewan Kesenian Siak menyiapkan pelaksanaan tradisi tersebut dengan mengusung tema “Menolak Bala, Menjemput Tuah.”
Rangkaian Ghatib Beghanyut tahun ini akan dimulai dengan ziarah ke sejumlah makam tokoh Kesultanan Siak sebelum dilanjutkan dengan prosesi utama di Sungai Siak pada malam hari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, Mahadar mengatakan, persiapan teknis telah dibahas bersama panitia dan instansi terkait. Salah satu perhatian utama adalah memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman dan khidmat.
“Pelaksanaan Ghatib Beghanyut tahun ini akan dilaksanakan pada 13 Agustus, diawali dengan ziarah ke makam Sultan di empat titik,” kata Mahadar dalam rapat persiapan di Zamrud Room, Kompleks Rumah Rakyat, Jumat (7/8/2026).
Dikatakan, rangkaian ziarah ditargetkan selesai sebelum waktu Zuhur sehingga kegiatan dapat berlanjut sesuai tahapan yang telah disusun.
Empat lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian ziarah tersebut yakni Makam Raja Kecil di Buantan, Makam Tengku Buang Asmara dan Sultan Ismail di Mempura, Kompleks Makam Koto Tinggi, serta Makam Sultan Syarif Qasim II.
Setelah ziarah, rangkaian tradisi dilanjutkan dengan prosesi Ghatib Beghanyut pada malam hari di Sungai Siak.
Tradisi Melayu yang Dipertahankan
Ghatib Beghanyut merupakan salah satu tradisi masyarakat Melayu Siak yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kalender budaya daerah, tetapi juga berkaitan dengan nilai spiritual dan adat yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam para Sultan Siak dan Ghatib Berjalan sebelum memasuki prosesi utama Ghatib Beghanyut.
Tradisi tersebut dimaknai sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT, menolak bala, sekaligus mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya Melayu yang menjadi bagian dari identitas Siak.
Karena itu, pelaksanaan Ghatib Beghanyut tidak hanya menyangkut kesiapan seremoni. Prosesi yang berlangsung di sungai juga membutuhkan pengaturan teknis dan keselamatan yang lebih ketat dibandingkan kegiatan budaya yang berlangsung di daratan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam rapat persiapan yang digelar Pemkab Siak. Panitia menyempurnakan tata tertib dan tata cara pelaksanaan, sekaligus membagi tugas bagi imam atau khalifah, petugas keamanan, tenaga medis, petugas kebersihan dan unsur pendukung lainnya.
Pengamanan Sungai Jadi Perhatian
Aspek keselamatan menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan Ghatib Beghanyut tahun ini. Sejumlah unsur akan dilibatkan untuk mengantisipasi persoalan teknis selama prosesi berlangsung di Sungai Siak.
Pengamanan melibatkan Polri, Polisi Air, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pos TNI AL (Posal), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta instansi terkait lainnya.
Mahadar meminta personel pendukung ditempatkan pada titik-titik yang dianggap rawan, terutama ketika peserta mulai memasuki kawasan perairan.
Ia juga mengingatkan agar peserta yang mengikuti prosesi di sungai menggunakan perlengkapan keselamatan, termasuk pelampung.
Menurutnya, kesiapan personel dan peralatan keselamatan harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung tanpa mengabaikan aspek keamanan.
“Kalau ada hal-hal teknis terjadi, mohon nanti personelnya disiapkan di titik-titik rawan. Saat ke air nanti pakai pelampung atau perlengkapan keselamatan lainnya,” ujarnya.
Berpotensi Perkuat Pariwisata Siak
Di luar nilai ritual dan pelestarian budaya, Ghatib Beghanyut juga dipandang memiliki potensi untuk memperkuat daya tarik wisata Kabupaten Siak.
Siak selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura. Keberadaan kompleks makam para Sultan, Istana Siak dan berbagai tradisi Melayu menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya.
Mahadar berharap pelaksanaan Ghatib Beghanyut tidak berhenti sebagai agenda ritual tahunan, tetapi juga mampu menarik perhatian wisatawan yang datang ke Siak.
Dikatakan, harapan agar tradisi tersebut dapat memberikan manfaat tambahan bagi pengembangan pariwisata daerah.
Dengan demikian, Ghatib Beghanyut tahun ini memiliki dua dimensi yang berjalan beriringan: mempertahankan warisan budaya masyarakat Melayu Siak sekaligus membuka ruang bagi penguatan sektor pariwisata berbasis tradisi dan sejarah.
Pemkab Siak kini mematangkan seluruh persiapan menjelang pelaksanaan pada 13 Agustus 2026. Fokus utama diarahkan pada kelancaran rangkaian ziarah, prosesi Ghatib Beghanyut di Sungai Siak, pembagian tugas panitia serta kesiapan pengamanan dan keselamatan peserta. (bsh)






